Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Janin


__ADS_3

Sepanjang jalan Bela tampak marah dan kesal dengan memasang wajah cemberutnya. Sementara Maura tampak sesekali menggoda Bela dengan meledek Bela.


"Enak dong es cream gosong, pasti mahal harganya 'kan?" goda Maura.


"Au ah, kayaknya seneng banget Loe lihat hidup gue menderita heh?" ketus Bela sambil sedikit mendorong tubuh Maura. Maura yang di dorong pun tertawa kecil. Tak terasa mereka sudah sampai di kafe Mami.


"Maura! Tuh Loe di cari in Mami," ucap Rekan kerjanya yang lain.


"Oh, gawat, jangan jangan Mami tau, kalau aku sedang keluar," ucapnya, Dia pun bergegas masuk ke dalam kafe dan terus masuk ke dalam menuju ruangan Mami.


"Ada apa Mi Lin?" tanyanya.


"Berani sekali kau keluar tanpa izinku heh, aku 'kan sudah bilang, kau di larang pergi, karena kau sudah menjadi milik Aufan, kenapa kau tak mendengarkan ku heh?" Mami Lin pun mencengkram pergelangan tangan Maura. Maura pun meringis menahan perih di tangannya ka1rena terkena goresan kuku Mami Lin.


"Mami, aku yang salah, aku yang mengajaknya keluar," Bela membela Maura dan menarik tangan Mami Lin.


"Berapa orang yang kalian layani malam ini! Sini uangnya! Cepet!" bentaknya.


"Cuma satu Mi, itu pun aku yang layanin, Maura hanya duduk manis beli gorengan," ucap Bela.


"Bohong, mata-mata Aufan melihat Maura sedang bersama lelaki tampan, sekarang mana uangnya?" ucap Mami lagi ketus.


"Nggak ada Mi, ini cuma 100," Bela menyerahkan uang 100 ribu ke Mami Lin.


"Kalian 'kan pergi lama, masa dapat cuma segini? Sini!" Mama Lin menggerayangi tubuh Bela menggeledah tas Maura dan Bela, namun tidak menemukan uang, yang ada hanya beberapa puluh ribu, kembalian naik taksi.


"Ingat! Jangan pernah pergi tanpa sepengetahuanku lagi," ucap Mami Lin sambil pergi meninggalkan kamar Maura.


"Baik Mi," sahut Bela dan Maura.


Maura pun duduk di sisi ranjang dengan wajah masam. Sementara Bela juga ikut duduk di samping Maura dan mengeluarkan Hpnya.


"Lihat!" Bela memperlihatkan notifikasi dari Sms banking nya.


"10juta? Gemoy itu memberimu 10 juta?" Maura kaget dan tersenyum lebar, walau itu uang temannya, namun Dia juga bahagia.


"Iya untung saja," sahut Bela lega.


"Bagaimana bisa dia memberimu uang sebanyak itu?" heran Maura.


"Dia ingin aku kayak makan Ez cream itu, ya... Aku ajuin aja syaratnya. Eh Dia malah setuju dan langsung TF 10 juta ke rekeningku," ucapnya.


"Waaah, hebat."

__ADS_1


"Hebat apaan, mulutku rasa kram tau, eh, apa kamu jadi pergi dari sini, biar aku pinjamin uang, mungkin sudah cukup 'kan?" ucap Bela.


"Aku takut kalau nanti malah tidak bisa membayarnya padamu," ucap Maura.


"Aaaaah, santai saja, aku percaya kok sama kamu, besok atau kapan nih?nanti kalau Aufan ke mari, biar aku yang ngomong langsung," ucap Bela lagi.


"Aku harus pikirkan malam lagi, udah ah, aku mau tidur dulu," ucap Maura.


Bela pun pergi meninggalkan Kamar Maura Maura yang sangat mengantuk akhirnya tertidur pulas.


"Fan... Jangan kasar-kasar sakit," ucap Maura, ketika Aufan menindihnya kasar dan arogan.


"Kamu harus rasain pembalasanku, kamu berani seenaknya pergi ke mana kau mau heh? Aku sudah bilang, aku sudah mentransfer gaji mu ke ATM mu, kenapa kau malah mencari pekerjaan lain, aku sudah bilang, aku tidak suka lobang semut, satu lobang di masukin beribu-ribu benda," ucapnya lagi dengan terus bermain kasar.


"Aduuuh, sakiit," Maura meringis.


