Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Aufan Tersadar


__ADS_3

Aufan masuk ke dalam kamarnya, dan menutup pintu lalu menguncinya dari dalam. Dia tidak membiarkan Vena masuk ke dalam kamar itu, kini Aufan benar-benar marah, dia pun kemudian menghempaskan tubuhnya di ranjang, seraya mengambil handphonenya dan menetap layar itu.


Entah mengapa, tiba-tiba saja dia mengingat satu nama yaitu Maura.


"Sebenarnya, siapa Maura itu? kenapa Aku sama sekali tidak bisa mengingatnya? aduh semakin aku berusaha mengingatnya, kepalaku rasanya semakin sakit." gumamnya.


Dia kembali berpikir keras. Sambil geleng-geleng kepala karena merasa ada semut yang menari-nari di sana.


"Tapi Papa bilang? Maura adalah orang yang sedang mengandung anakku? namun Vena bilang, dia adalah wanita yang mengaku-ngaku telah hamil karena aku, dan dia hanya berpura-pura karena ingin warisan dari papaku, jadi Siapa sebenarnya yang harus aku percayai? kenapa Maura menghilang? Oh ya aku akan mencari nomor yang sering aku hubungi,"


Kemudian Aufan pun membuka kontak hp-nya, dan mencari panggilan keluar.


"Kenapa panggilan keluar ini sangat banyak bernama Aman? Apakah benar Aman si ceking itu adalah jongo*sku? ini juga ada nama Lira, siapa Lira?" gumamnya.


Sementara Vena di luar terus memanggil Aufan, dan menggedor pintu kamar Aufan tanpa henti.


Kemudian dia menghubungi nomor yang bernama Aman, tak berapa lama terdengar suara Aman di seberang sana.


"Hello Bos, ada apa? Apakah kau sudah mengingatku kembali?" Sahut Aman saat dia mengangkat telepon dari Aufan.


"Aman, Aku ingin bertemu denganmu, apa kau bisa ke rumahku sekarang?" tanya Aufan.


"Tentu saja Bos, apapun pasti akan aku lakukan untukmu," ucap Aman.


"Baiklah ..., segera kau kemari ya!" tifah Aufan.


Sementara Vena masih menggedor-gedor pintu Aufan, namun Aufan tetap tidak menghiraukannya, setelah 1 jam, suara gedoran di pintu Aufan pun terhenti perlahan, dan akhirnya brnar-benar diam, mungkin Vrna sudah lelah.


Aufan pun bangun dan berjalan ke depan pintu, perlahan membuka pintu, dia melihat Vena sedang berbaring di depan pintunya, mungkin karena kelelahan menggedor-gedor pintu, dan akhirnya dia pun tertidur.


Dengan sangat hati-hati Aufan pun menutup pintu, dan menguncinya dari luar, Aufan benar-benar tidak ingin melihat wanita itu masuk ke dalam kamarnya, perlahan Aufan lin pergi meninggalkan loteng, untuk menemui Ama.


Aufan sudah berada di teras rumahnya. Tampak Aman pun datang dan berjalan memxekati Aufan.


Kau pakai apa ke mari?" tanya Aufan.


"Aku pakai mobil Bos itu," ucap Aman.


Akhirnya mereka berdua pun pergi meninggalkan rumah tersebut.


"Antarkan Aku ke Apartemen lama," ucap Aufan.


"Ha? Emang Bos sekarang sudah ingat?" heran Aman.


"Aku mengingatnya sekilas, oh iya, aku lupa meminum obatku siang ini, karena masalah sekarang ini, namun entah mengapa, bayangan tentang masa laluku berseleweran di kepalaku," ucap Aufan.


"Benarkah Bos? Atau jangan-jangan Vena telah mengganti obatmu? dengan yang palsu?" ucap Aman.

__ADS_1


Aman pun membawa Aufan menuju Apartemen lamanya tersebut. Aufan sesekali memijet kepalanya yang terasa pening.


"Emang sudah lama ya aku punya Apartemen itu?" tanya Aufan.


"Iya Bos, itu sebenarnya Apartemen rahasia Tuan Bos, namun kemaren itu Papa Bos juga Maura sudah tau kok," ucap Aman.


"Maura juga tahu tempat itu? sebenarnya siapa Maura itu? beberapa jam terakhir ini, dia sering berkelebat di otakku, di pikiranku, bahkan ah entahlah," ucap Aufan.


"Dia itu adalah istrimu, istri yang baru kau nikahi, dan sekarang dia sedang mengandung anakmu," ucap Aman.


"Jadi benar, dia sedang mengandung anakku? Tapi ..., di mana sekarang Maura? Apakah kau bisa mencarikan nya untukku?" tanya Aufan.


"Maafkan aku, Tuan Bos, aku tidak tahu di mana Maura," sahut Aman.


"Tapi apakah kau bisa mencarinya untukku?" desak Aufan lagi.


"Maafkan aku, Bos, bagaimana bisa aku mencarinya di kota yang sebesar ini, bahkan nomor teleponnya saja aku tidak punya, mungkin saja sekarang dia sudah ada di luar kota, atau bahkan di Luar Negeri," ucap Aman.


