
Bella menghela nafas dalam, dia bingung antara ingin mengatakan yang sebenarnya atau harus menyembunyikannya dari Aufan namun perasaan kasihan kepada Aufan membuat Bella kembali berpikir.
"Bella, cepat katakan! Apa yang kau rahasiakan?" tanya Aufan.
"Fan Apakah kau akan percaya padaku kalau aku mengatakannya dengan jujur?" tanya Bela
"Alaaaaah... kau jangan banyak bacot, katakan saja dulu, baru aku akan menyimpulkannya," ucap Aufan kesal.
"Sebenarnya malam itu, saat kau mengatakan pada Maura akan menikah, dia juga akan mengatakan padamu, bahwa dia... dia...."
"Bella, cepet katakan!" bentak Aufan lagi.
"Maura sedang hamil anakmu Fan."
Door
Aufan kaget, dia terdiam, dan membulatkan mulutnya membentuk huruf O. Sejenak terdiam, bingung, sok dan lain sebagainya.
"A___apa maksudmu? Apa aku tidak salah dengar?" tanyanya.
"Tidak. Pendengaranmu masih baik," ucap Bela.
"Tapi di mana sekarang Maura? Ayo katakan padaku?" ketus Aufan.
"Aku tidak tahu Fan. sejak Dia pergi dari sini, dia tidak pernah lagi menghubungi kami, Dia bahkan tenggelam bagai ditelan bumi," ucap Bela.
"Tidak mungkin. Salah satu dari kalian pasti tahu dia ada di mana sekarang?" ucap Aufan. Aufan pun berdiri.
"Tidak satupun dari kami tahu di mana Dia berada, aku adalah sahabat yang paling dekat di sini. Bahkan kami seperti saudara kandung selama ini, aku prihatin dengannya Fan. Sebenarnya Dia gadis yang baik, tapi aku tidak menyangka, pada saat itu kau membeli kegadisannya dari sahabat sebelumnya, yang bernama Lira. Sebelumnya dia pun sempat tidak percaya padaku, karena kejadian waktu itu dengan Lira. Tapi aku selalu mendukungnya dan hingga saat aku mengetahui bahwa dia hamil, Dia pun kaget. Dia tidak ingin menceritakannya padaku, namun saat dia terjatuh dan kubawa ke rumah sakit, barulah aku tahu kalau sebenarnya dia sedang hamil."
"Aiisssh, Sial... Sial... Sila...," umpat Aufan.
"Fan! kau mau ke mana?" tanya Bela seraya membuntuti Aufan berjalan cepat meninggalkan kafe tersebut.
"Aku akan mencarinya hingga ke lobang semut sekalipun," ucap Aufan.
"Kalau kau menemukannya, tolong kabari aku juga ya," teriak Bela yang sudah tertinggal jauh di belakang Aufan.
Aufan terus berjalan meninggalkan cafe mami Lin, memasuki mobilnya dan meluncur menyisiri jalanan kota. Swmwntara Di lupa, kalau tadi Di sedang bersama Aman.
Aman yang masih duduk santai di pojokan sambil minum kopi kaget saat di panggil Bela.
"Hei... aman, ngapain loe di situ? Kenapa tak mengikuti Aufan, Aku takut dia akan melakukan suatu hal bodoh," ucap Bela
"Emang di mana Aufan sekarang?" tanya Aman.
"Dia sudah pergi tuh, entah, aku juga tidak tahu," ucap Bella.
Aman pun bergegas berdiri.
__ADS_1
"Kenapa tidak bilang dari tadi?" oceh Aman kesal.
"Mana aku tahu kalau kau ada di situ. Kenapa kau tidak melihat Aufan keluar?" tanya Bella
Aman pun berlari meninggalkan kafe tersebut
"Hei Aman. Bayar dulu kopimu!" teriak Bella lagi.
"Nanti aku transfer."
Aman pun mencari taksi, namun dia bingung, mau ke mana dia mencari Aufan Di kota sebesar ini. Akhirnya dia pun menelpon Aufan.
"*Bos, sekarang... Bos ada di mana?" tanya Aman.
"Kau sekarang ada di mana? Kenapa tidak mengikutiku?" ketus Aufa.
"Aku tidak tahu kalau Bos sudah keluar dari Cafe mami Lin," ucap Aman.
"Keterlaluan kau! sekarang kau pulang saja! dasar asisten tidak becus," ketus Aufan lagi.
"Bos... Bos...."
Namun telepon sudah dimatikan Aufan nampaknya Aufan sangat kesal dengan Aman.
