Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Benihku di Rahimmu


__ADS_3

Tampak vena sudah keluar dari kamar kecil, dia pun kembali menuju meja makan yang ada di restoran, namun dia kebingungan saat tidak menemukan Aufan ada di meja makannya.


"Aufan ke mana ya? masa iya dia tinggalkan meja makan kami, untung saja belum dibersihkan pelayan," gumam Vena.


Kamudian Vena mengambil hp-nya dan menghubungi Aufan, namun tidak ada jawaban alias tidak terhubung. Beberapa kali mengulang tetap sama.


"Aufan ke mana sih? kok nggak aktif? keterlaluan Aufan, apa dia juga ke kamar kecil? Baiklah, aku akan menunggunya."


Vena pun duduk dan kembali menikmati sarapan paginya yang sudah terlambat. Namun sudah selesai makan, Aufan belum juga datang.


"Aufan... Kamu ke mana sih? kok lama banget?"


Vena kembali menelpon suaminya. Namun hasilnya tetap sama. Aufan tidak aktif.


"Aufan... apa kali ini kau kembali meninggalkanku, seperti malam pengantin kita itu?" gumam Vena dengan wajah yang cemberut dan uring-uringan.


Vena pun kembali menunggu. Sudah 1 jam Vena menunggu kedatangan Aufan, namun Aufan belum juga tampak di restoran tersebut. Akhirnya Vena memutuskan untuk menelpon Aufan sekali lagi. Namun tetap sama.


"Aufan kau di mana? Mengapa kau meninggalkan aku di sini?"


Terlihat wajah Vena sangat kesal, kemudian dia pun membayar makanannya dan berniat kembali ke hotel tempat mereka menginap kemarin.


"Pak... tolong bawa aku ke hotel... "


Vena pun memberikan alamat hotel yang dia tinggali. Tak berapa, lama mereka sudah sampai di hotel setelah membayar Paman taksi, dia menuju kamarnya dengan wajah yang cemberut, namun dia berharap ini adalah frank dari suaminya.


Sesampainya di depan kamar, dia pun membuka pintu dan masuk memindai seisi kamar. Berharap ada Auan di sana, namun nihil. Kemudian dia berbaring di atas ranjang King size nya.


"Aufan... sebenarnya kau ada di mana? Kenapa kau tidak bisa dihubungi? apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Vena.


Kemudian dia menelepon Mami sang mertua, yang ada di Indonesia.


"Hello Mami... apakah Aufan ada menelepon Mami?" tanya Vena.


"Aufan? Bukankah kalian sedang berlibur bersama?" tanya sang mami.


"Iya Mi... tapi saat tadi kami makan, aku merasa sakit perut, dan permisi ke kamar kecil, namun saat aku kembali, Aufan sudah tidak ada. Bahkan aku menunggu 1 jam di sana Mi," ucap Vena terdengar sangat kesal.


"Bagaimana mungkin Aufan meninggalkanmu? Bukankah Kalian sedang bulan madu bersama? tanya Mami.


"Iya Mi.. aku juga tidak tahu, aku sudah berulang kali meneleponnya, namun tidak ada yang mengangkat. Nomornya tidak aktif Mi," ucapnya lagi sangat kesal bahkan kali ini hampir menangis.


"Di mana Aufan ya? Nantilah aku akan menghubunginya juga, kamu sekarang ada di mana?- tanya Mami.

__ADS_1


"Aku sekarang ada di kamar nih,- sahutnya.


"Kalau begitu, kau diam saja di sana, jangan kemana-mana ya! Bahaya kalau wanita pergi sendirian ya."


"Iya Mi."


Telepon pun di tutup. Vena berbaring di atas ranjangnya dengan wajah yang sangat kesal dan cemberut.


"Aufan... masa iya kau tega meninggalkan aku sendirian di sini? apa yang ingin kau rencanakan? Apakah ini kejutan atau bagaimana sih?" tanya Vena dalam hati yang masih sangat dongkol.


Akhirnya dia pun merasa mengantuk dan tertidur


***


Setelah beberapa jam kini sampailah Aufan di Indonesia. Segera dia keluar dari pesawat dan bergegas berjalan dengan mengambil langkah yang panjang panjang. Dia pun keluar dan mencari taksi.


Sepanjang jalan di dalam taksi, pikirannya kembali kepada Maura dan anaknya.


"Sebentar lagi aku akan menemukanmu, aku tidak akan melepaskan mu lagi kali ini Maura," gumamnya.


Dia melamun dan menatap jendela menikmati jalanan yang lumayan sepi, karena sudah larut malam.


"Astaga! Vena!" kagetnya.


