Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Rencana Jahat


__ADS_3

Akhirnya Maura pun berbaring di ranjang nya, sementara bibi membersihkan beling yang ada di halaman ranjang Maura, Mbak Alin pun pergi untuk mengambilkan air putih yang diminta Maura.


Saat di dapur, Mbak Alin bertemu dengan Mami yang juga mengambil air minum.


"Mbak... Maura ke mana ya? kok tidak terlihat?" tanya Mami saat bertemu dengan Arum di dapur.


"Dia lagi istirahat Nyonya Besar, sepertinya sekarang Nona Maura sering kelelahan dan merasa mengantuk, mungkin karena pengaruh kehamilannya yang semakin membesar, ini dia meminta air putih Nyonya," ucap Mbak Alin.


"Begitu ya, ya sudah, cepet kau bawakan sana!" titah Mami.


"Iya Nyonya Besar, permisi," Alin pun pergi meninggalkan dapur.


Tak berapa lama, bibi juga datang ke dapur. Sambil membawa beling pecahan gelas Maura tadi.


"Nyonya Besar mau makan?" tanya bibi yang membawa beling dari kamar Maura.


"Lho Bi? Kenapa kau membawa beling? " tanya Mami.


"ini Nyonya, tadi Tuan Muda Aufan marah marah sama Nona Maura, tadi dia menepis dengan sengaja gelas susu Nona Maura, yang akan diminum Nona Maura, hingga terjatuh, dan beling pun berserakan di lantai, " ucap bibi.


"Mengapa dia marah? Apa yang terjad? Apa mereka bertengkar? " tanya Mami.


"Tidak, Nyonya besar, kami juga tidak tahu, saat itu tidak terjadi apa-apa, tiba-tiba Tuan datang dan langsung menyambar gelas Nona Maura, hingga terjatuh, " ucap bini.


"Apa yang terjadi dengan mereka sebelumnya? apakah ada cekcok mungkin? Vena dengan Maura gitu? " tanya Mami.


"Tidak ada Nya, cuma memang tadi siang ada sedikit masalah, Nona Maura sedang makan rujak di dapur, tiba tiba Nona Vena marah-marah sama Nona Maura, Nona Vena mengatakan, kalau Nona Maura mengambil rujaknya, padahal yang mengambilkan itu Saya Nyonya besar, " Ucap bibi.

__ADS_1


"Ya sudah, aku mau ke atas dulu, " ucap mami.


Mami pun pergi meninggalkan dapur dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Aufan dan Vena.


"Vena...."


tok tok tok.


Mami menunggu jawaban penghuni kamar dengan berdiri di depan pintu itu.


Tak berapa lama, pintu pun dibuka. Tampklah wajah kusut Vena yang muncul di depan pintu tersebut.


"Mami? Ada apa? " tanya Vena heran.


"Apa yang terjadi dengan kalian Aufan? Apa yang terjadi? kenapa kau marah marah sama Maura?, " tanya Mami.


"Mami... apakah Mami juga sudah membela Maura?tanya Aufan.


"Apa? Papa sudah memberikan perusahaan untuknua? kapan? " kaget Aufan.


"Kapan Mi? " tanya Vena juga kaget.


"Kemaren, dia sudah mengurus berkas-berkas nya, dan sekarang Maura sudah memiliki aset itu, " ucapnya lagi.


"Keterlaluan Maura, sebenarnya dia pakai jampi jampi apa sih sama Papa? sampai Papa begitu yakin kalau itu adalah anakku, aku saja tidak ingat kapan aku berhubungan dengan dia? " ketus Aufan marah.


"Mami harus membujuk Papa Mi, jangan sampai perusahaan itu jatuh pada Maura, aku yakin wanita ******** itu pasti sudah menggoda Papa, atau barangkali mereka punya hubungan khusus? " Cecer Vena emosi.

__ADS_1


"Husst kamu tidak boleh ngomong seperti itu Vena? Papa itu bukan orang yang seperti itu ya, dia orang yang setia kok," ucapnya membela.


"Kenapa Mami yakin? " tanya Vena.


"Karena aku dulu pernah menggodanya saat masih bersama Mamah Aufan, " batinnya.


"Mi... Kok bengong? " tanya Aufan.


"Aku yakin saja, karena walaupun dia bergelimang harta selama ini, namun dia tidak pernah berselingkuh, dia tidak seperti bos bos kebanyakan," ucap Mami.


"Tapi siapa tahu kan, kalo Maura itu menggoda Papa, diam-diam di belakang kita?" ucap Vena lagi.


"Ah sudahlah, pokoknya kalian harus berhati-hati, jangan sampai ya, gara-gara kalian menyakitimu Maura, malah kalian yang akan terusir dari rumah ini, ingat itu! " ucapnya lagi.


Mami pun pergi meninggalkan kamar Aufan. Perasaannya tidak tenang, bahkan kata kata Vena barusan pun menghantui pikirannya 'masa iya Maura menggoda Mertuanua sendiri? ' natinnya.


Sementara di kamar Aufan dan Vena, mereka sama sama terlihat jengkel karena masalah perusahaan itu.


"Fan, apa-apaan ini? dia itu hanya istri muda, anak yang dikandungnya itu belum tentu anakmu, kenapa dia sudah mendapatkan perusahaan? sedangkan aku? aku yang sudah menjadi istri sah mu tak sedikitpun mendapatkan harta dan Papamu, keterlaluan sekali Papa mu Fan, bahkan dia tidak ada memberi kado pernikahan untuk kita, " ucap Vena.


"Sabay Sayang, sabar lah dulu, aku pasti akan mendapatkannya kembali, kurang ajar sekali Maura, ini tidak bisa dibiarkan," Ucap Aufan.


"Oh ya...bagaimana kalau Maura itu kita buang saja, kita berikan obat bius, lalu kita bawa ke suatu tempat terpencil, kita sandera dan ancam, sampai dia melahirkan! " Ucap Vena.


"Bagus juga idemu Sayang, " Sahut Aufan.


Nah lho

__ADS_1


Apakah Aufan benar benar lupa Maura?


Bersambung...


__ADS_2