
Kini Maura tinggal di Apartemen Aufan. Semua kebutuhan hidupnya dipenuhi oleh Aman, karena memang Aman lah yang memegang ATM milik Aufan. Aman tahu dan yakin, semua yang dia lakukan ini tidak akan membuat Bosnya itu marah.
Terkilas rencana yang terpikir di otaknya, bahwa dia akan melindungi Maura seperti dia melindungi Aufan, Entah mengapa, dia merasa bahagia ketika Aufan dan Maura akan bersatu.
Diam-diam Aman pun ke rumah sakit dan mendekati Aufan yang sedang tertidur.
"Aman, Kau sedang apa di situ?" tanya mami.
Ternyata Mami terbangun saat melihat Aman seperti men colek-colek tangan Aufan, Mami yang tadi tidur terbangun ketika merasa ada orang yang lewat di sampingnya.
"Oh Bu Bos, tidak apa-apa kok, aku hanya memastikan apakah Tuan Bos masih demam atau sudah sehat," ucap Aman.
"Aku dan Vena hari ini ingin pulang ke rumah, hari ini kau yang akan menjaga Aufan!" titah Mami.
"Ya baik Bu Bos. Apakah ingin ku antarkan?" tanya Aman.
"Tidak usah, kami naik taksi online saja," ucap Mami.
Mami pun membangunkan Vena yang juga tertidur, tak berapa lama Vena terbangun dengan wajah yang sangat ancur, akhirnya mereka berdua pergi meninggalkan rumah sakit.
"Alhamdulillah ini kesempatanku untuk melancarkan aksiku," lirih hati Aman.
"Tuan Bos, Tuan Bos, bangun Tuan! Tuan!" panggil aman dengan menggoyang-goyangkan tubuh Aufan.
"Ada apa? Maura mana?" ucap Aufan ketika dia membuka matanya.
"Tuan Bos, ayo bangun! aku ingin berbicara banyak denganmu, aku sudah menemukan Maura, kau harus bangun, ayo cepat! Maura menunggumu!" desak Aman.
Aufan pun membuka matanya lebar dan menatap sekeliling mana.
"Emangnya ke mana Maura? Maura kenapa? Kau siapa?" tanya Aufan pada Aman.
"Tuan Bos, Mengapa kau tidak mengenaliku? aku orang kepercayaanmu Tuan Bos, orang yang paling ganteng yang paling setia kepadamu," ucap Aman lagi.
"Siapa kau? orang kepercayaanku? yang mana?" heran Aufan.
"Kemarin Anda kecelakaan, dan ingatan Anda terganggu Tuan, sekarang, ayo kita pulang menemui Maura!" ajak Aman.
"Di mana Maura sekarang? kenapa dia tidak menemaniku?" tanya Aifan.
Dia menunggumu di rumah, Tuan, Ayo! kita pulang sekarang!" ajak Aman.
Akhirnya Aman pun menyelesaikan administrasi Aufan dan membawanya pergi dari rumah sakit tersebut, menuju Apartemen Maura.
Tak berapa lama, mereka pun sudah sampai di Apartemen Maura, setelah ditelepon, Maura pun membukakan pintu.
"Maura Kenapa kau tidak menjemput ku di rumah sakit?" tanya Aufan seperti biasa saja, seakan mereka memang sudah bersama. Lain cerita kalau seandainya dia sadar, mungkin dia akan sangat senang karena telah menemukan Maura.
"Tuan...."
"Heh kenapa kau memanggil suamimu ini Tuan? aku ini suamimu Maura, Aufan! Apa kau lupa?" tekan Aufan.
__ADS_1
"Nona Maura. Ayo bawa saja dia masuk!" ucap Aman.
Aufan pun dibawa masuk dan dibaringkan di tempat tidur.
"Tuan, aku akan pergi, kalau perlu sesuatu telepon saja," ucap Aman.
"Baiklah," sahut Aufan, walau oun dia tidak mengenali Aman, namun dia iyakan saja.
"Nona Maura... ini Aufan suamimu, jagalah dia. Aku harus pergi, dan menyelesaikan sesuatu," ucap Aman.
Akhirnya Aman pun pergi meninggalkan Apartemen menuju Rumah Sakit kembali. Mungkin dia akan berencana sesuatu dengan pulangnya Aifan dari rumah sakit. Sementara Maura mengunci pintu berjalan mendekati Aufan yang duduk di sisi ranjang.
"Maura... kenapa kau sangat cuek padaku? biasanya kan kau selalu memelukku kalau aku datang," ucap Aufan.
Maura pun menjadi bingung atas tingkah laku Aufan.
"Memeluk? Kapan aku memeluknya? Lirih hati Maura.
"Aku lagi kurang enak badan," ucap Maura.
"Benarkah? Apakah kau sakit?" Aufan pun segera berdiri dan menyentuh jidat Maura.
"Kau tidak demam kok? sakit apa?" tanya Aifan.
