Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Diam-diam Mencuri Hatiku


__ADS_3

Kini Vena dan Aufan pun tampak basah oleh keringat, setelah pergulatannya barusan. Aufan mengambil beberapa tissue dan membersihkan keringat di wajahnya.


"Sayang, ayo kita menikah!" Ajak Vena seraya memunguti pakaiannya dari lantai.


"Iya, aku harus menyelesaikan rumah untuk kita berdua Sayang, baru 50% kok, mungkin 3 atau 4 bulan lagi deh," ucap Aufan sambil mengambil gelas dan air karena kehausan.


"Hmmmm, terlalu lama Sayaaang, aku nggak bisa begini terus, bagaimana kalau aku hamil?" ucapnya.


"Alaaaah, udh sering gini kok, kamu nggak hamil-hamil 'kan? Jangan terlalu jauh, kita nikmati saja dulu,"


Aufan pun mengambil baju bersih yang memang tersedia di lemari kecilnya, Aufan melangkah menuju kamar mandi yang ada di ruangan itu.Setelah membersihkan diri bergantian, mereka pun turun untuk pulang, karena hari sudah sore.


"Langsung ku antar pulang ya!" ucap Aufan sambil membelai rambut wanitanya itu mesra, Aman yang sedang menyetir pun tampak cemberut dan masam, karena dia memang sangat tidak suka dengan Vena kekasih Bosnya itu.


"Baiklah, besok jemput aku ya!" ucapnya lagi, sambil mencuri ciuman bibir Aufan.


"Oke,"


Aman pun menuruti perintah sang majikan. Setelah melewati jalanan yang ramai, sampailah ke sebuah rumah mewah milik Vena, keluarga Salim Erlangga.


"Jangan lupa besok ya? Daah,"


Mereka pun berpisah. Dan saling melambaikan tangannya.


"Bos, pasti melakukan itu lagi di kantor 'kan?" tanya Aman penasaran, karena melihat mereka sama-sama mandi basah.


"He eh, bagaimana menurutmu wanita itu?" tanya Aufan.


"Maaf ni Bos, apakah Bos mau, kelak anak-anak Bos seperti dia, sembarangan menyerahkan keperawanannya begitu daja?" tanyanya.


"Ih apaan sih? Anak-anakku jangankan begitu, pacaran saja bakal ku larang!" bentaknya spontan.


"Tapi Bos, buah takkan jauh jatuh dari pohonnya 'kan?" tanya Aman


"Hmmm, entahlah, ayo! Nanti kita terlambat, aku mau bertemu wanita itu lagi, jiwa casanova ku meronta bila mengingat wanita itu," ucapnya.

__ADS_1


"Bos, pikirkan juga wanita itu, Dia sangat terpukul saat kemaren Dia mengetahui, bahwa dirinya di jual bagai barang rongsokan," ucap Aman lagi.


"Dia memang rongsokan 'kan?" ucap Aufan lagi.


"Bos, aku melihatnya, Dia itu gadis baik-baik kok, namun mungkin karena terpaksa saja Bos," tambah Aman lagi.


"Alaaah, gadis baik-baik kok kerja di Kafe sih, walau pun saat ku ambil Dia masih gadis ting-ting, namun tetap saja dia akan menjadi lobang semut," ucapnya sambil melepaskan nafas yang berat.


Mereka pun sudah sampai di kafe itu, Aufan begitu bersemangat masuk mendahului Aman.


"Eeeeeh, akhirnya kau datang, bahkan ini terlalu sore, kau menepati janji, oh iya, dia lagi istirahat di kamarnya, sejak pagi, Dia tidak keluar kamar, bahkan dia kadang menangis. Aku juga tidak bisa membujuknya, katanya Dia sangat kecewa dengan orang-orang yang ada di sekitarnya, orang yang di percayai nya, telah menjualnya, itu yang Dia katakan tadi.


"Aku ingin bertemu dengannya," ucap Aufan.


Aufan pun mengambil minum di tas Aman, rupanya Aufan sudah bersedia minuman terlarang di sana, entah mengapa, dia merasa kurang siap bertemu wanita yang pernah direnggut nya itu.


Lin pun mengantarkan Aufan ke kamar Maura.


Ceklek.


Maura tampak masih tertidur, Aufan pun menutup pintu dan mendekati Maura.


