
Seketika wajah Vena berubah menjadi pucat, dia pun menatap anak kecil itu tajam. Bagai petir di siang bolong, sekujur tubuh Vena menjadi kaku dan dingin bagai arwah.
"Anu... Cuma lewat," sahutnya gagap.
"Siapa Dia?" tanya Aufan yang merasa aneh dengan Vena yang tiba tiba berubah drastis.
"Nggak kok, cuma tetangga lama di kampung dulu," sahut Vena.
"Ooh."
"Vena, ini suamimu ya? Ganteng dan kaya, pantesan...."
Lelaki itu tersenyum sinis dan menggantung kalimatnya. Vena semakin merasa panik, duduknya pun tak tenang.
"Iya... Ayo Mas kita lanjutkan perjalanan, perutku terasa sakit nih, kita cari mesjid," ucap Vena tiba tiba.
"Pa... Sepertinya wanita ini mirip foto... mirip foto ibu," ucap Anak kecil yang berusia kira kira 6 tahunan itu.
Lelaki itu pun tersenyum dan menatap anak kecil itu dan membelai rambutnya.
"Ibumu sudah meninggal sayang, mungkin mirip saja, ayo Sayang, mau beli apa?" tanya pria itu.
"Aku masih enak minum nih, nanya ama ibu ini aja, mungkin saja ada Wc umum," ucap Aufan.
"Mungkin masuk angin saja, aku mau ke mobil duluan ya, mau ambil minyak kayu putih," ucapnya.
Bergegas Vena meninggalkan warung kelapa itu tanpa babibu. Seperti melihat hantu saja.
"Kenalkan, namaku Dudu, kami satu kampung dengan Vena dulu, tapi sekarang aku sudah pindah ke bandung ink," ucap Dudu.
"Oh begitukah? Aku Aufan, suami Vena, ini anakmu?" tanya Aufan.
"Iya... Apakah kalian udah lama menikah?" tanya Dudu.
"Tidak, baru satu bulan," sahut Aufan.
"Hati hati lho! Hi hi," ucap Dudu seperti bercanda, namun mungkin mengandung pesan lain.
"Hati-hati kenapa?" tanya Aufan bingung.
"Nggak papa, Vena tidak pernah pulang ke kampungnya sudah beberapa tahun ini," ucap Dudu.
"Iya... Katanya keluarganya juga tidak ada lagi di sana, jadi males pulang," sahut Aufan.
"Dia bilang begitu? Wah keterlaluan Vena," ucap Dudu.
"Ha? Kenapa?" tanya Aufan heran.
"Nggak kok, orang tuanya masih ada. Dan sekarang udah sakit sakitan," sahut Dudu.
"Benarkah? Tali...."
"Sudah Tuan ya, sudahlah, nggak usah di bahas, berhati hati saja sama Dia, gitu aja," pesan Dudu.
Dudu pun pergi meninggalkan warung karena sudah memesan Es kelapa muda. Sementara Aufan hanya melongo menatap kepergian lelaki itu.
__ADS_1
"Bu, lelaki itu tinggal di sini?",Aufan penasaran.
"Iya Tuan, kasian sekaki dia, katanya di tinggal ibu anak itu 6 tahun silam karena bangkrut. Namun karena bangkrutlah membuat dia sadar dan bisa berubah drastis," ucap Ibu.
"Bangkrut? Jadi dia duku kaya? Gitu?" tanya Aufan.
"Iya, sangat kaya, namun karena Coved, semuanya berubah, dan kini dia hanya bekerja sebagai serabutan untuk menghidupi anaknya," ucap ibu.
"Oooh, begitu ya, berapa semuanya bu?"
Akhirnya Aufan pun membayar Es kelapa mereka dan pergi meninggalkan Warung tersebut.
"Kenapa kamu pucat begitu saat melihat Dudu tadi?" tanya Aufan saat di mobil.
"Oh tidak kok, aku merasa sakit perut, oleh karena itu mungkin wajahku berubah," jawab Vena.
"Kita ke kampung mu yuk, sesekali jalan jalan, kau pasti punya tetangga yang akrab, mungkin teman sekolah dulu, masa nggak ada sih?" tanya Aufan.
"Apa? Ke kampung, nggak, aku males, ngapain ke kampung, wong nggak ada siapa siapa juga kok," sahutnya.
"Masa orangtuamu nggak punya saudara gitu?" tanya Aufan.
"Nggak ada, tanteku semua ada di kalimantan, aku juga nggak tau kalimantan apa," sahutnya.
"Ooh."
