
Malam ini Aufan kembali akan dinikahkan dengan Maura. Ini adalah kali ketiga Aufan dan Maura akan menikah. Jangan sampai gagal lagi ya Thor. Semua keperluan pernikahan sudah disiapkan oleh Mami sambung Aufan, setelah sholat Isya, semua undangan telah datang, dan acara pun dimulai.
Maura yang tidak punya keluarga terpaksa menikah dengan di walikan kepada wali hakim.
"Mari kita mulai acaranya ," ucap penghulu.
"Saya nikahkan, Maura binti Abdullah dengan bla bla bla bla bla seperti itulah kira-kira pernikahan malam ini hingga akhirnya Aufan pun menjawab ijab kabul tersebut.
"Bagaimana saksi sah?"tanya penghulu.
Semua yang hadir di situ pun melongo menunggu jawaban Saksi.
Dann kedua saksi pun menjawab 'Sah'
"Alhamdulillah."
Vena yang sangat kesal pun meremas jemarinya kuat, hatinya sangat jengkel Harus melihat suaminya, menikah di depannya. Setelah itu acara makan-makan beserta tamu undangan pun di mulai, tamu hanya orang orang yang ada di sekeliling rumah Aufan.
Mami tampak senang, begitu juga Pak Irlangga, yang terus tertawa-tawa bahagia berbicara dengan tamu-tamunya yang ada di situ.
"Pah... Kenapa kau terlihat senang sekali?" tanya Mami pada Pak Irlangga.
"Tentu saja aku senang, oh iya Mi, tolong kau beri pembantu khusus untuk Maura, Aku ingin semua kebutuhan vitamin dan gizi bayinya terpenuhi dengan baik," ucap Irlangga.
"Baik Pak, tapi apakah harus begitu? Bukankah Bibi juga bisa mengatasinya?" tanya Mami.
"Aku tidak mau pembantu Maura dicampur adukan dengan pembantu rumah tangga kita, aku ingin pembantu ini hanya melayani Maura saja, Ingat! harus cari orang yang amanah," ucap Pak Irlangga lagi.
Vena yang mendengar percakapan suami istri itu pun menjadi panas membara. Hatinya sangat cemburu dan semakin marah lada Maura.
"Mengapa tidak aku saja yang hamil? Baiklah, besok aku akan melepas KB ku, dan mudahan saja aku juga cepat hamil," ucapnya.
Vena bersemangat sekaki untuk memutuskan melepas KB dan segera hamil. setelah tamu undangan pergi, tinggallah mereka sekeluarga yang ada di ruang tamu itu Saat Aufan dan vena akan naik ke atas.
"Aufan, tunggu!" panggil Irlangga.
"Iya Pa."
Aufan pun mendekat kembali, sementara Vena menunggu di tangga.menatap misterius pada sang Mertua,' Apa lagi ini?' batinnya.
"Aku ingin kau menemani Maura malam ini, dan aku ingin kau bergiliran antara tidur dengan Vena dan Maura," titahnya.
__ADS_1
"Pa tapi...."
"Mungkin kau bisa tidur dengan Maura selama 2 hari dalam satu minggu, dan 5 hari bersama Vena," ucap Pak Irlangga.
"Tapi pa...."
"Ah tidak ada tapi-tapian, seorang ibu hamil itu sangat memerlukan kasih sayang seorang suami, aku ingat dulu waktu Mamamu hamil, dia sering muntah-muntah kalau bangun pagi, dia sangat manja. Bahkan dia sering minta gendong aku hanya untuk ke kamar mandi," ucap pak Irlangga membuat Mami sambung Aufan merasa cemburu di dalam hati.
Sementara Vena yang berdiri di atas tangga pun merasa terbakar api cemburu kembali, Sangat cemburu luar biasa.
"Baiklah Pak, nanti aku akan kompromi dulu dengan Vena, tapi untuk malam ini... aku tidak bisa Pak," tolak Aufan
"Baiklah, terserah kau saja."
Akhirnya Aufan pun mendekati Vena dan merangkul istrinya itu menaiki tangga.
"Fan, masa peraturan papamu semakin tidak masuk akal sih, dia memaksamu menikah dengan Maura, oke, aku setuju, karena memang katanya itu adalah anakmu, walaupun kita tidak tahu mungkin saja itu anak siapa, tapi yang ini Aku merasa sangat keberatan Fan, masa kau harus tidur dengannya? Bagaimana dengan aku? Aku pasti tidak bisa tidur semalaman membayangkan kau tidur dengannya," ucapnya.
