Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Mencari Pelanggan Malam


__ADS_3

Aufan meluncur menuju perusahaan Ayahnya yang ada di luar kota. Wajahnya terlihat segar dan sangat menawan. Sepanjang jalan, Dia tampak menikmati pemandangan alam yang sangat indah.


Tring.


Teleponnya berbunyi.


"Hello, ada apa sayang!" sapanya saat mendengar suara Vena di seberang sana.


"Berapa hari di luar kotanya Fan? Aku pasti sangat merindukanmu Sayang," ucapnya centil.


"Mungkin 5 atau 7 hari, aku juga pasti merindukanmu, apa kau tidak ingin menyusulku?" tanya Aufan.


"Nggak sayang, aku pasti akan menunggumu, kalau kau datang cepat hubungi aku ya!" ucapnya.


"Oke, emch," Aufan mengakhiri telepon dan kembali menatap deretan rumah dan pepohonan yang ada di pinggir jalan.


Setelah perjalanan memakan waktu 3 jam, Dia pun sampai di sebuah Hotel yang mewah dan berkelas. Aufan di sambut oleh beberapa wanita cantik yang seksi.


"Heh, ini pasti kerjaan Aman," gumam Aufan saat melihat wanita-wanita itu. Dia pun turun dan menebarkan pesonanya dengan memasang kacamatanya. Dia berjalan gagah dan santai, dengan menenteng jaket kulitnya yang bermerek Limited edison itu.


"Silahkan Tuan," ucap pegawai yang mengantarnya ke depan hotel, sementara 2 orang wanita itu tampak berdiri di belakang Aufan.


"Terima kasih, Kau boleh pergi!" Aufan pun masuk kemudian."Kalian boleh masuk," ucapnya kepada ke dua wanita malam itu.


Aufan pun masuk bersama dua wanita itu, eh Aufan mulai lagi nih, pasti mau nganu. Lupa ngabarin Maura.


"Terimakasih Oom," ucap ke dua wanita itu.


Aufan pun bermaksud melepaskan penat dengan ke dua gadis itu. Aufan melepaskan pakaiannya dan ingin membersihkan diri terlebih dahulu, sebelum jiwa casanovanya bangkit.


"Kalian pakai minyak wangi yang banyak, biar aku senang," ucapnya sambil berjalan ke kamar mandi. Wanita itu itu kemudian membuka tas dan mengambil peralatan mike up mereka.


"Hmmm, tampan sekaki dia, aku pasti puas hari ini," ucap wanita malam itu.


"Iya, aku juga sangat senang saat melihatnya turun dari mobil tadi, aku sudah lelah melayani Oom berduit, yang badannya saja bau tanah, entah mereka datang dari mana? langsung On aja tanpa mandi dulu," ucap yang satunya lagi.


Mereka pun terlihat menambah polisan di wajahnya dan mengulai minyak wangi di badan mereka, kemudian melepas baju luar, hingga tampaklah baju sarang burung yang menerawang itu, begitu seksi, 2 wanita yang masih muda dan cantik. Asiyk berdandan, hingga mereka tidak menyadari kalau Aufan sudah berdiri di depan pintu kamar mandi menatap takjub ke dua gadis itu.


"Heh, dari mana Aman mendapatkan 2 gadis seksi ini, Dia sangat tau seleraku," ucap Aufan sambil tersenyum. Aufan pun berjalan dan berbaring telentang di atas kasurnya.


"Apa kalian sudah selesai berdandan?" ucapnya tanpa basa-basi.


"Eh Tuan." Ke dua wanita itu pun mendekat dan mengapit Aufan, yang satu di kiri dan yang satunya di kanan.


"Aku ingin kalian memijat ku dulu, aku sangat cape setelah perjalanan 3 jam ke mari," titahnya sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


"Baik Tuan," ucap mereka bersamaan.


Perlahan dan pasti ke dua wanita itu pun memijat-mijat Aufan di sekujur tubuhnya, namun namanya juga pijet plus-plus, mereka semakin lama semakin nakal saja, sesekali sengaja menyentuhkan tangan mereka ke pentongan Aufan, hingga pelan-pelan, pentongan itu mulai bangun, ke dua wanita itu pun tersenyum.


"Sejak kapan kalian bekerja begini?" tanya Aufan tiba-tiba.


"Sudah 2 tahun Tuan," jawab seorang dari mereka.


Aufan seperti berusaha menahan hasratnya agar tidak terlalu cepat On. Kemudian dia Pun tengkurap dan memasang belakangnya untuk di pijit.


"Apakah kalian punya pengalaman yang tidak mengenakkan saat melayani tamu?" selidik Aufan lagi.


"Tentu Tuan, sangat banyak," ucap mereka.


"Contohnya seperti apa?" tanya Aufan.


