Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Nikah yang Gagal


__ADS_3

Tampak Aman sudah berada di Apartemen bersama 2 saksi dan penghulu untuk menikahkan Maura dan juga Aufan. Aufan yang tampak bingung hanya duduk di samping Maura dan memegangi tangan Maura erat. Semenjak Maura hamil, entah mengapa Aufan selalu dekat dengan Maura apalagi kalau di luar Apartemen, dia nempel kayak bayi.


"Sayang, mereka siapa? Kenapa mereka berkumpul di sini?" tanya Aufan.


"Mas, kita akan menikah lagi," ucap Maura.


"Kenapa kita menikah? Bukankah kita sudah menikah?" tanya Aufan.


Namun tiba tiba bayangan Vena hadir di kepalanya? Aufan pun menggelengkan kepalanya dan menutup matanya kasar, seakan sakit kepala karena ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.


Tiba tiba Aufan melepas pegangan tangannya dari Maura dan menjauh dari sisi Maura.


"Bukan Kau! Siapa wanita yang pernah ku nikahi?" ucap Aufan tiba tiba.


"Bos ada apa? Kenapa terlihat linglung begitu?" tanya Aman.


"Kalian siapa? Kenapa kalian kumpul di sini?" tanya Aufan bingung.


"Bos, kau akan di nikahkan lagi dengan Maura, karena ingatanmu kadang bermasalah," ucap Aman.


"Tapi aku sudah menikah, kenapa harus di nikahkan, tapi..."


Aufan menutup matanya dan menggeleng kasar. Sepertinya dia sedang teringat sesuatu.


"Mas, ada apa?" tanya Maura sambil memegangi tangan Aufan.


Puisssss


Aufan menepis tangan Maura. Hingga tangan itu jauh melayang begitu saja.


"Aduh," pekik Maura yang kaget.


"Nona...," panggil Aman khawatir.


"Benar-benar ini Bos plin plan,"


Plok plok


Aman dengan berani menggetok kepala Bosnya itu dengan genggaman tangannya seperti mengetok pintu.


"Aduh, kau? Kenapa kau memukul ku?" Tanya Aufan heran.


"Bos, ayo cepat, kau harus segera menikah sekarang dengan Maura. Dia sedang hamil anakmu," ucap Aman.


"Anakku? Bagaimana bisa? tapi sepertinya aku sudah menikah, dan wanitanya itu bukan dia?" bingung Aufan sambil menatap Maura.


"Iya bukan dia, kau menghamili gadis yang tak bersalah, sekarang kau harus tanggung jawab dan menikahi wanita ini," bentak Aman gregetan.


"Kau? Kau kan bawahan ku, Aman kan? Kenapa kau membentak ku?" tanya Aufan.


"Karena kau plin plan, ayo cepat!" desak Aman lagi.


Tok tok tok


Ketika ketukan pintu mengagetkan mereka semua. Mereka semua menatap pintu. Aman pun berdiri.


"Apa kau mengundang seseorang lagi?" tanya Maura.


"Tidak," sahut Aman.


Dia pun membukakan pintu


Bruk

__ADS_1


Dua orang pria berbadan besar menabrak tubuh kurus Aman, hingga Aman hampir tersungkur, dan ada seseorang yang mengikuti di belakang dua pria besar itu. Seorang lelaki yang lumayan tampan dan seperti sangat berwibawa, tentu saja tak lain adalah Ayah Aufan.


"Bos besar?" kaget Aman saat melihat ayah Aufan masuk Apartemen Aufan.


"Ternyata kau telah bermain di belakangku! kau menyembunyikan Aufan dariku, aku akan menuntut mu!" ketus lelaki itu.


Kemudian dia mengambil Aufan dan menggandengnya menjauh dari Maura. Papa Aufan membawa Aufan pergi dari Apartemen tersebut.


Sementara Maura dan yang lainnya pun tidak berani berkata apa-apa .


"Aman, aku akan memberi mu pelajaran, kau telah berani menyembunyikan sang pewaris perusahaan ku!" bentaknya lagi.


"Bos besar, tidak seperti itu Bos," ucap Aman.


Aman merasa sangat takut dengan ancaman Bos besarnya, sementara Aufan yang linglung pun bingung tidak tahu harus berbuat apa.


"Kau siapa?" tiba tiba Aufan bertanya saat berjalan digandeng oleh Papanya sendiri.


"Aufan... Apa maksudmu? Apa kau tidak mengenaliku?" tanya Papanya.


"Tidak, Siapa kau?" tanya Aufan lagi.


"Aku ini Papamu Fan! Kau ini kenapa sih? Apakah separah itu sehingga kau tidak mengenali Papa mu sendiri?" ketus sang Papa.


"Kau Papaku? tapi Maura?" ucapnya terhenti, ketika mengingat wanita yang tadi di Apartemen.


"Maura,Siapa itu Maura?" tanya sang Papa bingung.


"Maura, dia wanita yang mengandung anakku," ucap Aufan.


"Mengandung anak mu? Kau bilang anak? kau itu menikah dengan Vena. Kenapa kau menyebut Maura adalah orang yang mengandung anakmu? istrimu itu Vena Fan!Ya Tuhan... apa yang telah terjadi denganmu, selama aku di luar negeri? katanya kau terluka, kau terluka di mana?" tanya sang Papa.


"Di sini Tuan..."


"Aku tidak tahu, aku juga sering lupa, bahkan ada kilasan-kilasan yang ada di kepalaku membuat aku semakin bingung," ucap Aufan merasa sedih.


