
Vena dan Aufan tampak masih di perjalanan menuju Apotik. Aufan kini sudah tidak lagi terbayang wajah Maura di otaknya, sepertinya kini Vena memberikan obat yang lebih keras lagi pada Aufan, hingga dia benar benar telah kehilangan ingatannya tentang Maura.
"Jadi bagaimana Sayang, apakah kita akan memberikan obat penggugur kandungan? Atau kita culik saja Maura dan kita asingkan?" tanya Vena, saat di perjalanan menuju Apotik.
"Kalau kita menculiknya, Papa pasti bisa menemukannya, tapi kalau kita kasih obat penggugur kandungan,kita tidak akan dicurigai, karena pendarahan itu kan biasa pada wanita hamil muda, aku sering lihat di film film begitu," ucap Aufan.
"Iya juga sih, kalau begitu, kita bikin dia keguguran saja, kalau dia keguguran dan bayi yang dikandungnya itu meninggal, maka papamu tentu saja tidak akan mempertahankan Maura lagi di rumah kita, dan kita akan kembali seperti semula," ucap Vena.
"Oke, baiklah, sekarang kau yang beli obat penggugur kandungan itu, karena kan kau wanita, beli yang paling keras, agar tidak bisa terselamatkan anak Maura itu," ucap Aufan.
Vena turun dari mobil saat sudah sampai di sebuah apotek. Entah apa yang dipikirkan Aufan, kini otaknya benar-benar telah berubah jadi monster, yang dikendalikan oleh Vena. Dia benar-benar melupakan bahwa wanita yang selama ini dia cari-cari itu, adalah Maura.
Vena pun kemudian turun dari mobil menuju sebuah Apotek, yang ada di pinggiran jalan.
"Aku mau beli obat penggugur kandungan, yang ampuh ya Mbak," ucap Vena.
Apotiker itu pun menatap wajah Vena tajam, dan terlihat sinis. Namun karena Vena menggunakan masker jadi, tentu saja dia kurang merasa malu.
"Maaf Mbak, kami tidak menjual obat seperti itu," ucapnya sedikit ketus.
"Masa nggak ada sih Mbak?" kesal Vena.
"Maaf, tidak ada," ucapnya lagi.
Apotiker itu sinis dan tidak suka dengan kelakuan Vena, mungkin apoteker mengira, Vena lah yang akan menggugurkan kandungannya.
"Oh... baiklah, terima kasih," ucap Vena.
Kemudian Vena pun pergi menemui Aufan di dalam mobil.
"Sayang... mereka tidak ada jual obat penggugur kandungan, bagaimana ini?" tanya Vena.
"Benarkah? Mengapa Apotek sebesar itu tidak menjual obat yang kita pinta? Baiklah kalau begitu, sebaiknya kita cari Apotek lain," ajak Aufan.
__ADS_1
Akhirnya mereka pun pergi meninggalkan tempat tersebut, mereka kembali menyisiri jalanan sambil mencari Apotik lagi.
"Eh... tapi tunggu! apa mungkin Apotek itu takut kalau kita beli terang-terangan obat begituan? Coba kita tanya temanku dulu, aku punya teman yang pernah ngelakuin ini," ucap Vena.
Akhirnya Vena pun menghubungi temannya, yang pernah melakukan abo**rsi, dengan meminum obat. tak berapa lama Vena pun mendapat jawaban.
"Oh... ternyata begini loh Fan, Lihatlah, kita tidak perlu mengatakan kalau kita beli obat penggugur kandungan, kita akan mengatakan kalau kita mau beli obat ini, Lihatlah! berbagai macam obat yang dianjurkan oleh Temanku, ayo kita cari Apotek lagi!" Ajak Vena.
Akhirnya Vena dan Aifan pun kembali mencari apotek dan berhenti di pinggiran jalan, kembali Vinal lah yang membeli obat tersebut, dan akhirnya mereka pun mendapatkan obat itu.
"Fan berhasil, lihat ini! Ini obatnya, kata temanku, obat ini akan kita racik kemudian kita masukkan ke dalam air," antusias Vena.
"Apakah tidak pahit?" tanya Aufan.
"Tidak, obat ini tidak ada rasanya, jadi kita bisa menggunakannya, tapi bagaimana kita memberikannya kepada?Maura ya? kan dia selalu diawasi oleh Mbak Alin?" tanya Vena.
"Iya ya... tapi kalau kita letakkan obat di dalam galon di dapur? bagaimana? untuk kita yang tidak hamil kan tidak mempengaruhi?" ucap Aufan.
"Mungkin... Oh iya, mungkin juga ya, kau memang pintar, Baiklah Sayang. Ayo sekarang kita pulang!" Ajak Vena.