"Mas... Apakah Mas lupa? aku ini kan sedang hamil, jadi aku sering kelelahan," ucap Maura.
"Kau hamil? Benarkah
"Maaf, mungkin kau lupa Mas, tapi aku sudah mengatakannya kok," ucap Maura.
"Baiklah, aku merasa lelah, aku ingin istirahat, kepalaku juga sedikit pusing," ucap Aufan akhirnya Aifan pun berbaring.
***
Pagi 08.00
Maura menuju peralatan masaknya dan dia akan memasak sesuatu pagi ini sebelum Aufan terbangun
"Tuhan... kehidupan seperti apa ini? mengapa aku bisa satu atap dengan seseorang yang baru kukenal? Walaupun dia adalah Ayah dari bayiku, namun aku tidak mengenalnya dengan baik" gumam Maura.
Dia pun asik memasak berbagai macam menu, dan saatnya memasak menu terakhir yaitu osengan kangkung, dia asik Mendayung spatulanya di dalam wajan ketika tiba-tiba... Tubuhnya terasa ada yang memeluk dari belakang. Maura pun menoleh spontan.
"Tuan!" spontan Maura.
"Hei Maura! Kau ini kenapa? kenapa terus memanggilku Tuan? aku ini kan suamimu dan kau bilang kau juga sedang hamil anakku," ucap Aufan.
"Oh iya.. Ya, Mas kau tunggu saja di sana! makanannya sudah hampir masak," ucap Maura.
Maura sangat gugup ketika diperlakukan Aufan seperti itu. Dia pun melerai pelan tangan Aufan yang melingkar di pinggangnya.
"Baiklah sayang, aku tunggu ya!" ucap Aufan.
__ADS_1
Aufan pun melepaskan pelukannya dari Maura, kemudian dia berjalan ke depan meja makan, yang juga ada di ruangan itu.
"Aduh, kalau begini terus, bisa-bisa jantungku copot, Bagaimana aku menjelaskannya pada Aufan? kalau sebenarnya kami ini belum menikah," gumam hati Maura.
Kemudian Maura pun mempersiapkan makanan yang sudah matang di atas meja makan.
"Mas, Ayo dimakan! tapi aku tidak tahu bagaimana rasanya," ucap Maura.
"Sayang, apapun yang kau masak, walaupun rasanya seperti air laut pun, aku akan tetap memakannya," goda Aufan.
Aufan begitu menikmati hidangan yang disediakan Maura. Aufan pun tergesa gesak mengambil piring dan mengambil nasi dsn juga lauk pauk.
"Sepertinya enak, nyem nyem nyem ... sangat enak Sayang, bahkan makanan restoran pun rasanya kalah dengan masakanmu ini, bagaimana kalau kita buka usaha kuliner saja?" ucap Aufan.
"Ah mana sempat Mas, aku kan sedang hamil, Bagaimana aku memasak?" ucap Maura.
"Oh iya juga ya, oh ya... hari ini aku akan ke kantor," ucap Aufan.
"Kenapa ke kantor? sebaiknya kau istirahat saja, luka mu juga masih belum sembuh," ucap Maura.
"Luka? luka yang mana?" tanya Aufan.
Ternyata dia tidak sadar, bahwa dirinya sedang terluka.
"Itu pinggang mu 'kan, masih di perban, Apa kau lupa juga?" tanya Maura.
"Oh iya ya, luka bekas apa ini? mengapa aku lupa?" tanya Aufan.
"Hanya kesalahan kecil. Sudahlah jangan dipermasalahkan, tapi kau tidak boleh bekerja dalam satu minggu ini, kau harus istirahat dulu," ucap Maura.
"Baiklah, Baiklah kalau begitu, hari ini aku akan menemanimu saja di rumah, lagian aku juga ingin bermanja-manja denganmu," ucap Aufan.
Bulu roma Maura pun bergidik saat dia membayangkan akan bersama Aufan dalam satu minggu ini.
Akhirnya Aufan pun menyelesaikan makan pagi bersama Maura, selesai makan, Maura merapikan meja makannya kemudian mencuci semua yang ada di situ, selesai mencuci, Maura kembali ke ruang utama, untuk merapikan baju yang sudah dibelikan oleh Aman.
"Sayang... kita ke pasar yuk!" ajak Aufan.
"Untuk apa Mas? Mas istirahat saja, tidak boleh jalan-jalan terlalu jauh," ucap Maura.
"Mau beli peralatan bayi," ucap polos Aufan.
"Itu nanti saja, ini juga masih 4 bulan kok, masih 5 bulan lagi baru lahiran," ucap Maura.
"Tapi aku pengen sekarang...," ucap manja Aufan.
Dia pun mendekati Maura dan nempel di samping Maura.
"Mas apaan sih? kayak anak kecil aja," ucap Maura, karena sekarang Aufan duduk di sampingnya dan merengek seperti bayi yang minta permen.
Bersambung...
__ADS_1