'Kenapa lelaki tadi bilang, kalau ortunya masih ada? dan bahkan mereka sekarang sedang sakit sakitan, apa aku harus cari tahu sendiri ya? Ah mungkin nanti aku bisa mencari tahu, sekarang biar mencari villa dulu' batinnya.
Sepanjang jalan Vena terlihat pendiam, dia juga menyandarkan kepalanya di sandaran sambil memejamkan mata.
"Ada apa?"
"Apakah kau dulu pernah punya pacar?" tanya Vena.
"Punya, banyak malah, memang ada apa?" tanya Aufan.
"Apakah mereka semua mencintaimu?"
"Tentu saja mencintaiku, tapi aku putusin karena aku sudah bosan."
"Pacaran yang bagaimana? Apakah seperti kau dan aku juga?"
Mungkin maksud Vena, seperti mereka yang sering indehoy sebelum nikah.
"Yaa... Begitu deh," sahut Aufan.
"Eh apa mereka tidak hamil?" tanya Vena.
"Apa? Ha ha ha, pertanyaan macam apa itu? Udah ah, jangan bahas masa lalu, ngeri," ucapnya.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan santai. Dan akhirnya sampai di sebuah kampung yang terlihat banyak perumahan. Mereka pun berhenti dan bertanya.
"Ooh... Jadi anda mencari Villa?" tanya Bapak bapak.
"Iya Pa, apa ada ya?" tanya Aufan.
__ADS_1
"Anda terus aja sana, nanti ada perumahan, nah itu ada di bangun Villa di daerah bukit," ucapnya.
"Baik Pa, terima kasih."
Mereka melanjutkan perjalanan dan sampai di sebuah perumahan yang di maksud. Mereka pun turun. Disambut oleh seorang mungkin karyawan perumahan itu.
Aufan dan Vena menjelaskan maksud kedatangan mereka.
"Oooh ada kok, ini? Brosur nya, Anda boleh melihat lihat.
Aufan pun membaca brosur yang diberikan lelaki itu. Vena tampak tertarik dengan bangunan dan lokasi tersebut.
***
Istana Irlangga. 15.00
"Mas... Aku mau bekerja di perusahaan mu lagi," ucap Dik Irlangga.
"Apa kau sudah bosan berkeliling dunia? Dito?" tanya Irlangga.
"Iya, sepertinya aku perlu mencari istri agar hidupku tidak kesepian, semua wanita sudah pernah ku rasai, sekarang waktunya aku menetap pada satu hati," ucapnya.
"Baguslah kalau kau sadar. Oh iya, apa kau masih mencari kabar tentang anakmu yang hilang seabad duku?" tanya Irlangga.
"Tidak Mas, aku sudah menguburnya, mungkin sudah mati di telan bumi," sahutnya.
"Aku masih heran, sebenarnya, mengapa bayi itu bisa hilang saat malam hari? untuk apa orang itu menculik dan mempertaruhkan hidupnya memasuki rumah kita yang berpagar tinggi ini?" ucap Irlangga.
"Iya Mas, aku juga heran,"
23 tahun silam.
"*Mas jangan, aku mohon, aku takut," ucap pembantu di rumah Irlangga.
"Alaaah, jangan takut, aku pasti menikahi mu, ayo! Layani aku!" ajak Deto pada pembantu itu. Pembantu yang berusia kira kira 30 tahun itu terus menolak.
"Kalau Mas memaksaku, aku akan yeriak, biar paman satpam tau," ucap pembantu itu.
"Kau ini keras kepala, baiklah, aku pasti akan meluluhkan mu," ucapnya sambil berjalan keluar kamar Pembantu.
Ke esokan harinya, ternyata Deto tak menyerah, dia membeli obat bius. Dia menunggu Winar saat makan siang dan mencari akal. Dan memang otak me*sumnya berfungsi dengan baik. Ketika Winar sedang makan siang.
"Aku mau makan, tolong ambilkan nasi," ucapnya.
"Baik Tuan," sahut Winar sang pembantu.
Saat itulah, saat Winar mengambilkan piring dan nasi, Deto beraksi, dia membubuhkan obat di minuman Winar yang ada di meja makan. Deto tersenyum saat Winar meminum, minumannya.
"Kenapa Tuan menatapku? Apa aku mengganggumu?" tanya Winar.
"Tidak kok," sahut Deto.
Mata Winar mulai berkunang-kunang dan akhirnya tertidur.
Dengan cepat, Deto membawa perempuan itu ke kamarnya dan merenggut segalanya.
__ADS_1
Brsambung*...