Apakah Maura berminpi?


***


"Uaaaah," Maura tampak terbangun dan merasa sesak karena ada yang menghimpitnya.


"Sesak banget, apaan ini...?- Maura pun menoleh kebelakang nya.


Maura pun berdiri keluar dari selimut.


"Aaa, up," Maura berteriak kaget, namun langsung membekap mulutnya sendiri.


"Berarti tadi malam aku tidak bermimpi dooong, kalau kami sedang ber cin ta? Isssshh lelaki ini kurang ajar sekali, bahkan aku tidur pun di gera yangi, dan dia juga bermain kasar sekali. Aduuuh periiih," Maura pun berdiri dsn mencari baju ganti masuk kamar mandi. Ketika akan menutupnya.


Bruk.


"Au," pekik Maura kaget.


"Kau pergi ke mana malam tadi tadi heh?" kembali Aufsn menarik tangan Maura dan menatap wanita yang te lan jang bu lat itu tajam.


"Aku cuma bosen dan cari cemilan doang kok," ucapnya.


"Bohong, Kau pasti mencari buaya 'kan? Heh? Aku sudah membayar mu beserta bonus mingguan, tapi mengapa kau masih keras kepala dan melawan heh?"


Aufan menghempaskan cengkraman tangannya, hingga Maura jatuh ke lantai kamar mandi.


"Aduh," ringis Maura kesakitan, saat pantatnya mendarat sempurna di lantai kamar mandi.

__ADS_1


"Ingat! Ini peringatan terakhirku padamu," ucapnya.


Aufan pun pergi meninggalkan Maura tanpa memperdulikan Maura yang kesakitan, Aufan memunguti bajunya satu persatu, memasangnya dan pergi meninggalkan kamar Maura begitu saja, dia juga tidak lupa meletakkan beberapa lembar uang di atas ranjang Maura sebagai bayaran. Sementara Maura di kamar mandi memegangi perutnya yang mules.


"Aduuuh, Tolong... sakit!" ucapnya, suaranya yang pelan tidak bisa di dengar orang lain. Dia pun ngesot ke kamar untuk mengambil HPnya.


Nama pertama yang dia telepon adalah Aufan. Beberapa kali menelepon namun tak ada jawaban, hingga akhirnya Dia menelepon Bela.


Brak


"Maura!" teriak Bela kaget.


"To...lo...ng...." Maura pun ambruk.


"Darah, kenapa banyak darah?" Bela pun segera memanggil Mami, dan membawa Maura ke Rumah sakit.


"Mi, bagaimana ini? Kenapa Maura berdarah? Apakah dia datang bulan?" tanya Bela sepanjang jalan menuju Rumah Sakit, Bela sangat khawatir, karena Dia merasa, Maura adalah Saudaranya sendiri.


"Mana aku tau, tadi malam Aufan datang jam 1 malam," ucap Mami.


"Jam 1 malam? Apakah Dia marah karena Maura ku bawa keluar?" tanya Bela.


"Sangat, Dia sangat marah, ke sini pun dia langsung masuk kamar Maura tanpa menutup pintu, melepas semua pakaian Maura yang sedang terlelap tidur, sampai aku yang di beritahu Zuba kaget, lalu akulah yang ke sana menutup pintu mereka yang sedang asoy geboy, ish, mataku ini," ucap mami kesal.


"Masa Mi? Trus siapa yang melihat mereka lagi nganu Mi?" Bela penasaran.


"Ya semua orang yang lewatlah, memang keterlaluan Aufan, Maura katanya nggak juga nutup pintu, kayak mereeem gitu, keenakan mungkin," ucap Mami sambil tertawa geli.


"Masa Mi, aku nggak yakin, pasti Aufan yang bikin Maura nggak nisa gerak," ucap Bela, membela Maura.


"Entahlah."


Mereka pun sampai di Rumah sakit terdekat. Maura di bawa ke Ruang perawatan. Langsung di sambut perawat yang jaga, setelah di pasangkan infus dan di cek kenapa sampai ada darah di sana.


"Kalian keluarga pasien Nona Maura?" ucap Seorang perawat.


"Iya Saya... Mi biar saya saja, Mami diam di sini saja ya!" ucap Bela.


Bela pun mengiringi perawat menuju ruangan sebelah.


"Duduklah... Maaf sebelumnya, kenapa dia sampai jatuh? ini sangat berbahaya bagi keselamatan janin yang di kandungnya,"


Dooor

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2