
Door
Maura kaget bukan kepalang, dadanya terasa di hantam oleh ribuan paku yang menusuk.
"Me... Menikah?" ulangnya.
"Ya, selamat tinggal,"
Aufan berjalan menuju pintu dan menghilang begitu saja.
Bruk
Maura terduduk lunglai di lantai kamarnya. Air matanya kini mengalir, pupus sudah harapannya untuk memberitahukan keadaannya yang sebenarnya. Di elus nya perut yang masih datar itu lembut.
"Sayang, maafkan mama, mama tidak bisa mempertemukan mu dengan papamu Nak, maafkan mama," lirihnya.
Kenangan demi kenangan bersama Aufan kini terbayang di pikirannya, bagaimana Dia berbagi kemesraan walau sesaat bersama lelaki itu. Lelaki yang tidak pernah Dia tau dari mana dan bekerja sebagai apa.
"Aku harus bagaimana? Apakah aku harus pergi? Oke, aku harus pergi dari sini, toh, Dia tidak akan pernah kembali lagi 'kan? Oh iya, aku akan menelepon lelaki malam itu, di mana kartu namanya ya?"
Maura pun membongkar tasnya dan mencari kartu nama seseorang, lelaki tampan yang dia temui saat makan Seomay.
"Ibrahim, namanya Tuan Ibrahim," lirihnya.
Maura pun menelepon nomor tersebut, namun tidak di angkat. Doa meninggalkan pesan singkat. Maura merapikan pakaiannya, membuatnya dalam koper, membawa barang yang menurutnya penting dan memasukkan barang ketempat sampah yang sudah tidak terpakai.
"Maura! Kau mau ke mana?" tanya Bela yang tiba-tiba datang.
"Bela, aku ingin istirahat, aku akan pergi dari sini, aku akan pensiun," ucapnya.
__ADS_1
"Apa kau sudah mengatakannya pada Aufan tentang bayimu?" tanya Bela.
"Tidak," jawabnya.
"Kenapa? Dia juga harus tau 'kan, walau kemungkinan Dia menerima itu kecil," ucap Bela.
"Dia tidak akan datang ke mari lagi mulai malam besok," sahut Maura.
"Kenapa? Apa kalian bertengkar?" tanya Bela.
"Tidak, Dia akan menikah minggu depan," ucap Maura.
"Ha? Menikah? Jadi...?"
"Ya, aku sudah tidak ada harapan lagi, aku tidak mungkin mengatakan ini padanya, aku hanya Wanita satu malamnya saja, tak lebih dari itu," ucap Maura.
Maura pun menghentikan aktifitasnya dan duduk bersandar di dinding kamar. Dia menangis sambil menutupi wajahnya.
"Aku takut Bel, aku sangat takut kalau Dia menolak anak ini, lebih baik aku merawatnya sendiri," ucap Maura.
"Kenapa kau takut sebelum berperang, setidaknya Dia tau apa yang terjadi padamu, bahwa kau sudah mengandung anaknya, mungkin saja suatu hari nanti Dia akan mencari mu Ra!" bujuk Bela.
"Bela, mohon rahasiakan ini dari siapa pun, aku akan pergi jauh membawa anak ini, aku janji, akan merawatnya dengan baik, kau harus percaya padaku Bel, aku akan baik-baik saja, dengan tabunganku selama ini, aku akan merawatnya Bel," ucap Maura lagi.
"Maura... "
Bela dan Maura pun saling berpelukan dan sama-dama menangis. Maura meluapkan semua isi hatinya hanya dengan menangis, saatnya Maura pamitan dengan semua teman-teman yang bekerja di kafe tersebut, mereka semua menangis, Sisil pun yang kadang suka marah sama Maura menangis, kebersamaan selama 2 bulan ini, sangat berbekas di hati mereka.
"Kalau kau nanti sukses , ajak aku bekerja di perusahaan mu ya Ra!" ucap salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Aamiin, iya, aku pasti ingat kalian semua. Doakan aku juga, agar aku bisa bertahan dan kuat di luar sana" ucapnya.
"Maura... Aku pasti sangat merindukanmu, jangan lupakan aku ya Ra!" ucap Bela sambil terus memeluk Maura.
"Iya, aku janji kok, nanti aku pasti mengunjungimu ke mari, atau nanti aku akan menjemputmu untuk keluar dari sini, aku janji," ucapnya.
"Baiklah Ra, selamat jalan," ucap Bela lagi.
Dengan berderai air mata Bela pun melepaskan pelukannya.
Setelah saling do'a mendo'akan, Maura pin menaiki taksi dan pergi meninggalkan tempat terlarang itu, tanpa tau arah tujuannya. Ketika Hp Maura berdering.
"Ibrahim," lirihnya.
Senyum mengembang di bibirnya, ada harapan yang terpancar di wajahnya. Maura pun memasuki sebuah,taksi yang sudah di pesannya lewat online. Matanya memandang lurus ke depan, namun air matanya teyao mengalir, hatinya pun masih terasa sakit.
"Aufan... Kau akan menikah, heh, siapa aku ini? Aku hanya wanita satu malam mu, tak lebih," lirihnya.
Maura kembali menangis. Di belainya perut itu lembut. Suara tangisnya pun tambah nyaring.
"Nona ada masalah?" tanya Sopir.
"Tidak Pak."
"Sebentar Non ya, aku mau beli rokok," ucap supir.
Maura pun mengangguk. Tak jauh dari Maura berhenti, ternyata Aman juga ada di situ.
"Maura? Bukankah itu Maura? Mau ke mana Dia? Kok sendirian dan tampak menangis gitu sih?" ucap Aman Asisten Aufan.
__ADS_1
Supir sudah kembali, mobil Maura pun berjalan menjauh meninggalkan Kafe. Sementara Aman hanya memandangi kepergian mobil Maura dari kejauhan.
BERSAMBUNG...