Aufan tampak memasuki semua Cafe dan memperlihatkan foto Maura kepada pelayanan Cafe. Namun tak satu pun mengenal foto itu.
Aufan tampak kelelahan. Sudah satu minggu Aufan mencari Maura, dan belum menemukannya. Dia duduk santai di depan sebuah ruko masih di dalam mobilnya. Ketika tiba-tiba seorang Gadis lewat di depan mobilnya membawa setumpuk bunga di depan sepedanya.
"Na... Na... Na," gadis itu bernyanyi-nyanyi ceria.
Aufan kaget dan segera menghidupkan mesin mobilnya. Untuk menghentikan gadis itu.
"Maura... Tunggu!" teriaknya sambil melambai ke arah wanita bersepeda itu.
Saat tiba dekat wanita itu, tiba-tiba wanita itu berbelok ke arah gang sempit yang tentu saja mobil tidak akan bisa masuk.
"Maura!"
Teriak Aufan, namun wanita itu tidak memperdulikannya. Aufan lun turun dan bermaksud menyusul Maura, namun.
Bruk
Sebuah motor menabrak belakang mobil Aufan, karena Aufan berhenti mendadak.
"Hei kau... Kenapa kau berhenti mendadak? Dasar bodoh! lihat motor ku! kau harus mengganti rugi," ucap dua pemuda yang menabrak mobil Aufan.
"Mana aku tahu kalian yang menabrak? kenapa aku yang salah? jawab Aufan.
"Kau berhenti mendadak bodoh!" ucap dua pemuda.
__ADS_1
"Makanya mata lihat-lihat kalau lagi di jalan, jangan melamun, dasar."
Aufan pun kembali masuk dalam mobilnya, namun...
Bugh
Satu kepalan tinju mengenai wajahnya, Aufan pun kaget, bibirnya berdarah.
"Kurang ajar kau," ucap Aufan.
Aufan pun kembali turun dari mobilnya, dan memukul pemuda yang tadi menghantamnya. Pemuda itu terkapar oleh kekuatan Aufan yang super, Pemuda satunya ingin menolong, namun Aufan lebih dulu meninjunya hingga kedua pemuda itu terjatuh di aspal, dengan berlumuran darah.
Aufan yang sudah lebih dulu emosi karena gagal mendapatkan Maura pun sangat marah. Aufan kemudian masuk dalam mobil dan meninggalkan kedua pemuda itu begitu saja.
Sementara Maura yang tadi mengendarai sepeda mininya berhenti di depan sebuah rumah seorang perempuan cantik. Maura pun melepaskan headset yang dia pakai saat di jalan tadi, makanya dia tidak mendengar saat dipanggil oleh Aufan.
"Hello Nona, ini ada pesanan bunga untukmu," ucap Maura.
"Dari siapa? Tanya Gadis itu yang sedang menyiram bunga di halaman.
"Aku juga tidak tahu Nona. Mungkin pacar Anda," ucapnya.
"Ooh," shut wanita itu.
"Ini, Terimalah, itu juga ada suratnya loh," ucap Maura.
Maura pun menyerahkan beberapa kuntum bunga mawar kepada wanita itu.
Kemudian Maura pun pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Alangkah bahagianya kalau seandainya aku memiliki seorang kekasih seperti itu,sangat indah," lirih hati Maura.
Dia pun tersenyum saat mengingat hari-hari bersama Aufan dulu, kemudian Maura pun meraba perutnya.
"Sayang, maafkan Mama, mungkin kau tidak akan pernah bisa bertemu dengan papamu nak," ucap Maura dalam hati, sambil terus mengelus perutnya yang masih datar.
Maura sudah kembali ke toko bunga. Sekarang Maura bekerja di toko bunga itu. Karena tadi dia ngotot ingin mengantarkan sendiri bunga pesanan orang, untuk dikirim ke rumah gadis itu, karena Maura merasa bosan hanya tinggal di toko bunga.
"Tuan Ibrahim," siapa Maura saat melihat Bosnya sudah duduk manis di dalam toko bunga itu.
"Maura, Kenapa kau mengantarkan bunga itu? Bukankah masih ada karyawan? kau tidak usah capek, Maura kau harus menjaga kesehatanmu," ucap Ibrahim.
"Aku olahraga juga kok Tuan, aku senang bisa melihat pagi yang indah."
Ibrahim pun menatap lekat wajah cantik Maura.
"Maura... Maukah kau jadi istriku?" lamun Ibrahim.
BERSAMNUNG...
__ADS_1