Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Meninggalkan Pergi


__ADS_3

Irlangga yang menyaksikan adegan tersebut pun menjadi bingung, untuk beberapa saat Irlangga hanya menyaksikan adegan yang ada di depannya tersebut sementara Alin tidak tahu apa yang harus dia lakukan, bayi yang di gendongan Maura pun kini mulai menangis, karena merasa sesak sebab pelukan Aufan dan Dito.


"Lepaskan!" bentak Maura.


"Apa yang kalian lakukan!?" bentak Irlangga.


Mendengar bentakan dari apa Irlangga tersebut, akhirnya Dito dan Aufan pun melepaskan pelukannya.


"Papa, dia anak Bu Winar Pa, Dia anak Bu Winar! anak Ibuku Pa!"ucap Aufan sambil memegang pundak Maura, sementara Maura menjadi bingung.


"Apa maksudmu Tuan? Winar? Siapa dia? Siapa Winar itu?" tanya Maura heran.


"Sayang, kau adalah anakku, kau anakku! Maura," ucap Dito.


Kemudian dia pun kembali memeluk Maura, samnil terus menangis.


"Paman, Ada apa ini? aku anakmu? Dari mana kau tahu, kalau aku ini anakmu?- tanya Maura heran.


" Lihat foto ini! Ini punyamu kan?" tanya Aufan.


"Iya, liontin itu memang punyaku, tapi apa hubungannya dengan kalian? Maura, lihat ini! ini adalah bibi yang bekerja di rumah kami, sekalagus Dia adalah ibu yang pernah merawat ku sejak kecil, ini adalah foto yang kami simpan, foto kenang-kenangan terakhir sebelum beliau meninggal," ucap Aufan.


"Maksud kalian? Ibuku pernah bekerja di rumah kalian?" tanya Maura.


"Iya, bukan itu saja, dan dia adalah ayahmu," ucap Aufan.


"Ayah? tidak! aku tidak mengerti? tolong jelaskan, kalau aku punya ibu dan punya Ayah, kenapa aku berada di Panti Asuhan?" tanya Maura.


"Di panti asuhan? Kai diam di Panti Asuhan? Panti Asuhan mana?" tanya Dito.


"Panti Asuhan penuh cinta, kata ibu panti, aku ditemukan di depan Panti Asuhan, dengan liontin itu, saat aku ditemukan di depan panti, terlihat aku baru berusia kurang lebih 10 atau 15 hari, aku tidak tahu siapa yang membuang ku ke sana? namun Sejak saat itu, aku diam di Panti Asuhan, hingga aku berusia 23 tahun. Tapi kenapa kalau kalian menyangka kalau aku ini adalah anak Pembantu kalian dulu?" tanya Maura.


"Tunggu! Jadi maksudnya, Maura adalah anak Winar? dan ..., Aufan, kau sudah mengetahui ini?" tanya sang Papa.


"Ya Pa, saat aku putus asa mencari Maura, kemudian aku masuk ke dalam kamar tamu, yang pernah didiami Maura, tak sengaja aku menemukan liontin ini, aku pun kaget saat melihat foto yang ada di dalamnya, bernama Maura. Aku mencari foto Bibi yang pernah kita simpan, dan aku menemukannya, dan foto ini persis sama, Lihatlah Pa!"


Pa Irlangga pun mendekat dan menetap kedua foto itu bergantian.


"Maura, Apakah benar ini milikmu?" tanya Irlangga.


"Bener Pa, liontin itu milikku, saat aku dibuang, kata ibu panti, aku menggunakan kalung itu," ucap Maura.


"Jadi kau adalah menantu, sekaligus keponakanku? ucap Irlangga semakin terheran-heran.

__ADS_1


Semua yang ada di ruangan itu pun terdiam, tanpa disangka, akhirnya Pa Irlangga mendekat dan membelai penuh kasih sayang kepala Maura.


" Maafkan Papa Maura, Papa tidak tahu semua ini, Papa tidak bisa melindungi mu sejak dahulu, Paap sekaligus Pamanmu ini tidak bisa menemukanmu saat kau hilang duli," ucap Irlangga sambil menangis penuh oenyesalan.


"Hilang? Maksud Papa?" tanya Maura heran.


"Ya, kau du culik di rumah kami saat itu, Kami sudah mencari mu ke mana-mana, namun kami tidak bisa menemukanmu, di mana-mana."


Irlangga terus menangis, dia merasa sangat semakin bersalah setelah tau, dia adalah keponakannya sendiri.


"Maafkan Ayah juga Maura, Ayah adalah orang yang tidak bertanggung jawab, saat kau hilang dari rumah saat itu, Ayah sedang di Luar Negeri, karena melarikan diri dari kenyataan," ucap Dito.


"Apa maksudmu Tuan? melarikan diri?" tanya Maura.


"Saat itu, dia mencintai ibumu, dia sudah berulang kali membujuk untuk memulai hubungan, namun ibumu tetap menolak. hingga akhirnya dia menjebak ibumu dengan memberi obat bius, kemudian menggauli ibumu, hingga akhirnya...." ucap Irlangga, tak mampu meneruskan.


"Apa? Apa maksudnya dia menggauli ibu sampai hamil? keterlaluan kalian! paman dan ponakan sama-sama bej*at!" tiba tiba Maura mencaci perlakuan ayahnya dan juga Aufan.


"Maura tunggu dulu! Saat itu...."


"Kalian tidak punya hati nurani, kalian berdua sama, sama sama be*jat!" ketus Maura lagi.


Maura melepaskan pelukan Irlangga dan menjauhinya.


