Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Ingin Utarakan isi Hati


__ADS_3

Maura berjalan gontai menuju toko bunga, kemudian dia pun duduk di sebuah kursi yang ada di toko itu.


Maura merenung dan melamun, tatapannya kosong. Sementara otaknya telah terisi oleh bayang-bayang kenangannya bersama Aufan, bagaimana malam-malam panasnya dulu, saat itu terasa indah, saat mereka melakukan kebersamaan di cafe Mami Line.


"Maura Kenapa kau melamun?" tanya Ibrahim


"Tuan... tidak apa-apa, aku sedikit merasa lelah saja," ucap Maura.


"Sebaiknya kau istirahat saja," ucap Ibrahim lagi.


"Iya tuan... sebaiknya aku ke dalam dulu," ucapnya.


Maura berjalan meninggalkan toko bunga dan masuk ke ruang beristirahat. Maura mengambil bantal dan berbaring.


"Aufan, hari ini adalah hari pernikahanmu dengan wanita itu. Kau pasti sangat bahagia, pesan terakhirmu akan ku ingat, aku akan memberi makan anak kita dengan uang yang halal kelak, Suatu hari nanti mungkin aku akan mempertemukan mu dengan anak kita, ketika dia akan menikah. Entahlah... Apakah kau akan menerimanya atau tidak, aku belum memikirkannya," lirih hati kecil Maura. tak berapa lama maura pun tertidur.


Sementara di gedung pernikahan. Aufan dan Vena sambil bergandengan tangan berjalan menuju panggung. Vena merangkul erat tangan Aufan.


Aufan dan Vena, mereka pasangan yang sangat serasi, yang satu tampan dan yang satu cantik.


Mereka pun sudah tiba di panggung pernikahan. Pak penghulu dan beberapa saksi pun sudah siap untuk melakukan acara.


"Aufan... kau sangat tampan!" teriak teman-temannya dari bawah panggung, begitu juga teman-teman Vena yang sangat bahagia melihat pasangan kekasih itu kini akan menikah.


"Ayo Sayang!" ajak Vena.


Mereka pun duduk di depan Pak penghulu. Namun tatapan Aufan kosong, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu yang lain.


"Aufan, kenapa kau bengong?" tanya Maminya.


"Entahlah Mami, aku mungkin kurang sehat," jawab Aufan.


"Kau harus semangat Aufan, sebentar lagi kan kalian akan menikah," ucap sang Mami.


"Ayo semangat," teriak sahabatnya yang lain.


Tak Berapa lama, acara pun dimulai. Setelah beberapa kali Aufan belajar tentang ijab kabul. kemudian acara inti dimulai yaitu pernikahan Aufan dan Vena.


"Sah....?" tanya lenghuki.


"Saaaaah," sahut mereka bersamaan.


Aufan pun menge cup kening Vena mesra semua tamu undangan bersorak gembira.


"Ayo semuanya... kalian boleh makan sepuasnya," teriak Aufan kemudian.


Dia pun melupakan masalahnya dengan Maura. Vena dan Aufan tampak saling bertuker makanan saling menyuapi. Senyum terus berkembang di ke dua bibir mereka.


"Terima kasih Alfan kau telah menepati janjimu untuk menikahiku ucap penak. Afwan pun menetap wajah Vena mesra Iya sayang aku juga sangat berterima kasih kau bersedia menjadi istriku dan mudahan kau selalu akan menjadi pendampingku selamanya ucap Afan


***


Aufan dan Vena tampak sudah berada di kamar pengantin mereka, yang ada di gedung hotel tersebut, malam ini adalah malam pengantin. Mungkin malam ini adalah malam bersejarah bagi setiap pengantin baru. Namun bukankah kita tahu kalau Aufan dan Vena memang sudah sering melakukan nganu... berdua, jadi malam ini sepertinya malam yang biasa saja.


Ketika jam 11.00 malam, mereka sudah selesai membersihkan diri, sikat gigi, cuci muka dan lain-lain, mereka pun ingin tidur di Ranjang Pengantin namun... telepon Aufan berdering.


"Hello Aman, ada apa?" tanya Aufan.


"Maaf Bos, ganggu, aku sudah menemukan alamat Maura bekerja, Dia bekerja di sebuah toko bunga, tidak jauh dari gedung pernikahan kemarin," ucap Aman.

__ADS_1


"Benarkah? Ayo kita ke sana sekarang!" ajak Aufan.


Aufan pun mematikan telepon dan Dia pun bergegas berdiri dan mengambil jaketnya.


"Fan mau ke mana?" tanya Vena heran.


"Ada sesuatu yang sangat penting, Aman Baru saja menghubungiku, aku harus pergi," ucapnya.


"Fan, Mengapa sekarang? Hari ini 'kan malam pengantin kita? Apakah tidak bisa ditunda?" ucap Vena.


"Sayang... ini memang malam pengantin kita, tapi 'kan kita juga sering nganu... nantilah ya, ini sangat penting, aku pergi dulu ya... dah," ucap Aufan seraya pergi meninggalkan kamar itu.


Aufan pun pergi meninggalkan hotel tersebut. Meninggalkan pasangan pengantinnya tidur sendirian malam ini. Aufan mendatangi lokasi yang dibagikan oleh Aman, tampak Aman sudah berdiri di depan toko bunga, yang sudah tutup.