Dia pun kaget kemudian mengambil hp-nya dan menelepon Vena. beberapa kali menelpon namun tidak ada jawaban, karena di Jepang saat ini sudah malam, mungkin Vena sedang terlelap.


Dia pun menelpon seseorang menyuruhnya untuk berangkat ke Jepang sekarang juga. Slesai menelepon seseorang, Aufan pun menelepon Bella.


"Hello Bella... kau ada di mana?"


"Aku ada di tempat mami, Emangnya ada apa?" tanya Bela.


"Aku sekarang sudah di Indonesia," sahut Aufan.


"Apa? di Indonesia? bukankah kau tadi ada di Jepang?" heran Bela.


"Saat aku menerima telepon darimu, aku langsung meluncur," ucap Aufan.


"Lalu bagaimana dengan Vena? Apakah dia juga ikut pulqng?" tanya Bela penasaran.


"Ha ha ha ha aku memang bo*doh, aku meninggalkannya di restoran, saat ia ke kamar kecil," ucap Aufan sambil tertawa mkarwna merasa lucu.


"Apa? gila loe ya! Mengapa kau sampai meninggalkan istrimu? sebegitu pentingkah Maura bagimu?" tanya Bela jefan.

__ADS_1


"Ah sudahlah... cepat katakan! di mana Maura sekarang?" bentak Aufan.


"Baiklah... aku akan mengirim alamatnya, tapi aku tidak bisa ke sana, karena aku ada kerjaan," sahutnya.


"Terus saja ada kerjaan, dasar lobang semut," oceh Aufan.


"Hey, kau mau menghinaku, atau mau alamatnya sih?" kesal Bela.


"Kirimkan alamatnya, Awas kalau kau bohong!"


Aufan pun kemudian meluncur dari bandara entah ke mana tujuannya, tak berapa lama pesan masuk dari Bela.


"Oh Rumah Sakit Bhyangkara, Baiklah aku akan ke sana," ucap Aufan,"Pak tolong bawa aku ke Rumah Sakit Bhayangkara,"


Sopir pun meluncur ke Rumah sakit yang di maksud Aufan. Setelah beberapa saat Aufan pun sudah berada di halaman itu. dengan tergesa-gesa dia berlari memasuki halaman tersebut dan mencari ruangan yang telah disebutkan Bela.


Tempat jam 10.00 malam. Aufan berada di depan kamar Mura dengan tangan yang terasa gemetar, Aufan pun perlahan mendorong pintu yang sedikit terbuka, ada rasa tak menentu, hatinya merasa gembira, namun Ia juga merasa takut berhadapan dengan Maura.


Kali ini Aufan benar-benar bukanlah seorang Casanova seperti biasanya, dengan beberapa kali mengusap keringat dingin di dahinya, dia pun memberanikan diri melangkah masuk.


"Tuan siapa?" tanya Mira yang saat itu sedang terjaga saat mendengar langkah kaki mendekat.


"Kau juga Siapa?" tanya Aufan juga.


"Aku temannya Maura, Apa mungkin Tuan ini Aufan?" tanya Mira.


"Iya," sahut Aufan.


"Ooh, maaf kalau begitu aku mau ke kantin dulu, aku merasa lapar," ucap Mira.


Itu hanya alasan Mira saja, karena dia ingin memberikan waktu buat Aufan dan Maura untuk bertemu. Dia pun lergi meninggalkan kamar Maura.


Sementara Aufan, sambil menatap brangker tampak Maura sedang terlelap, perlahan Aufan mendekati bunker itu dan mengambil kursi duduk di halaman branker. Berhadapan dengan Maura.


Aufan terus menatap wajah polos Maura yang sedang tertidur.


Maura sudah siuman sore tadi, dan dia diberi obat penenang oleh dokter, sehingga dia pun tertidur kembali.


"Maura.. Akhirnya aku menemukanmu, aku sudah mencarimu kemana-mana, saat Kau pindah dari sana, mengapa kau tidak mengatakannya dari awal, kalau kau sedang hamil anakku," gumam Aufan.


Dia kemudian meraih tangan Maura dan membelainya, juga beberapa kali menci*um tangan itu.


"Maura, aku bingung, apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah aku harus membawamu pergi dan menghilang begitu saja dari mereka? Lalu bagaimana dengan Vena? Aku juga mencintainya, aku juga menyayanginya Maura... Walaupun mungkin rasa cintaku sekarang telah tertumpuk padamu, karena kau mengandung benih ku di rahimmu," gumamnya lagi.

__ADS_1


Tak berapa lama, Maura pun menggeliat. Aufan sangat kaget dan melepaskan pegangan.


Bersambung


__ADS_2