"Sayang, itu bisa diatur, aku kan bisa mengancam Maura, aku tidur saja di kamar Maura, tapi aku bisa tidur di bawah kan? atau dia yang aku suruh tidur di bawah," ucap Aufan."
"Oh iya, aku punya usul, Bagaimana kalau kita siksa saja sih Maura, biar dia tidak tahan tinggal di sini, dan kemudian pergi meninggalkan rumah ini," ucap Vena
"Menyiksanya? Apakah tidak ketahuan papa?" ucap Aufan takut.
"Iya juga ya, tapi tidak usah juga lah kita menyiksanya begitu berat, sebaiknya aku yang akan tidur di ranjang, dan dia tidur di lantai, sesekali saja kau tin**das ringan, tapi jangan berlebihan, biar dia pergi dari rumah kita, mungkin saja dia hanya menginginkan harta kita, jadi dia mau ngaku-ngaku hamil anakku," ucapnya.
"Kau Benar juga, ternyata kau berpihak kepadaku, Kukira dengan menikahinya kau bakal berubah pikiran," ucap Vena.
"Sayang... kau kan istriku, aku tahu bagaimana rasanya hatimu diduakan."
"Aku sangat cemburu Sayang," ucapnya manja.
"Sayang... kau tenang saja," ucap Aufan.
Aufan benar-benar plin-plan, akalnya sudah tidak sehat dan tidak waras, mungkin karena pengaruh obat yang selalu diberikan Vena padanya, sebenarnya benar enggak sih obat yang dikasih Vena itu resep dari dokter? jadi penasaran Othor.
Jam yang sudah menunjukkan jam 09.00 malam, orang rumah sudah tertidur dan tampak sepi. Namun Maura merasa gelisah, kemudian dia pun keluar kamar untuk mengambil minum ke dapur, namun saat di dapur, dia tidak menyangka kalau Aufan pun juga ada di dapur.
"Tuan," sapa Maura.
Aufan yang baru membuka lemari es pun kaget dan menoleh ke arah Maura. Entah mengapa tiba tiba dia memegangi kepalanya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Maura.
"Aku pusing...aku juga lupa minum obat malam ini, karena pernikahan tadi. Vena juga terlihat lelah jadi dia lupa memberiku obat."
Wajahnya tiba-tiba terlihat terkejut saat menatap wajah Maura, Dia teringat bahwa saat itu dia Mengamuk di cafe Mami.
"Maura, kau kah itu?"
Tiba-tiba Aufan mendekati Maura. Aufan memegangi pundak Maura.
"Maura, kau kah ini? ucap Aufan lagi.
"Aufan apa yang terjadi padamu?"
"Maura... aku mencari mu, aku mencari mu," ucap Aufan pelan, namun dia masih memegangi kepalanya dengan tangan kanannya, dan memegang pundak Maura dengan tangan kirinya.
"Ayo kita ke rumah sakit saja," ucap Maura.
Namun tiba-tiba.
Bruk
Aufan terjatuh, tepat di depan Maura. Maura pun kaget dan panik. Maura memanggil bibi, karena kamar bibi memang dekat di dapur itu.
"Bibi... Tolong bibi," teriak Maura.
"Nona ada apa?" tanya bibi saat mendengar orang berteriak.
"Aufan Bi, pingsan, tolong panggilkan papah, biar dibawa ke rumah sakit," ucap Maura.
Bibi pun lari menuju kamar Irlangga. memanggil papa Aufan yang sedang tidur.
"Ada apa? apa yang terjadi?" tanya pak Irlangga.Vena pun juga sudah dibangunkan.
"Kenapa dia pingsan? Maura... apa yang kau lakukan padanya?" ketus Vena.
"Aku tidak melakukan apa-apa, saat aku minum, Dia juga berada di dapur, kemudian dia memegangi kepalanya dan terjatuh," ucap Maura membela diri.
"Cepatlah, kita bawa dia ke rumah sakit, panggilkan paman satpam!" titah Irlangga.
Akhirnya Aufan pun dibawa ke rumah sakit di rumah sakit, dia akan mendapatkan pemeriksaan, mudahan saja dokter tahu kalau dia memang salah minum obat selama ini.
__ADS_1
Bersambung...