"Apakah tidak salah tempat?" tanya Aufan.


"Tidak Bos, aku sudah menanyakannya pada karyawan kemarin," ucap Aman.


"Oooh," sahut Aufan.


"perusahaan Bangji memesan bunga di sini kemarin," katanya lagi.


"Baaiklah," sahut Aufan.


Aufan pun berjalan mendekati pintu toko bunga itu.


"Bos mau ngapain?" tanya Aman Heran.


"Aku akan mengetuk pintunya," ucapnya.


"Kenapa malam-malam bos? besok saja, nanti mereka marah loh!" ucap Aman.


"Aku tidak peduli, kalau perlu, aku akan membayar mereka, karena telah mengganggu tidur mereka," ucap Aufan sambil terus berjalan.


"Tidak. aku harus menemukan Maura malam ini juga," ucapnya lagi.


"Terus bagaimana dengan Vena?" tanya Aman.


"Biarkan saja Dia di hotel, tidak ada yang akan mengganggunya 'kan?" tanya Aufan lagi.


"Tapi Bos, malam ini 'kan malam pengantin Bos, kenapa bos tega meninggalkan pengantin wanita tidur sendirian?" ucap Aman cerewet.


"Ini cuma malam pengantin. Sebelum-sebelumnya juga kami pernah melakukan nganu 'kan? jadi apa bedanya malam ini dengan malam sebelumnya?" sahut Aufan.


Aufan pun menggedor pintu itu, namun tak ada jawaban. Beberapa kali menggedor tetap tak ada jawaba.n Akhirnya Aufan menyerah dan duduk di depan pintu tersebut.


Sementara Aman yang hanya memakai kaos biasa tanpa jaket merasa menggigil, dia pun masuk ke dalam mobil Aufan. Aman sangat mengantuk dan akhirnya tertidur di dalam mobil Aufan. Tak terasa pagi pun tiba.


"Siapa dia? kenapa dia tidur di depan toko?" ucap seorang karyawan yang akan membuka Toko.


"Bangunin aja yuk!" ucap yang lain.


Aufan pun di colek colek beberapa kali oleh 2 karyawan tersebut, namun tak juga bangun.


"Maaf dia Bos saya," ucap Aman.


Aman pun membangunkan Aufan perlahan.


"Kenapa Bos Anda bisa tidur di sini?" tanya Karyawan toko.

__ADS_1


"Kami sedang mencari seseorang," sahut Aman.


"Maura... Maura... " racau Aufan.


"Bos, badan Bos panas, apa Bos demam?" tanya Aman.


Aufan tampak menggigil. tangan dan jidadnya pun panas.


"Ayo bawa Bosmu ke rumah sakit," ucap Karyawan.


Di bantu dua karyawan itu, Aman pun membopong Aufan masuk ke dalam mobil. Dan meluncur membawanya ke rumah sakit.


"Maura... Maura...," ucal Aufan terus mengigau.


Mungkin Dia sakit karena tidur di luar semalaman. Angin malam ternyata tidak bisa di terima Aufan.


***


Sementara Maura tampak merapikan bunga-bunga yang ada di tokonya pagi ini, sambil bernyanyi-nyanyi riang, dia pun membersihkan bunga-bunga itu dan menyemprotkan air sedikit demi sedikit ke mawar-mawar yang tampak begitu indah.


"Hari ini kalau ada acara?" tanya Ibrahim.


"Tidak tuan," ucapnya.


"Ayo kita makan siang bersama." ajak Ibrahim


"Dengan siapa-siapa Tuan?" yanyanya.


"Hanya kita," ucap Ibrahim.


"Hanya berdua? tanya Maura.


" Iya," jawab Ibrahim.


"Tapi... apakah sebaiknya kita bawa Mbak Mira juga?" tanya Maura.


"Mira? Baiklah itu terserah kau saja," ucap Ibrahim.


Akhirnya Maura pun merapikan beberapa bunga lagi dan mengajak Mira untuk makan siang bersama.


Tepat jam 1 siang, Mereka pun pergi meninggalkan toko bunga menuju warung makan.


Di dalam warung makan, mereka memilih tempat yang agak sepi. Ibrahim menatap Maura berkali-kali, seakan ada sesuatu yang ingin dia katakan.


"Maaf Bos... aku mau ke belakang dulu," ucap Mira.


Sepertinya Mira mengerti apa yang ingin bosnya katakan, Mira pun pergi meninggalkan mereka berdua.


"Maura... Bolehkah aku mengatakan sesuatu?" tanya Ibrahim.


"Silakan Tuan...." ucap Maura tanpa mencurigai apa yang akan dikatakan bosnya tersebut.


"Maura... kau bekerja padaku sudah hampir satu bulan, mungkin kau tahu apa yang aku rasakan?" ucap Ibrahim perlahan.


"Rasakan apa Bos?" jawab polos Maura.


"Maura... Aku..."


"Hey, Ibrahim? Apa kabar? Sudah sangat lama kita tidak bertemu," ucap seorang wanita seksi.

__ADS_1


Wanita itu langsung merangkul Ibrahim dan duduk di sampingnya,dengan menarik kursi mendekati Ibrahim.


Beraambung...


__ADS_2