"Aman, tolonglah, aku harus bertemu dengannya, mungkin dengan bertemu dengannya, aku bisa mengingat sesuatu," ucap Aufan lagi.


"Emangnya apa yang kau lakukan pada Maura, sehingga dia pergi meninggalkan rumah, apakah kalian menindas nya?" tanya Aman.


Aufan pun mencoba mengingatnya.


"Ya benar, malam itu aku menindas nya, aku bahkan mengatakan, kalau Maura menginginkan harta papaku saja," ucap Aufan.


"Aman! Stop, apaan sih Loe, bikin aku merinding saja," ucap Aufan.


Aman tersenyum tipis, merasa puas.


"Rasain Lu Fan! aku akan balas dendam, karena telah menyakiti Maura yang sangat baik itu," Batin Aman.


"Aman! Kenapa kau tersenyum?" tanya Aufan yang melihat Aman senyam senyum.


"Apakah Papamu sudah menceritakannya padamu? Tentang Vena istrimu?" tanya Aman.


"Tadi Papa sudah memperlihatkan, siapa Vena sebenarnya, dia berselingkuh dengan laki-laki lain, bahkan dia juga berhubungan int**im dengan lelaki itu," ucap Aufan terlihat sedih.


"Baguslah, Bos, Kalau Bos sudah tahu, siapa Vena itu sebenarnya," ucap an.


"Kenapa aku sebucin itu ya sama dia?" tanya Aufan heran dengan dirinya sendiri.


"Vena itu sudah jahat dari sananya, Bos, Oh ya, satu lagi fakta yang belum kau ketahui," ucap Aman. Membuat Aufan penasaran.


"Apaan, kayaknya Loe banyak tau dari pada gue? Jangan-jangan Loe mantannya Vena ya?" ketus Aufan.


"Hi hi Gile Loe Bos, ji jik aku ..., sebenarnya Vena itu masih mempunyai keluarga, dan juga dia mempunyai seorang adik, sekarang kami masih menyelidikinya, di manakah adiknya itu sekarang?" ucap Aman.

__ADS_1


"Adik? Tapi dia bilang, Vena swbatang kara?" ucap Aufan.


"Adiknya sorang laki-laki, klo nggak salah, namanya Didi," ucap Aman.


"Didi? Apa Didi itu adalah adiknya?" tanya Aufan kaget.


"Iya Tuan Bos."


"Sekarang! ayo kita putar haluan!" ajak Aufan tiba-tiba.


"Putar haluan? Ke mana Bos? kau ini aneh-aneh saja kok Bos, mendadak begini?" tanya Aman heran.


"Pokoknya putar arah, aku harus mencari orang yang bernama Didi, aku tahu di mana dia berada," ucapnya.


"Bos tahu dari mana? Bos tahu? emangnya Bos menyelidiki juga?" tanya Aman.


"Tidak, aku pernah bertemu dengannya, Ayo cepat!" desak Aufan.


"Akhirnya Aman pun memutar arah menuju arah yang ditentukan oleh Aufa, yaitu menuju Bandung.


"Apakah kita akan ke Villa Bos?" tanya Aman.


Karena jalan yang dituju itu adalah jalan yang pernah dilaluinya, saat menuju villa Vena kemaren.


"Iya, kita akan ke sana, tapi bukan ke Villa, ada suatu kampung yang akan aku singgahi, kau tidak usah banyak tanya, Ayolah!" ucapnya.


Akhirnya Aufan dan Aman pun pergi menuju Bandung.


***


Sementara Maura, pagi ini dia sudah bersiap-siap untuk meninggalkan rumah sakit, dia tidak tahu, kali ini ke manakah Papa mertuanya akan membawanya pulang, karena Papa Aufan sudah memberitahukan padanya, bahwa Maura akan disembunyikannya di sebuah tempat.


"Mbak Alin, Apakah Mbak tahu kemana sebenarnya papa akan membawaku?" tanya Maura.


"Aku tidak tahu Nona, yang jelas, Nona akan diasingkan dari orang-orang yang pernah mengenal Nona, jadi ..., Nona akan hidup di sana denganku, sebagai Nona yang baru," sahut Alin.


"Benarkah? Apakah tidak menimbulkan kecurigaan orang kampung di sana? Mungmin saja nanti aku akan di kira selingkuhan, atau wanita simpanan Om Om berduit?" tanya Maura.


"Itu nanti kita bisa mengatasinya Nona, yang penting, Nona selamat, bayi Nona juga selamat, sekarang bayi Nona baik-baik saja, dan dinyatakan sehat oleh dokter," ucap Alin.


"Oh begitu ya Mbak, terima kasih ya Mbak, karena telah menemaniku sampai sejauh ini," ucap Maura.


"Sama-sama Nona."


Akhirnya Maura dan Alin tampak meninggalkan Rumah Sakit, dengan mobil mewah yang sudah diutus oleh Pak Irlangga, untuk meninggalkan Rumah sakit tersebut, menuju rumah baru Maura di sebuah desa, yang akan ditempati Maura sampai dia melahirka.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2