Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Terhinakan


__ADS_3

Aufan tampak beristirahat di Apartemen rahasianya. Matanya menerawang menatap langit-langit dinding dan sesekali menghembuskan nafasnya kasar.


"Bos, hari ini kita mau ke mana lagi?" tanya Aman.


"Oh iya, hari ini aku ada janji dengan Vena, Dia ingin shoping, tolong persiapkan uang cash 10juta," ucapnya.


"10 juta? 2 kali lipat gajih ku itu, itu mau di habisin sama vena?" tanya Aman heran dan terlihat protes.


"Kenapa, emang kamu rugi apa? Entar aku beli in baju juga buat istrimu, baju seperti karung beras gitu 'kan? Ha ha ha," Aufan tertawa terbahak bahak saat mengejek istri Aman, sambil bercanda.


"Eh Fan, jangan sembarangan!" Tiba tiba Aman geram saat istrinya di katain karung beras, istri Aman 'kan pakai baju syar'i dan kerudung besar gitu.


"Eh kamu manggil namaku?" tanya Aifan kaget, saat namanya di langhil oleh jongosnya.


"Oh__Anu, itu, Bos," Aman,tampak gugup dan merasa takut.


"Ya sudah, nggak usah ikut campur, aku mau mandi dulu, siapkan saja uangnya," ucapnya kemudian.


Aman pun pergi ke bawah untuk mengambil uang di ATM. Sementara Aufan masuk ke kamar mandi dan menghabiskan waktunya berendam di bathub.


"Bos, ini uang sudah siap? Apa aku ikut atau aku tinggal, kalau aku tinggal, aku mau pulang sebentar, untuk ketemu anak-anak," ucap Aman.


"Kau pulang saja, mobil jangan di bawa, kau pakai Ojek aja ya!" ucapnya.


"Baik Bos."


Aman pun pergi meninggalkan Apartemen rahasia itu dengan gumaman yang tak mengenakkan.


"Kalau aku cerita ke Ani, pasti dia akan menyuruhku berhenti kerja, kalau aku berhenti kerja, mau di beri makan apa istri dan anakku?" gumamnya


Aman pun sudah mendapatkan akang Ojek dan pergi meninggalkan Apartemen Aufan. Aufan tampak masih berendam di bathub ketika Teleponnya berbunyi, Aufan pun segera menyudahi mandinya dan bergegas keluar.


"Hello, ada apa Sayang?" ucapnya ketika melihat nama Vena tertera di sana.


"Kau di mana? Aku sudah ke apartemen mu, namun kau tidak ada? Kita jadi jalan 'kan- tanya Vena di seberang telepon.


"Aku lagi di jalan mengantar Aman pulang, kau tunggu di sana! aku kan segera datang," ucap Aufan seraya menutup teleponnya. Aufan pun bergegas mengambil baju minyak wangi dan menyambar kunci mobilnya. Aufan tampak bernyanyi-nyanyi ala ala barat sepanjang jalan menuju Apartemen lamanya. Setalah menempuh perjalanan 30 menit, Aufan pun sampai di bangunan megah itu.


"Sayang, udah lama?" tanya Aufan seraya memeluk wanitanya itu.


"Udah, hampir lumutan ini," sahut Vena manja.


"Ayo! Mau Shoping ke mana?" tanyanya.


"Terserah aja lah,"


Merek pun meluncur menunggu mall terdekat.

__ADS_1


"Beli in aku cincin tunangan ya?" rayu Vena yang bersandar manja di bahu Aufan.


"Hari ini? Tapi aku nggak bawa uang sebanyak itu? Tadi ambil uang cuma buat Shoping," ucap Aufan.


"Ya ambil lagi, apa susahnya?" ucap Vena.


"Tapi ATM ku sama Aman, dan Aman sekarang sedang pulang, buat nengokin anaknya," ucap Aufan.


"Aaaah, ribet banget sih hidup Loe, ATM milik kamu, uang dan lainnya milik kamu, kenapa sih harus Dia yabg simpan?" kesal Vena sama Aufan.


"Kita beli baju aja dulu ya! Nanti beli yang lainnya," ucap.


Wajah Vena cemberut karena kesal. Mereka pun sampai di pusat perbelanjaan yang ramai.


