
Alangkah kagetnya Maura saat menyadari siapa yang ada di hadapannya itu. Maura pun memiringkan wajahnya, karena saat ini Maura memakai topi, agar wajahnya tidak terlalu terlihat. Maura benar benar kaget luar biasa.
Mami pun keluar dari kamarnya. Maura langsung berdiri dan menghadap Mami. Sementara Vena terlihat menuju dapur dengan cueknya.
"Ini Nona uangnya, kembaliannya ambil saja!" ucap Mami.
"Terlalu banyak Nyonya, ini kembaliannya 70.000," ucap Maura.
"Tidak apa-apa, segitu mah sedikit, kau simpan saja," ucap wanita itu terdengar sedikit sombong.
"Terima kasih Nyonya, saya permisi," ucap Maura.
Ma pun segera mengambil langkah seribu.
"Mami... Mana Vena?" panggil Aufan dsri atas tangga.
Reflek Maura pun terhenti berjalan, kakinya rasa gemetar saat suara itu terdengar di telinganya. "Aufan'" lirihnya.
"Di dapur mungkin," sahut Mami.
"Siapa dia?" tanya Aufan menunjuk ke arah Maura yang sedang berdiri mematung di depan pintu.
"Nona? Ada apa?" tanya Mami heran ketika melihat Maura terdiam.
Maura kemudian berjalan cepat meninggalkan pintu.
"Siapa Mi? Sepertinya aku mengenalnya" tanya Aufan lagi yang penasaran.
"Ooh, itu... Si penjual bunga, dia mengantarkan bunga untuk Mami, aku ingin memberi kejutan pada Vena di hari ulang tahunnya...."
Aufan berlari mengejar si penjual bunga. Sedang Maminya heran melihat anaknya, dia bahkan belum selesai bicara, namun Aufan sudah mengabaikannya.
Aufan berlari menuju gerbang utama. Dia lun membuka pagar dan celingukan ke kiri dan ke kanan.
"Bos, ada apa?" tanya security.
"Apa kau melihat wanita pakai topi lewat di sini?" tanya Aufan.
"Iya Bos, apa maksud Bos si penjual bunga?" tanya paman security.
"Iya paman, arah mana dia pergi?" tanya Aufan.
"Ke sana Bos, emang ada apa Bos, apakah dia mencuri sesuatu?" tanya Security.
"Aku pinjam motormu, cepat!" bentaknya.
"Tapi Bos...."
"Cepat!" bentaknya lagi.
Aufan pun mengambil kunci yang tergantung i dalam pos satpam, dan pergi membawa motor butut milik paman satpam.
Sementara Maura sudah berada di dalam taksi menuju pulang ke toko bunga.
"Untung saja tidak sampai bertemu, ternyata benar, Aufan sangat kaya, apa kau beruntung? Atau kau sial sih?" lirih hati Maura sambil mengelus perutnya.
"Ayahmu sangat kaya, tapi apa mungkin dia akan memperlakukanmu dengan baik? Kalau nanti kau bertemu dengannya?"
__ADS_1
Hatinya terus bermonog sendiri. Hingga Dia tidak menyadari Aufan sudah berada dekat dengan mobil taksi mikrolet miliknya.
"Kemana sih Maura... Apa di dalam taksi itu ya? Bukankah tadi paman bilang naik taksi angkot? ah baiklah, baik aku kejar saja taksi itu," ucap Aufan.
Diapun mengencangkan gas kendaraannya hingga mencegat angkot yang ada di depannya.
"Berhenti!" teriak Aufan.
Angkot yang tiba-tiba di cegat Aufan pun kaget dan berhenti mendadak. Ibu ibu yang ada di dalamnya menjadi panik dan saling berteriak.
"Aaaaa.... "
"Hey, apa kau ingin mati? Dasar anak kurang ajar!" ump*et sopir Angkot yang kesal dengan ulah Aufan.
Aufan tanpa rasa bersalah masuk menengok ke dalam Angkot.
"Kau sedang mencari siapa? Apa mencari gadis cenderela di siang bolong? Hingga ku cegat Angkot kami ini?" ucap seorang ibu.
"Ha ha ha," tawa mereka.
"Aku mencari wanita bertopi, sedang hamil 4 bulan," ucap aufan.
"4 bulan mah mana kelihatan atuh?" ucap ibu yang lain.
"Sudah sana! Mengganggu jalan kami saja, kami ini wanita karir, karir di dapur, jangan mengganggu, zaman sekarang mana ada wanita muda naik Angkot? mending dia naik taksi atau grabe," ucap ibu yang lain.
