
"Aufan, Tolong Mami Aufan ...." ucap Mami berteriak saat melihat Aufan berdiri di dekat tangga.
"Mami ..., Mami kenapa?"
Aufan pun berlari mengejar Maminya dan kemudian menariknya menjauhi Api yang berkobar di ruangan dapur.
"Bagaimana ini Fan? Mami terbakar Fan!" pekik histeria Mami.
Aufan pun membawa Maminya keluar rumah, dan menyeret Maminya dengan tergesak gesak.
Api di dapur semakin membesar, kemudian mereka pun memanggil pemadam kebakaran, tak berapa lama, karena memang pemadam ada di dekat rumah mereka, pemadam pun datang dan memadamkan api lewat pintu belakang.
"Untunglah hanya semua dapur saja yang hangus, tidak sampai merambat ke mana-mana," ucap oemadam.
Sementara Mami Aufan pun segera dibawa ke rumah sakit terdekat, saat Mami di bawa ke rumah sakit itu, dia melihat mobil Papanya Aufan juga ada di sana.
"Kenapa Papa juga ada di sini?" tanya Aufan pelan.
Namun dia tidak memperdulikannya dan segera membawa maminya ke ruang IGD, Aufan pun menunggu sampai perawat menangani luka bakar Maminya, Mami mengalami luka bakar di wajah dan juga tangannya.
"Aufan ...."
"Mi, tenang,dulu, luka bakar di wajah Mami tidak serius kok, " ucap Aufan.
Padahal, ada bagian pipi sebelah kanannya yang sangat melepuh, dan mungkin akan meninggalkan bekas yang sempurna.
"Aufan ... Aku tidak mau cacat Aufan ... tolong aku ... Tolong carikan dokter bedah yang terbaik untuk ku Aufan, Aku tidak mau cacat, Aku tidak mau Papa mu meninggalkan ku Fan," ucap Mami sangat takut, karena merasa pipinya terbakar hebat.
"Mami ... Mami tunggu dulu! Mami sabar dulu, biar dokter mengobati Mami di sini dulu," ucap Aufan.
"Mana Vena? Kenapa dia tidak terlihat?" ucap Mami.
"Aku tidak tahu Mi, tadi saat aku membawa Mami langsung ke mobil, aku tidak melihat Vena di sana, tadi saat Mami terbakar, Dia berlari duluan keluar," ucap Aufan.
"Kurang ajar anak itu! tidak bisa balas budi, jelas-jelas dia melihat aku terduduk di lantai, malah dia pergi begitu saja meninggalkanku," gerutu Mami.
"Mungkin dia takut Mi, karena melihat api yang begitu besar," ucap Aufan.
"Dasar kurang ajar, sebaiknya kau tinggalkan saja dia! Lagian Maura sedang hamil anakmu, dan kau akan punya anak, yang akan mewarisi harta papamu!" ketus Mami.
__ADS_1
"Kok Mami gitu sih? Gimana sih ini? kemarin-kemarin mendukung aku sama Vena, sekarang malah mau memisahkan kami?" bingung Aufan dengan sikap Maminya.
"Pokoknya kau harus mengurusku dulu, kau harus mengembalikan wajah ku seperti semula, aku tidak mau cacat," ucap Mami lagi.
Mami pun di beri salep dan kemudian dibiarkan begitu saja. Panas yang terasa membakar membuat Mami merasa sangat kesakitan.
"Fan ... Tolong Mami, panas Fan," rengek nya.
"Sebaiknya Ibu bobo dulu, biar obatnya bereaksi dengan cepat,", ucap dokter.
dokter pun menyuntikkan obat tidur kepada Mami, agar Mami tidak merasakan panas terasa terbakar.
Kemudian Aufan pun menelpon Papahnya. Dan memberi kabar tentang Mami sambungnya yang sedang terluka.
"Hello Pa, Papa ada di mana?" tanya Aufan.
Pa Irlangga yang juga kebetulan ada di rumah sakit tersebut pun mengangkat telepon dari Aufan.
"Emang kenapa kau menanyakan itu?" ketus Pak Irlangga.
"Mami terbakar Pah, Mami terbakar di dapur saat aku datang tadi," ucap Aufan.
"Aku juga tidak tahu, Bibi juga tidak ada di rumah, tadi terbakar begitu saja, tapi udah dipanggil pemadam kok, sekarang Mami ada di rumah sakit Intan," ucap Aufan.