"Kamu bebas memilih yang mana kamu suka," ucap Aufan.


Vena pun begitu bersemangat memilih barang yang ada di mall tersebut.


"Eh kamu! Minggir dong! aku mau milih milih nih! Emang kamu mampu beli baju yang mahal di sini?" sindir Vena pada seorang wanita yang sedang memilih barang di sana juga.


"Eh aku juga mau beli, bukan mau minta, aku yang duluan di sini," ucap wanita itu.


"Tapi aku mau borong semua barang di stand ini, sana sana!" usir Vena lagi.


"Nggak!" wanita itu pun terus memilih barang yang ingin dia beli.


Seorang karyawati pun mendekat dan mengambil baju yang ada di pajangan, Wanita itu masih berdiri dan sangat kesal. Aufan yang mendengar teriakan Vena pun menoleh.


Dooor


"Maura?" Aufan kaget, saat melihat wanita yang sedang bersaing dengan Vena adalah Maura. Maura yang mendengar sayup sayup namanya di panggil pun spontan menatap arah suara Aufan.


"Dia?" Maura gemetar, entah mengapa, dia merasa takut dengan lelaki yang ada di hadapannya itu.


"Sayang, ayo bayar!" tiba tiba Vina merangkul pundak Aufan den membawanya ke kasir untuk membayar.


"Dasar perempuan kurang ajar!" bentak Vena saat menoleh kembali ke arah Maura.


Tiba tiba Maura meneteskan air mata, entah perasaan apa yang ia rasakan saat di hina oleh Vena, hatinya sangat sakit, apalagi Vena datang bersama Aufan, lelaki yang telah merenggut kegadisannya itu. Maura pun berbalik dan berlari dari toko itu. Sementara Aufan hanya menatap dari kejauhan kepergian Maura.


"Tunggulah, nanti aku akan ke club untuk menyusulmu," lirih hatinya.


"Berapa semuanya Mbak?" tanya Vena.


"6 juta 300 ribu Nona,"


Aufan pun membayar semua belanjaan Vena. Ketika HP Vena berdering.

__ADS_1


"Tunggu, aku mau menerima telepon di sana, di sini berisik, kamu tunggu di sini ya!" ucapnya. Aufan percaya dan mengangguk.


"Hello, ada apa kau meneleponku, aku lagi sibuk ini, nanti ku tambah uangnya, tapi awas kalau kau membocorkan rahasia kita."


Klok.


Telepon di tutup.


Vena mendekati Aufan dan pergi untuk makan bersama.


"Aufan, boleh nggak aku minta tambahan uang jajan?" ucap Vena manja.


"Boleh, berapa?" tanyanya.


"2 juta,"


"Oooh," Aufan pun mengambil dompetnya dan memberikan 2 juta ke tangan Vena, Vena tampak tersenyum.


"Terima kasih sayang(sambil mencium tangan Aufan) oh iya, aku pulang pakai grabe saja ya, soalnya aku mau ke rumah teman dulu, ada urusan," ucapnya.


"Baiklah, kalau begitu ayo! Aku juga ada urusan," ucap Aufan.


Di parkiran mereka berpisah. Sepanjang jalan menuju club, hati Aufan tak karuan, Dia melihat ada butiran air bening jatuh di ujung matanya Maura saat Vena memborong semua pakaian yang ingin di beli Maura tadi.


***


Maura sudah sampai di tempat nya bekerja, dia lun masuk ke kamar pribadinya dan menatap cermin.


"Lelaki itu pasti sangat kaya, baiklah, aku harus bisa menaklukkannya, aku sudah tercebut, dan aku akan bercebur semakin dalam,"


Maura menyisir rambutnya, merias wajahnya tipis, bibirnya yang merona sangat menggoda.


Ceklek


"Maura, ini Tuan Aufan sudah datang," ucap Lin.


"Masuklah," sahutnya.


Lin pun mempersilahkan Aufan masuk, Aufan dengan santainya masuk dan duduk di sisi ranjang Maura.


Lin menutup pintu kamar Maura dan pergi meninggalkan kamar itu.


Hap


Tiba tiba Maura duduk di pangkuan Aufan, dan melingkarkan tangannya di leher lelaki tampan itu. Aufan yang melihat perubahan Maura pun jadi kaget dan bingung.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2