"Apa kau lupa ingatan?" tanya Papanya.


"Tidak tahu," sahutnya singkat.


"Ayo cepat! kita pulang dulu ke rumah, kita akan menanyakan semuanya nanti sama mamamu," ajak pa Irlangga.


"Mama? Apakah aku juga punya mama?" tanya Aufan.


"Iya, kamu punya Mama sambung, kamu juga punya seorang istri yang menunggumu di rumah," sahut Pa Irlangga lagi.


"Tapi...? kenapa kau ada di gedung itu dan akan menikah dengan wanita lain?" tanya Papanya heran.


"Aku juga bingung Pa, tapi wanita di gedung itu kan istriku Pah, tapi mengapa aku akan dinikahkan lagi dengannya?" ucap Aufan kembali bingung.


"Entahlah, mungkin mereka penipu yang akan menipumu, Ayo kita pulang saja ke rumah."


Kemudian Aufan pun dibawa masuk ke dalam mobil mewah sang papa, Mereka pun meluncur menuju istana Aufan.


Setelah beberapa waktu, mereka pun telah sampai di gerbang megah. Tampak Vena sedang menunggu di depan pintu rumahnya Aufan.


"Sayang... !" teriak Vena.


Vena pun mendatang mobil Aufan, kemudian dia pun menyusul ke samping mobil dan membukakan pintu, menarik Aufan n keluar dan memeluknya penuh drama.


"Sayang... Kau ke mana saja? aku mencari mu berhari-hari Sayang."


"Kau siapa?" Tanya Aufan heran, ketika melihat orang yang tidak di kenalnya.

__ADS_1


"Sayang... aku istrimu Sayang... Apa kamu melupakanku? Ya Tuhan... apa yang terjadi dengannya?" gumam Vena heran.


"Sebaiknya bawa dia masuk dulu, kita bicara di dalam," ucap sang papa.


Vena menggandeng suami dan masuk ke dalam rumah, mereka semua duduk di ruang tamu.


"Apa yang terjadi sebenarnya, selama aku pergi Ani?" tanya papa


"Dia di tusuk oleh sekretarisnya dan terluka parah," ucap Mamanya.


"Aku tau itu, tapi apa yang membuatnya amnesia?" tanya pa Irlangga.


"Seminggu kemudian, dia terbentur, aku tidak tau benturan seperti apa, saat dia jatuh itulah yang membuat kapalnya sedikit linglung," jelas Mamanya.


"AIfan, Apa benar kau tidak mengingat kami? sebenarnya tadi akan dinikahkan dengan siapa?" tanya snag Papa.


"Apa? Apa maksud Papa? Di nikahkan? Aufan? Dengan siapa?" tanya Vena kaget.


"Iya, aku tadi menemukannya di apartemen, aku mengirim beberapa intel untuk mengikuti Aman, dan mengikuti orang-orang yang dekat dengan Aufan, termasuk juga kalian. Namun kami menemukan Aman lah yang paling mencurigakan, hingga aku mendatangi apartemennya dan Aufan Siap dinikahkan."


"Keterlaluan Aman, dwngan siapa Pa?" tanya Maur.


"Dengan seorang perempuan, sepertinya perempuan itu bernama Maura, Maura ya Maura," ucap Pa Irlangga.


"Maura? Dasar wanita ja*lang. Aku akan mencincang mu seperti daging bakso," ucap Vena penuh amarah.


"Aku merasa senang, akhirnya Aufan bisa di temukan," sahut sang Mama, yang terlihat terenyum saat Aufan sudah ada di rumah.


"Sudahlah, aku mau istirahat. Aufan, kamu juga harus istirahat, nanti kita akan terapi untuk memperbaiki ingatanmu," titah Papanya.


"Fan, kamu itu suamiku... Bukan suami Maura, awas saja kau wanita kurang ajar!" gertas Vena penuh emosi.


Kemudian Vena pun membawa Aufan ke kamarnya dengan menggandeng Aufan. Sementara Ani mendatangi Suaminya di kamar.


"Pa, aku ingin bicara sesuatu dengan papa," ucap Ani mama tiri Aufan.


Papa Aufan tampak sibuk sambil melepaskan bajunya, dan kemudian dia berbaring di kasur. Ani pun mendeka.


"Sebenarnya Maura itu... dia selingkuhannya Aufan Pa," lirih Ani.


"Selingkuhan Dari mana? Kau sudah tau?" tanya Pa Irlangga.


"Aku mengetahuinya dari Aufan sendiri saat dia tertidur, dan mengigau menyebut nama Maura berulang-ulang, dan yang lebih membuatku kaget lagi, adalah, bahwa Maura itu sedang hamil anaknya Aufan...."


"Apa? Hamil?" seketika Papa Aufan terbangun dari berbaringnya , dan duduk di sisi ranjangnya.


"Iya Pa," sahut Ani singkat.


"Mengapa kau tidak mengabarkannya padaku? Saat aku di luar negeri?" tanya Papanya.


"Aku sudah berusaha mencari Maura, namun aku tidak bisa menemukannya."


"Jadi benar wanita itu adalah istri Aufan?"


"Aku tidak tahu Pa, dia istri atau tidak, yang jelas, aku cuma tahu dari Aman kalau dia adalah wanita yang telah mengandung anaknya Aufan.


Papa Aufan pun berdiri dan memakai kembali bajunya yang sudah dilempar ke keranjang cucian.


"Papa mau ke mana?" tanya mamnya.


"Aku akan menjemput Maura," ucapnya.


Ani pun tersenyum.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2