Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Aufan Tergoda


__ADS_3

Aufan dan Vena tampak mandi basah di siang hari ini. Mereka menuruni tangga dengan terus melingkarkan tangan satu sama lainnya. Mereka senyum-senyum sambil terus bercanda. Hingga sampai di lantai dasar.


"Vena, Aufan, waaaaah siang-siang gini masa iya mandi basah-basah juga sih," ucap Mami menggoda mereka.


"Seger Mi, oh ya Mi, kami mau belanja dulu ya, mungkin sampai malam sekalian jalan-jalan," ucap Aufan pamit.


"Hati-hati ya!"


Aufan dan Vena pun pergi meninggalkan kediaman Irlangga. Mereka tampak mesra dan romantis. Aufan membukakan pintu mobil untuk Vena, kemudian menutupnya. pasangan yang sangat serasi, yabg satu cantik dan yang satu tampan.


"Sayang, emang keluarga dari papamu gimana sih orangnya?" tanya Vena saat di perjalanan.


"Mereka sangat cerewet, tapi kamu nggak usah khawatir, kita nggak usah perdulikan mereka," ucap Aufan menghibur.


"Oh ya? Emang mereka ada di mana aja sih?" tanya Vena lagi.


"Mereka ada di Luar Negeri dan luar kota, jadi mereka jarang ke mari, namun saat mereka datang, Mami pasti kalang kabut layanin mereka, mereka sangat cerewet, apalagi kakak tertua Papa, Dia tidak segan-segan menghina siapa saja yang menurut Dia jorok di depan semua orang," ucap Aufan lagi.


"Masa sih? Bagaimana dengan aku nanti kalau sampai bertemu mereka, pasti di katain mereka super males, aku 'kan nggak bisa apa-apa," ucap Vena.


"Nggak laah, kamu cukup iya, oke baiklah, mereka senang dengan orang yang menurut," ucap Aufan lagi.


Aufan memandang jalanan yang tampak lengang mereka, saat Mata Aufan tak sengaja menatap sosok yang Dia kenal.


"Maura... " lirihnya.


"Ada ada Fan? Siapa Ra... Ra apa Sih?" tanya Vena saat mendengar sekilas Aufan menyebut Maura.


"Oh... Nggak, tadi kayaknya aku kenal seorang teman, tapi aku lupa di mana," ucapnya.


"Oooh, kamu pernah ke warung makan itu ya? Katanya di sana sangat enak lho, menunya pun sangat sehat dan tempatnya bersih, nanti kapan-kapan kita ke sana ya, walau tempatnya tak semewah restauran ternama, tapi kata teman, rasanya nggak kalah enak," ucap Vena.


"Oooh, gitu ya, iya entar kita ke sana, ini mau ke mana dulu?" tanya Aufan.


"Beli cincin dulu deh," ucap Vena.


Vena menyandarkan kepalanya di bahu Aufan. Mereka pun melaju menuju Mall pusat perbelanjaan elit. Setelah 30 menit, mereka pun sampai, bak Tuan putri Vena pun di layani, di bukakan pintu dan di gandeng oleh Aufan.


"Sayang... Terima kasih ya," ucap Vena manja.


"Iya, sekarang beli apa lagi, nanti siang aku tidak bisa nemenin kamu, nanti malam baru kita sambung, karena aku ada meeting siang ini," ucap Aufan.


"Sepatu dan sendal, tas juga," pinta Vena.


Mereka pun menuju stan yang ada di mall tersebut. Vena terlihat sangat angkuh dan sombong. Dia berjalan melenggak lenggok bak ratu.


"Hei... Kemari kau!" ucap Vena pada karyawan yang sedang membersihkan stan sepatu.

__ADS_1


"Iya Mbak," jawabnya.


"Panggil aku Nyonya Muda, aku ingin yang ini, tapi no 38," ucapnya.


"Baik Nyonya Muda."


Karyawan itu pun mengambil beberapa sepatu dan memberikannya pada Vena sesuai ukuran yang di minta Vena.


"Aku ambil yang ini, tas yang di atas itu juga," ucapnya.


"Vena... Kau... Hei, lama tak bertemu, waaah kau semakin cantik saja," sapa seseorang yang juga berbelanja di mall tersebut.


"Ini siapa ya? Aku lupa tuh," ucap Vena sombong.