Maura masih tidak terbangun, Aufan terus meneguk minumannya hingga habis, kini dia benar-benar mabok, di baliknya tubuh Maura hingga menghadap ke dirinya. Namun Maura tetap tidak bergerak.


"Maura... Kau diam-diam telah mencuri hatiku, awas kalau kau berani menghilang lagi!" racau nya sambil memeluk tubuh wanita itu. Entah mengapa di tengah mabuk yang melanda, jiwa casanova nya bangkit. Dia lun mulai beraksi, walau pun setengah sadar, namun otaknya bekerja dengan baik dan berhasil melucuti pakaian Maura, Maura yang ternyata tidak tidur hanya pasrah dan menatap wajah Aufan, sebutir demi sebutir air bening mengalir di sudut mata Maura.


"Kau menangis heh...? Kau terharu 'kan... Ha ha ha, kau pasti ingin memilikiku jiga 'kan, Maura... " Aufan terus meracau sambil melancarkan aksinya, Maura terus meneteskan air mata tak henti-hentinya.


"Maura... Kau sa_ngat can_tik Sayang, keca_ntikan_mu me_le_bihi Vena keka_sihku itu...," ucapnya lagi. Membuat air mata Maura bertambah deras. Sang Casanova yang kini sudah sampai di .... Terkulai lemah di samping Maura.


"Allah, ampunkan aku, aku tidak berdaya, aku tidak tau, kalau air yang di beri Tante Lin tadi adalah obat pelemas otok otot, hingga aku tak bisa bergerak seperti ini," lirih hati Maura.


Ternyata Lin telah memberi minuman obat, agar maura tidak melawan saat Aufan datang, sungguh licik wanita itu.


***

__ADS_1


Pagi menjelang, Aufan pun terlihat terbangun dan menggeliat.


"Uaaaaah, jam berapa sekarang?"


Aufan membuka Hpnya, ada ratusan panggilan tak terjawab dari Aman, Vena dan Mamanya.


"Helo, Aman, kau di mana? Aku segera keluar," ucap Aufan.


Dia pun bergegas keluar kamar Maura tanpa menghiraukan Maura yang masih terkulai lemah. Selepas kepergian Aufan, Lin pun datang.


"Maura, minum ini!" Lin memberi air agar wanita itu cepat pulih, seperti obat cair yang di seduh di air. Perlahan Maura lun mulai menggerak-gerakkan tangannya.


"Ooooh, Nyonya Lin, Kau... " ucapnya masih lemes dan tak bertenaga.


"Maura, maaf, tapi lelaki itu 'kan yang pertama kali mengambil keperawanan mu? dan dia menjamin hidupmu, bahwa kau hanya boleh menjadi miliknya, kau istirahat saja, nanti malam mungkin dia akan datang lagi," ucap Lin. Lin pergi meninggalkan Maura.


"Lin...," ucap Maura terlihat kesal, dia pun menangis, air matanya terus mengalir, mungkin saat ini hatinya sangat hancur, Dia berulang kali di jual dan di hinakan oleh lelaki itu.


***


"Nyonya, ini uang yang Bosku janjikan, ingat! Kau harus menjaga Maura hanya untuk Bosku, ingat!" ancam Aman pada Lin.


"Baik Tuan, akan ku lakukan," ucapnya.


Aufan dan Aman pun pergi meninggalkan kafe tersebut.


"Kita kembali ke apartemen saja, aku ingin istirahat," ucap Aufan terlihat seperti kelelahan.


"Baik Bos,"


"Tentu saja kau kelelahan, siang kau bermain dengan Vena, malam kau bermain dengan Maura, dasar lelaki bajingan, kalau saja aku punya pekerjaan yang lain, aku pasti akan pergi," lirih hati Aman.


Tak terasa mereka pun sudah sampai di Apartemen rahasia Aufan, hanya Aman dan Aufan yang tahu ini.


"Uaaaah, senangnya bisa ketemu wanita itu lagi, aku merasa terikat padanya, tapi___tunggu! Mengapa tadi malam dia hanya pasrah? Tidak melawan sedikit pun, bahkan pagi tadi dia juga tidak pergi seperti yang dia lakukan waktu pertama kali dulu?" tanyanya pada Aman.

__ADS_1


"Ah masa? Berarti Bos bermain sendiri?" tanya Aman kepo.


BERSAMBUNG...


__ADS_2