"Tidak! tidak ada yang perlu diperbaiki! semuanya sudah jelas, paman dan ponakan sama beja*tnya!" Ketus Maura berapi-api.


"Maura, maafkan ayah, ayah tidak sengaja, Ayah tidak bermaksud ..., saat itu Ayah masih sangat muda, sampai saat ini Ayah belum menikah Maura, itu karena Ayah merasa sangat berdosa dengan mu dan Ibumu, Ayah merasa bersalah kepada ibumu, sungguh! Maafkan Ayah," ucap Dito memohon pengampunan Maura.


"Tidak! silahkan kalian keluar dari ruangan ini! aku tidak mau melihat kalian berdua! Pergilah!" bentak Maura.


Kemudian dia pun berpaling membelakangi Aufan dan Dito, sementara Irlangga yang menyaksikan semua itu pun merasa sangat terpukul saat melihat Maura kembali terluka.


Kali ini pasti Maura akan merasa sakit hati dan terpukul, atas kenyataan yang menimpanya di masa lalu. sedangkan Pak Irlangga tidak bisa berbuat apa-apa.


"Aufan dan Dito, Pergilah! jangan membuat Menantuku sedih lagi, biarkan semua ini tenang dulu, biarkan Maura tenang," ucap Irlangga.


"Papa, tolong Papa, aku sungguh menyesal. aku sangat menyayangi bu Winar, aku pun bersumpah akan mencari anaknya, namun sekarang aku sudah menemukannya, bagaimana mungkin aku meninggalkannya kembali, Pa, tolong bujuk Maura untukku, aku akan bersimpuh dan mencium kakinya, asal dia mau menerimaku Pa!" ucap Aufan sambil menangis.


"Pergilah! sebelum Maura membenci kalian berdua," ucap Irlangga lagi.


"Anak kembar ku, aku pasti sangat merindukannya Pa, Pa, tolong bujuk dia!" paksa Aufan.


"Iya kakak, aku juga ingin bersama cucuku, Kakak, tolong aku juga, Maura, maafkan Ayah," pinta Dito juga.

__ADS_1


"Kalian penipu! untuk mendapatkan apa yang kalian inginkan, kalian tega berbuat kotor!" ketus Maura dalam tangis.


"Pergilah Dito dan Aufan, pergi!" bentak Irlangga juga.


Irlangga bahkan mendorong keluar mereka berdua dari ruangan itu, keduanya pun terpaksa meninggalkan kamar itu, setelah mereka keluar, pintu pun dikunci.


Maira terduduk di lantai. dia pun meletakkan bayinya karena merasa tidak kuat lagi untuk menggendongnya. Tentu saja hatinya sangat sakit, bagaimana bisa keadaan ibunya dulu sama dengan dirinya, di perko*sa dan hamil. sama-sama dengan nasib yang sama, hamil diluar nikah, karena telah dicekoki minuman obat bius oleh paman dan ponakan, yang memiliki satu darah.


"Maura, Maafkan Papa, Papa tidak bisa menolong mu saat itu, Papa berjanji akan melindungi mu, apapun yang kau minta, papa akan mengabulkannya, asal kau tidak memisahkan Papa dari cucu-cucu papa," ucap Irlangg.


"Aku sungguh sangat menyesal, kenapa aku hadir di dunia ini? kenapa aku berhadapan dengan orang-orang yang jahat seperti itu, Pa?" ucap Maura.


Maura mengusap lembut pipi Rayyan penuh kasih sayang, dan juga Raihan.


"Kalian jangan sampai menyakiti hati seorang perempuan, kalian harus memuliakannya, jangan sampai kelakuan ayahmu menular padamu," ucap Maura, sambil terus menangis.


Alin yang menyaksikan itu pun ikut menangis, begitu juga kedua baby sitter pun ikut meneteskan air matanya.


"Sayang ..., sekarang, apa yang kau inginkan?" tanya Irlangga.


"Pa, aku ingin kembali ke panti asuhan. Aku ingin diam di sana saja Pa, tapi aku mohon, rahasiakan dari Aifan dan juga Tuan Dito. Aku tidak ingin bertemu mereka untuk saat ini." ucap Maura.


"Baiklah kalau itu kemauan mu. Aku akan mengantar kalian, tapi mungkin tidak hari ini, karena hari ini pasti Aufan atau pun Dito sedang mengincar keberadaan mu, mungkin saja mereka mengintai agar bisa tetap bertemu denganmu," ucap Irlangga.


"Kalau begitu, aku harus mencari jalan lain Pah. Bagaimana kalau Papa lewat jalan depan, dan kami akan berangkat lewat jalan belakang, mencari taksi saja, agar tidak ada kecurigaan, sekarang juga," ucap Maura.


"Baiklah, kalau begitu, untuk rekening aku sudah memberikannya pada Alin. Jadi kamu bisa mengambil lewat situ ya Nak! nanti kalau Papa ingin bertemu dengan si kembar. Kita akan menyusun strategi, agar mereka tidak bisa menemukanmu," ucap Irlangga.


"Baik Pa, terima kasih banyak atas kebaikan papa."


Akhirnya Pa Irlangga pun turun meninggalkan Hotel. Sementara Maura dan Alin pun juga turun lewat pintu belakang.


Benar saja, ternyata Dito dan Aufan sedang menatap mobil Pak Irlangga dari jarak yang sangat jauh, namun sayang, mereka berhasil dikecoh dengan strategi Maura.


Bersambung


Mari mampir di karya teman aku


Napen : Rya Kurniawan


Judul : Doctor and Love


__ADS_1


__ADS_2