"Aku Dara, masa kamu lupa? Temen yang duku sering traktir kamu makan bakso," ucap wanita itu.


"Traktir makan bakso? Kamu salah orang kalii," ucap Vena lagi.


"Ah mana mungkin aku salah orang, kita temen SMP kok," ucap Dara.


"Ada apa Sayang?" tanya Aufan.


"Nggak papa kok, ayo pulang!" ajak Vena.


"Oooh, ini suamimu ya? Kenalin, aku Dara teman SMP Vena," ucapnya seraya menjulurkan tangan. Aufan pun berniat menjulurkan tangan.


"Aku nggak kenal, ayo pulang!" ucap Vena seraya menarik tangan Aufan.


"Ha? Anak," kaget Aufan.


"Apaan sih, aku juga nggak kenal Dia, jangan di ladenin, Dia cuma mau cari muka sama orang kaya kayak kita," celetus Vena lagi.


"Tapi Dia kenal namamu lho! Berarti kalian dulu memang pernah kenal kan?" tanya Aufan lagi.


"Nggak!" cetusnya lagi.


Vena menutup pintu mobil kasar hingga meninggalkan suara yang keras.


"Kalau kamu memang nggak kenal, kenapa mesti marah, abaikan saja," ucap Aufan lagi.


Mereka pun pergi meninggalkan tempat itu.


"Kita jadi makan si warung tadi?" tanya Aufan.


"Nggak, males, kita langsung pulang saja," jawabnya cemberut.


"Baiklah."

__ADS_1


"Nyebelin banget si Dara, ngapain juga Dia harus ada di kota ini?" gerutunya dalam hati.


Apakah benar Vena pernah melahirkan?


Mobil Aufan melaju di jalanan yang tampak sepi jam baru menunjukkan jam 11 siang, Aufan pun mengantar Vena pulang ke rumah. Sementara Aufan kembali ke kantornya.


Tok tok


"Masuk!"


Seorang sekretaris seksi memasuki ruangan Aufan, Aufan yang tadi cuek kini malah menatap wanita itu tajam.


"Bos, ini berkas yang akan Bos pakai siang ini, semua materi sudah saya siapkan di sini," ucap Sekretaris itu.


"Hmm bawa ke mari!" ucap Aufan.


Wanita itu mendekati meja Aufan dan meletakkannya di atas meja Aufan. Aufan berdiri dan mengitari wanita seksi itu. Berdiri mentok di belakang sekretaris seksi itu.


"Ternyata benar sekali, sangat mudah merayu Bos casanova ini, heh, aku akan menaklukkan mu," lirih hatinya.


"Yang ini?" Aufan menunjuk materi yang di bukanya dengan satu tangan kanannya, sedang tangan kirinya berada di pundak sekretaris itu.


"I... Iya Bos," ucapnya pura-pura gugup, padahal ini sudah di rencanakan nya.


"Aufan malah semakin berani mendekat dan menempelkan badannya di belakang wanita itu.


"Kenapa kau takut? Bukankah kau datang sengaja untuk menggodaku? Apa kah kau siap bermain denganku?" tanya Aufan lagi.


"Bo... Bos... "


Wanita itu mendesah, saat Aufan menghembuskan nafasnya di leher wanita itu, Aufan pun tersenyum.


"Apakah kau masih Virgin?" tanya Aufan tiba-tiba.


"Me... Ngapa... Bos menanyakan... Itu?" gugup Sekretaris itu.


"Karena aku hanya mau yang Virgin, kalau kau tidak bisa menjawab? pergilah!" usir Aufan halus.


"Baik Bos, permisi," ucapnya.


"Heh, payah, bagaimana aku menjawab? sedang aku saja sudah tidak virgin sejak SMP," gerutu hatinya.


"Tapi aku akan berusaha menggodanya, walau pun tidak Virgin, 'kan aku bukan wanita sembarangan, aku pasti bisa merayunya," ucapnya lagi.


Sementara Aufan yang memang terang sang pun tak karuan. Sebentar lagi Dia akan memimpin rapat.


"Ups, bagaimana ini? Meeting 20 menit lagi," gerutunya.

__ADS_1


"Aku harus menemui Maura... Tapi apakah Maura kini sudah menjadi Lobang Semut?" gumamnya.


BERSAMBUNG...


__ADS_2