Di perusahaan Irlangga, tampak beliau sedang membereskan arsip-arsip yang sudah selesai dikerjakan. Dia tampak tersenyum dan bahagia, entah apa yang membuatnya begitu bahagia akhir-akhir ini.
"Aman... tolong kau bersihkan ruangan yang ada di perusahaan cabang itu, besok aku ingin membawa Maura ke sana. Aku ingin dia menghandle sendiri perusahaan itu, perusahaan itu aku berikan untuknya dan juga anaknya, Biar mereka bisa mandiri, karena aku takut saat aku sudah tidak ada, Aufan dan Vena akan mencelakai mereka, karena aku tidak tahu sekarang Aufan sepertinya sudah menjadi orang beg***o, dan jadi mainannya oleh Vena." ucap Irlangga.
"Iya Pak Bos, siap," sahut Aman.
"Oh ya, aku ingin tahu sebenarnya Maura itu seperti apa, saat pertama kali bertemu dengan Aufan?" tanya Aman.
"Tuan Besar, sebenarnya Maura itu anak baik, saat pertama kali bertemu Aufan, dia hanya seorang pengantar minuman di sebuah Cafe, dia bukan seperti yang Vena katakan. Dia hanya menyuguhkan minuman saja, namun dia memiliki seorang sahabat yang sangat akrab, dan menjual dirinya kepada Aufan, dia pun di bius sehingga Aufan bisa menggagahiny**, seperti itulah yang aku tahu Tuan," ucap Aman.
"Jadi dia bukanlah wanita malam yang seperti orang-orang katakan?" tanya Irlangga.
"Iya Tuan, dia hanya menemani minum dan mengantarkan minuman saja, saat dia tahu dia dijual oleh temannya, dia sangat marah kemudian dia berhenti dari Cafe tersebut, Namun ternyata Bos Cafe tersebut juga curang, menjual maura ke temannya yang lain, tanpa sepengetahuan Maura," tambah Aman.
__ADS_1
"Oh... Malang sekali nasib gadis itu, Oh ya, bagaimana dengan Vena?" tanya Irlangga.
"Oh ya Bos, aku sudah menyelidikinya, Vena mempunyai orang tua di kampungnya, orang tua yang sudah renta dan sakit-sakitan," ucap Aman.
"Jadi dia masih ada orang tua?" tanya Irlangga.
"Iya Bos, 2 orang tua yang sakit-sakitan," sahut Amna lagi
"Bagaimana dengan saudara lainnya?" tanya Irlangga lagi.
"Dia mempunyai satu Adik, seorang adik laki-laki, namun katanya Adik laki-lakinya sudah pindah dari desa tersebut, bersama seorang anak kecil," sahut Aman.
"Anak kecil? Apa yang dimaksud mereka?" Ucap Irlangga lenasaran.
"Entah Tuan, aku tidak menanyakan hal itu, mungkin anak kecil itu adalah anak beliau Tuan," sahut Aman.
"Siapa nama saudara Vena itu?" tanya Irlangga.
"Kalau aku tidak salah ingat, nama saudara laki-laki Vena itu adalah Didi, Tuan, dia adalah adik kandung dari saudara Vena," ucapnya.
"Oh baiklah. Apakah mungkin kita juga bisa menyelidiki Didi itu? mungkin saja kita mengetahui sesuatu tentang Vena, mengapa dia tidak pernah mengatakan kepada kami bahwa dia masih mempunyai keluarga, bahkan juga seorang adik," titah Irlangga.
"Baik Tuan, Aku akan menyelidikinya kembali. Tapi sementara ini aku tidak bisa terlalu jauh dari rumah, Tuan, Karena istriku sekarang sedang hamil tua, aku takut dia akan melahirkan dalam waktu dekat ini."
"Oh begitu ya. Selamat ya, kalau nanti melahirkan, kau tidak usah sungkan, semua biaya kelahiran maupun Caesar, ataupun normal, biar aku yang akan membayar semuanya," ucap Irlangga.
"Terima kasih, Tuan, kalau begitu, aku pamit dulu, Tuan."
"Ya silakan."
Akhirnya Aman pun pergi meninggalkan ruangan Irlangga, sementara Irlangga tampak berpikir sesuatu.
"Kenapa begitu banyak rahasia yang kau sembunyikan Vena? terus, aku juga tidak tahu gimana Awal kamu jadian dengan Aufan, yang aku tahu saat itu, kau datang ke rumah bersama Aufan, namun aku heran kenapa kau tiba-tiba saja langsung bisa akrab dengan Mami, Padahal Mami adalah tipe orang yang sedikit sombong," ucap Irlangga.
__ADS_1
Bersambung...