
Tak berapa lama, Maura pun menggeliat. Aufan sangat kaget dan melepaskan pegangan.
Maura memicing-micingkan matanya karena merasa buram. Kemudian dia mendekati wajah Aufan yang duduk di dekat branker.
"Mau apa dia?" batin Aufan
"Aufaaaan... Heh, bahkan kau pun hadir di dalam mimpiku, buruk sekali mimpiku ini, gumam Maura sambil terus menatap Aufan.
"Mimpi buruk?" batin Aufan lagi sambil tersenyum menyeringai. Karena sedikit kesal.
"Sayang, kau tidak usah mengingat papahmu itu, dia orang kaya... Dia tidak akan mengakuimu... Lebih baik, kita pergi saja yang jauh...." racau Maura lagi.
"Apa, Dia ingin pergi jauh membawa bayiku?" gumam Aufan lagi, kali ini Aufan bersuara pelan.
"Kau... Aufaaan Cassanovaaa casablankaaaa, kenapa kau di siniiii? Mau apa kauuu?" ucap Maura dengan suara yang terbata bata.
Aufan hanya diam dan menatap wanita yang sedang terbaring itu.
"Badanmu sudah dingin, tapi kenapa kau mengigau?" gumam Aufan.
"Hey... Kau! Pergi ka u da ri mim pi bu ruk ku..." tunjuk Maura ke wajah Aufan. Akhirnya Maura pun kembali terbaring dsn tertidur.
"Dasar wanita ja...." Aufan terhenti, ketika kata ko tor itu hampir terucap.
Aufan kembali mendekat dan menyentuh jidad Maura. Dan kemudian menggenggam kembali tangan Maura.
Aufan terus memandangi wajah Maura. Kemudian Dia mengusap perut Maura pelan.
"Benarkah di sini ada benihku? Bagaimana mungkin benih ini hadir tanpa cinta?" ucapnya.
Belaian lembut di perut Maura itu penuh perasaan, seakan Aufan sedang membelai pipi seorang bayi yang sedang tertidur.
"Maura... Aku tidak tau apa yang aku rasakan sekarang, aku sangat bahagia, tapi? Aku bingung harus bagaimana?" ucap Aufan lagi sambil terus menggenggam tangan Maura.
Saat Telepon Aufan berdering, Aufan lun ingin melepaskan tangan Maura pelan-pelan, namun Maura malah membalas genggaman itu erat, dan tidak membiarkan Aufan melepasnya.
"Hey, Cassanova, bahkan dalam mimpi pun kau ingin meninggalkanku? Dasar lelaki tidak bertanggung jawab!" igau Maura dengan suara ketus.
"Cassanova? Heh dasar, seenaknya saja mengganti nama orang, lagian... Aku bukan Cassanova tau!" ketus Aufan protes.
"Bagaimana perasaanmu, setelah menjelajahi gunung dan turun di hutan rimba heh? Apa kau puas?" ucap Maura dalam tidurnya.
"orang ini, mengigau? Atau pura-pura tidur?" ucap Aufan lagi.
Aufan pun menatap phone nya dan membaca seseorang yang meneleponnya.
"Apa? Vena? Bagaimana ini? Dia pasti marah besar."
Aufan kembali berusaha melepas genggaman Maura. Kali ini Maura melepasnya.
__ADS_1
Aufan pun berjalan keluar kamar, dan mengangkat telepon dari Vena.
"Hello Sayang...."
"Akhirnya kau mengangkat telepon mu juga. Kau di mana? Mengapa tidak kembali ke kamar?" tanya Vena dengan nada ketus.
"Maaf Sayang... Tiba-tiba ada pekerjaan yang sangat mendesak, dan aku tidak bisa meninggalkannya," ucap Aufan berbohong.
"Pekerjaan? Pekerjaan seperti apa? Bukankah kau sudah mempercayakannya pada Pak Luh semua pekerjaanmu?" tanya Vena.
"Iya... Tapi ternyata Dia tidak bisa menghandle ini, dan aku harus mengurusnya sendiri."
"Ap... Apa maksudmu? Jangan bilang kau...." Vena menggantung kalimatnya.
"Ya Sayang, sekarang aku sudah di Indonesia, nanti..."
Tutt tut tut
Telepon di matikan.
"Yaaaaa.... Vena pasti sangat marah padaku, kenapa aku melupakannya, dasar kau Casanova teri," gerutunya pada dirinya sendiri.
"Tuan, ada apa? Apa Maura terbangun?" tanya Mira yang terlihat membawa Pop Mie di tangannya.
"Sini! Aku lapar," ucap Aufan.
Aufan pun merebut Pop Mie yang sedang di pegang oleh Mira.