"Ah, Tuan, kami malu mengatakannya," jawabnya malu-malu.


"Tidak apa-apa, jujur saja," ucapnya lagi memolitik.


"Anu Tuan, kalau lagi kena tamu aki-aki, bau tanah, walau mereka berduit, tapi tetap saja hati kami menjerit, kalau dapat seperti Tuan ini, pasti sama-sama puas," ucapnya lagi.


"Mengapa kalian mau pekerjaan seperti ini?,l Bukankah masih banyak pekerjaan yang lebih baik?" ucap Aufan lagi.


"Kami hanya lulusan SMP saja Tuan, mana ada perusahaan yang mau mempekerjakan kami," ucapnya.


"Apa lagi pengalaman pahit kalian?"


"Apalagi kalau ketemu oom oom gendut, yang permintaannya banyak, begini lah, begitulah, sudah kayak gorengan kami mah, di bolak balik nggak karuan," ucapnya lagi.


Aufan pun bangun dan menatap ke dua wanita itu. Aufan mulao memasang pengamannya, dan menarik salah satu dari mereka yang menurut Aufan tercantik.


"Malam ini, kalian berdua akan aku gilir."


Aufan mulai menciumi wanita yang di sokongnya itu, namin tiba-tiba wajah Maura terbesit di matanya.


"Maura!" pekiknya, kemudian dia mengambil Hpnya dan menelepon Maura.


"Helo, jangan menunggu ku malam ini! kau tidur saja, untuk 7 hari ke depan, aku tidak bisa datang, karena aku sedang di luar kota, gajih mu akan aku transfer untuk 7 hari itu," ucap Aufan Cepat, dan menutupnya begitu saja.


Sementara Maura yang baru saja menelepon Aufan pun tersenyum licik.


"Ish, orang ini egois banget sih, aku juga bekim jawab, kok langsung main tutup saja," gerutunya.


Maura pun turun dari ranjangnya dan berjalan ke depan cermin.

__ADS_1


"Apa aku kembali mencari langganan luaran ya! Tapi kalau ketahuan Mamy Lin, bisa gawat nih, apa aku mintq bantuan Nela saja ya, baiklah, aku akan Chat Dia," gumamnya lagi.


Maura pun mengambil kembali Hp dan menchat Bela, tak berselang lama Bela pun sudah muncul di pintu kamar Maura.


"Ada apa sih, kok nyuruh aku ke mari?" tanyanya.


"Aufan 7 hari ke dapan nggak bekalan ke mari, bagaimana kalau kau bantu aku mencari pelanggan 7 hari ke depan?" pintanya.


"Benarkah? Emang ke mana Dia?" tanya Bela.


"Aku nggak tau, mungkin lagi liburan sama pacarnya kali, moh aku nggak perduli, bahaimana? Apa kau ada cadangan? Aku perlu suntikan dana untuk menebus diriku dari sini," ucapnya lagi.


"Aku akan telepon seseorang, tunggu ya! aku ambil Hp dulu, kau tunggu saja di sini," ucapnya.


Bela pun keluar dari kamar Maura menuju kamarnya, Maura yang menunggu kabar Bela pun segera membersihkan diri dan berdandan cantik, dengan polisan yang sangat tipis. Tak berapa lama, Bela kembali ke kamar Maura.


"Eh udah dapat, ayo!" ucap Maura.


"Bagaimana kalau Mami melihat, aku 'kan nggak boleh keluar dari sini?" ucap Maura lagi.


"Tunggu!"


Bela kembali ke kamarnya dan kembali dengan membawa peralatan lengkap, jaket, baju dll.


"Pakai ini, kita bikin aja guling dan di selimutin, mereka akan mengira kalau kau sedang tidur," ucap Bela.


Mereka pun menyambung bantal dan guling, lalu memberi selimut di atasnya, tampak seperti orang tertidur memeluk guling.


"Beres. Yo!"


Mereka berdu pin kekuar dengan santai, Maura yang di dandani seperti cowo memakai jaket, topi dan kaca mata pun tak ada yabg curiga, mereka melenggang santai kekuar Kafe Mami.


"Bela! Mau ke mana?" Tiba-tiba Mami memanggil Bela yang berjalan di samping Maura.


"Bagaimana ini?" bisik Maura.


"Mi, aku akan keluar malam ini, aku akan menemani Abang ini," ucap Bela mantap.


"Ooh, Maura mana? Dia tidak kau ajak 'kan?" tanya Mami.


"Tidak Mi, Dia tertidur," sahut Bela lagi.


"Baiklah, kau noleh pergi,"


Maura dapat bernafas lega, mereka berdua pergi menuju tempat yang sudah di janjikan seorang lelaki yang akan memesan jasanya malam ini.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2