Aufan pun keluar dan segera menghidupkan motornya kembali. Dia kembali mengejar mobil Angkot yang lainnya. Ada sebuah Mobil Angkot lagi di depan mobil ini.
"Pasti yang itu, karena tidak terlalu lama sejak aku mengejarnya tadi," ucap Aufan.
Aufan kembali mengejar satu angkot yang ada di depannya. Dengan kecepatan penuh dan bersemangat.
"Aufan?" lirihnya.
Maura menatap lelaki yang sedang menatap Angkotnya. Maura pun menyunggingkan senyum penuh misteri.
'Lihat ayahmu Nak! Dia sangat tampam, apa kau mau bertemu ayahmu lagi?' lirih hatinya lagi.
Aufan semakin mendekat dan matanya pun semakin jelas melihat orang krang yang ada di dalam Angkot.
"Maura! Tunggu!"
Maura tersentak kaget, senyumnya pun pudar saat mendengar namanya di panggil. Kini matanya beradu pandang dengan mata Aufan.
"Maura, tunggu!"
Aufan pun melambai ke arah Maura. Maura semakin gugup.
"Apakah lelaki itu memanggil salah satu dari kalian?" tanya Sopir yang melihat lambaian tangan Aufan.
Maura dan yang lainnya pun tidak ada yang menjawab.
"Iya ya, lelaki itu tampak melambai ke Angkot kita, berhwnti saja paman, mungkin ada yang ingin dia tanyakan," ucap salah satu penumpang.
"Ja... Jangan pa, terus saja, aku tidak ingin bertemu dengannya, kalau bisa, tolong di percepat," ucap Maura akhirnya.
"Ooh kamu ya istrinya, kalau ada masalah, jangan begini, lari lari, cape! Bicarakan baik baik, tu lihat! suaminya kasihan," ucap seorang ibu.
__ADS_1
'Suami?' lirih hati Maura sedikit tersenyum tipis karena merasa aneh.
"Saling memaafkan saja, ibu juga sering begitu, kayaknya suami kamu sangat sayang sama kamu tuh," ucap yang lainnya.
"Iya bu," sahut Maura.
"Apa kau mau turun?" tanya Sopir.
"Tidak Pa, lurus saja," ucap Maura.
Sementara Aufan terus mengejarnya, dengan terus melambai lambaikan tangannya.
"Maura! Berhenti, pak berhenti! kalau bapak tidak berhenti, aku akan melaporkan Anda pada polisi," ancam Aufan.
Paman solir lun kaget dan ingin meneli.
"Pak, jangan, aku takut di pukuli," icap Maura berbobong.
"Ooo... Jadi suami kamu tukang pukul?" tanya ibu ibu.
"Hmmm," Maura menggumam.
Maura pun mendramatiskan ucapannya dengan pura pura menangis dan menyeka air matanya.
"Oooh, kurang ajar, ayo pa, lebih cepat lagi!" ucap ibu yang lain.
"Bukankah Anda ingin berhenti di sini Bu Susi?" tanya sopir, karena Bu Susi sudah sampai di rumahnya.
"Lewatin saja, yang penting anak ini selamat," ucapnya.
Maura pun tersenyum tipis,'ternyata ibu ibu itu sangat mendukung kalau kita lagi di aniyaya' lirih hati Maura lagi.
"Maura! Tunggu!"
"Angkooot, tunggu!"
Seorang ibu ibu melambai i gin naik Angkot.
"Terus saja, nanti aku bayar kerugian mu, setiap 1 orang penumpang yang kau lewati sesuai tarif," ucap Bu Susi😄.
Sopir pun semangat semakin mempercepat laju mobilnya. Namun ternyata karena limayan mulai macet, Angkot pun mulai pelan dan melambat.
"Bagaimana ini? Lelaki itu hampir sampai, mana macet," panik Bu Susi yang merasa sangat ingin melindungi Maura.
Kini Aufan sudah berada di sisi mobil Maura.
"Maura! Dengarkan aku! Ayo turun Sayang!"
Layak suami beneran Aufan pun memanggil sayang segala.
"Hei, suami tukang pukul istri! Istri begini cantik kamu sia siain, lebih baik dia ku jadikan mantuku saja, ceraikan dia! biar aku kawinkan dengan anakku!" ketus bu Susi.
"Ha??? Suami tukang pukul istri?" tanya Aufan heran.
Maura tampak merasa panik. Kini Aufan malah hampir melewati Angkotnya.
'Pasti dia nekat mencegat Angkot kami lagi, seperti tadi, bagaimana ini?' lirih hati Maura.
__ADS_1
Ternyata Maura melihat saat Aufan juga mencegat Angkot sebelumnya.
Bersambung...