"Ini, kau beli lagi sana, makan sepuasnya, kembaliannya ambil semua," ucap Aufan.
Aufan menyerahkan uang 100.000 ke tangan Mira, Aufan berjalan kembali ke kamar. Sementara Mira tampak berdiri termangu.
"Dasar, bagaimana bisa Dia mengambil makanan orang seenaknya, pantas saja Maura tidak ingin bertemu orang itu lagi, kalau bukan karena ketampanannya, pengen aku ketok kepalanya dengan batu, biar bocor," ucap Mira kesal.
Mira pun terpaksa kembali ke kantin untuk membeli Mie.
"Lumayan ini, banyak kembaliannya," ucapnya sambil tersenyum.
Sementara Aufan sudah kembali duduk di depan Branker Maura. Sambil sesekali menatap Maura yang masih tertidur.
"Manis," gumam Aufan.
Wajah Maura yang memang cantik bukan kaleng-kaleng itu, membuat jantung Aufan deg deg kan saat menatap Maura. Bi bir merona walau tampak pucat itu pun sangat menggoda imajinasi Aufan.
Aufan dengan cepat menghabiskan Mienya, dan meletakkannya di bawah Branker.
"Maura, kenapa kau begitu sangat menggoda di mataku?" tanya Aufan.
"Aufaaan... Kau jahat, kau jahat, Lira... Kau juga," lirih Maura kembali mengigau.
__ADS_1
"Kenapa dia terus mengigau? Dulu perasaan tidak pernah seperti ini?" tanya Aufan.
Aufan terus saja menatapi wajah Maura yang sedang tertidur dan mengigau, namun perasaan Aufan tak menentu, saat menatap wajah Maura, dia pun ingat kilasan-kelasan di masa dulu, saat mereka bersama.
Tanpa sadar Aufan wajahnya kini mulai mendekat, mendekati wajah mulus milik Maura itu.
Eh mau ngapain dia?
Ketika suara langkah kaki mendekat dan...
"Assalamualaikum," ucap salam dari Mira.
Aufan pun kaget dan segera menjauh dari wajah Maura tanpa menjawab salam, memang Aufan tidak terbiasa menjawab salam atau mengucap salam.
Ternyata Mira yang datang.
"Tuan mau tidur? silahkan Tuan berbaring di sana. Aku tidak apa-apa kok duduk aja," ucap Mira.
"Tidak usah, kau saja yang tidur," ucap Aufan.
Dia merasa jengkel wanita itu tiba-tiba saja datang, dan mengganggu rencananya.
"Apa Tuan tidak mengantuk?" tanya Mira.
"Tidak. Aku sudah tidur tadi di pesawat saat menuju kemari," sahut Aufan dingin.
"Baiklah Tuan... Oh iya Tuan, besok Tuan mau ke mana ya? Soalnya besok aku harus bekerja. Apakah ada seseorang yang bisa membantu Maura untuk tinggal di sini?" tanya Mira.
"Kau pergi saja kerja, Oh iya, emangnya kau kerja di mana?" tanya Aufan penasaran, jangan jangan sama kayak Bela, bisik hatinya.
"Aku bekerja di toko bunga Bos Ibrahim, sama seperti Maura," jawab Mira.
"oooh... Baiklah kalau mau pergi sekarang pun kalau kamu mau pulang, boleh kok, biar aku yang jagain Maura," Ketus Aufan lagi.
"Eh Tuan... ini 'kan sudah tengah malam,mana berani aku pulang, jangan-jangan entar datang ke rumah, sudah jadi kuntilanak, hiii serem," ucap Mira bergidik bulu romanya.
"Ah terserah kau lah," ucap Aufan lagi ketus.
"Dasar lelaki tidak tahu di untung, pantas saja Maura tidak mau bertemu dengan dia."
Gumamam kecil Mira itu terdengar oleh Aufan. Yang mengeluh tentang dirinya.
"Hei... kau bicara apa tadi?" tanya Aufan Ketus kepada Mira.
"Oh tidak kok Tuan, aku hanya mengantuk. Baiklah aku akan tidur."
Mira pun kemudian membaringkan dirinya di pojokan, dan tak Berapa lama dia pun tertidur karena sangat mengantuk.
Sementara Aufan kembali menatap wajah cantik Maura dan tangannya pun diletakkannya di atas perut Maura, karena sangat mengantuk, akhirnya Aufan pun tertidur dengan posisi duduk, dan kepala menyandar di atas kasur Maura.
__ADS_1
Pagi menjelang, Maura mulai membuka matanya, sedangkan Aufan masih tidur di posisinya.
Bersambung...