"Oke ... Oke, baiklah, tolong kau Sebutkan kamarmu, Aku akan segera ke sana," ucap pak Irlangga.
"Baik Pah."
***
"Alin ... ingat! aku ingin Aufan tidak tahu kalau Maura ada di sini, aku harus melakukan sesuatu kepada Vena dan Aufan, dan juga ... Aku tidak ingin kecelakaan seperti ini terulang kembali, aku sudah mengetahui semuanya, dokter juga sudah mengatakan kepadaku, kalau ini adalah racun yang memang sengaja ditaburkan di makanan Maura," ucap pa Irlangga.
"Benarkah begitu Tuan? siapa yang meracuni Maura? tapi mengapa kami tidak terkena racun itu?" tanya Alin heran,
"Ini racun khusus untuk Maura, bukankah kau tadi mengatakan kalau kalian makan rujak pemberian Vena?" tanya Pa Irlangga.
"Iya Tuan, jadi berarti maksudnya ... wanita itu ya?" tanya Alin.
"Aku mencurigai seperti itu, tapi aku tidak punya bukti, jadi aku tidak bisa mengatakannya sekarang, dan sekarang dapur kita juga sudah terbakar ...."
__ADS_1
"Terbakar? Astagfirullah, tadi Bibi lagi menggoreng ikan Tuan," panik Bibi tiba tiba saat ingat kejadian tadi.
"Sudahla Bi, tidak apa apa, yang penting Maura bisa selamat, aku akan pergi dulu, jaga Maura baik-baik, nanti akan aku kabari lagi, Oh ya Bi ... tolong kau segera pulang dan bersihkan kamar Maura, jangan sampai ada darah sedikit pun di kamarnya. Aku tidak ingin siapapun tahu, begitu juga Paman satpam, kau harus menjelaskan kepadanya semuanya," ritah Irlangga.
"Oke Baik Tuan, Aku akan segera pulang dan membersihkan semuanya," sahut Bibi.
"Baiklah aku pergi, Alin jaga Maura dengan baik."
"Baik Tuan Bos."
Akhirnya Pa Irlangga pun segera menuju ruangan yang sudah disebutkan oleh Aufan, tak Berapa lama, karena memang dia sudah di sana, Irlangga sudah ada di depan ruangan Audan dan Maminya.
"Kenapa papa cepat sekali sampai sini?" tanya Aufan heran.
"Aku tadi makan di sekitar sini, makanya sekarang aku cepat sampai kemari," ucapnya.
"Tolong aku Pah, panas Pah, lihat wajahku ini! Pah wajahku terbakar, Tolong cari dokter bedah yang paling profesional, Pah, aku tidak mau cacat," ucap Mami sambil menangis.
"Iya Mi, kau Tenang saja dulu, kau pasti sembuh, tapi kenapa bisa sampai begini?" tanya papa.
"Aku juga tidak tahu Pah, saat aku baru sampai dapur, tiba-tiba api sudah besar, gas pun meledak, aku panggil-panggil Bibi, Bibi juga tidak ada, Maura atau Alin pun juga tidak ada."
Papa pun menatap wajah istrinya yang memerah, sepertinya Pili itu mulai akan melepuh.
"Mungkin Bibi tadi sedang memasak, tapi dia lupa kemudian dia tinggal," ucap Aufan.
"Mungkin gasnya bocor, sudahlah, itu cuma sebelah kok, kecelakaan musibah kan memang tidak bisa kita tebak," ucap Irlangga.
"Aku tidak akan memaafkan Bibi, kalau memang tadi dia yang memasak," ketus Mami.
"Sudahlah, mana mungkin Bibi lupa, pasti kebocoran pada Gas saja, oh iya, aku masih ada janji jam 10 ini, mengambil berkas perusahaan, aku tinggal sebentar ya?" ucap Irlangga.
"Papa mau meninggalkan aku di sini? Tega banget sih Papa?" ucap Mami merengek.
"Ani ... kan ada Aufan, nanti aku telepon Aman juga, biar menemani kalian," ucap Papa.
Irlangga pun pamit meninggalkan rumah sakit. Sebenarnya dia bukan ada pertemuan, namun dia ingin pulang ke rumah diam-diam dan menyelesaikan kekacauan di kamar Maura.
Bersambung...
__ADS_1