Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Aufan Tertusuk


__ADS_3

Maura pun tampak berguling-guling di ranjang king size itu. Dia sangat senang, entah apa yang membuatnya sangat senang, yang jelas, dia tersenyum-senyum sendiri sambil menatap langit-langit kamar itu, ketika ketukan pintu terdengar. Maura pun segera bangun.


"Nona Maura, Apa kau jadi belanja hari ini?" ternyata Aman.


Ternyata ya ng datang adalah Aman.


"Oh iya Tuan, Aku akan segera bersiap, Tolong tunggu di luar," ucap Maura.


Kemudian Maura mengambil kartu atm-nya dan membawa tas kecilnya.


"Tuan, tolong antar aku ke ATM dulu ya, aku mau mengambil uang dulu," ucap Maura.


"Tidak perlu Nona...."


"Hey, kenapa kau memanggilku Nona?" tanya Maura.


"Karena itu yang diperintahkan Tuan Aufan padaku," ucap Aman.


"Tidak usah Tuan, aku tidak enak, panggil saja namaku... Maura," jawabnya.


"Nona, aku bisa dipecat kalau aku berani membangkang perintahnya, dan Nona juga jangan memanggilku Tuan, panggil saja aku Aman karena aku adalah bawahan mu Nona," ucap Aman.


"Tapi aku mera...."


"Nona... Tolong jangan membangkang! Kalau Anda membangkang! maka pekerjaanku taruhannya Nona, Nona tidak tahu seberapa kejam Tuan Aufan itu sebenarnya," ucap Aman.


"Baiklah, terserah kau lah," jawabnya.


Maura pun berjalan dengan wajah cemberut. Kemudian mengambil baju yang ada di lemarinya, berganti pakaian di dalam kamar mandi, tak Berapa lama dia pun keluar.


"Ayo kita berangkat sekarang! jangan lupa mampir di ATM dulu!" titah Maura.


"Tidak perlu Nona, semuanya sudah disediakan Tuan Aufan," ucap Aman.


"Apa maksudmu?" tanya Maura.


"Hari ini Nona boleh belanja maksimal 10 juta," ucap aman.


"Apa? 10 juta? Jangan bercananda, dari mana aku dapat uang sebanyak itu? Aku tidak bisa membayarnya? Aku pakai uangku sendiri saja," ucapnya.


"Nona, uang ini diberikan Tuan Aufan cuma-cuma, Jadi Nona tidak usah memikirkan untuk bagaimana membayarnya."


"Tapi aku merasa tidak enak, kalau memakai uangnya, berarti aku punya hutang padanya," sahut Maura.


"Nona... perusahaan Tuan Aufan itu ada di mana-mana, uangnya pun sangat banyak, jadi Nona tidak usah khawatir, setiap hari pun Nona belanja dengan minimal 10 juta, uang Tuan Aifan tidak akan habis Nona,-"ucap Aufan.

__ADS_1


"Benarkah? Apakah dia sekaya itu?" tanya Maura.


"Tentu saja Nona, Dia sangat kaya, makanya banyak wanita yang sangat mendambakannya untuk menjadikan Aufan suami mereka. namun hanya Nona Vena yang bisa merebut hatinya, karena sebenarnya Vena itu centil, jadi dia bisa merebut hati Tuan Aufan," ucap Aman.


"Benarkah? sebenarnya Vena itu keluarga seperti apa? Apakah dia juga dari kalangan keluaega kaya?" tanya Maura.


"Vena itu hanya keluarga kecil, keluarga biasa, namun dia sangat pandai bersilat lidah. Bahkan dia itu wanita yang sangat judes, aku saja sering dimarahi oleh dia," ucap Aman.


Mereka pun sudah sampai di parkiran mobil. Mereka pun masuk.


"Oh begitu ya, baiklah Tuan eh Paman. Bagaimana kalau aku panggil paman saja," ucap Maura.


"Aku ini masih muda Nona, tidak usah dipanggil Paman, panggil saja aku Aman, tidak apa-apa Nona," ucap Aman.


"Baiklah kalau begitu, Oh iya kita mau ke mana?" tanya Maura.


"Terserah Nona saja, sebenarnya Nona mau beli apa?"


"Aku ingin membeli pakaian, peralatan mandi, dan peralatan dapur, pokoknya yang bisa aku pakai untuk di apartemen itu," jawabnya.


"Kita ke mall saja, biar semuanya lengkap."


Akhirnya aman pun membawa Maura menuju sebuah Mall, yang tidak begitu jauh dari apartemen 17 milik Aufan.


Sementara Aufan tampak memasuki gedung perusahaannya. Karena dia ingin datang tiba-tiba ke kantor itu, dan memeriksa apa yang sedang dikerjakan oleh sekretarisnya.


Semua karyawan yang melihat Aufan kaget seperti melihat hantu. Namun mereka tidak bisa berkata apa-apa, Aufan pun berjalan lurus menuju ruangannya. Wajahnya yang terlihat dingin bagai gunung es membuat semua karyawan hanya menunduk dan menatap ketika Aufan sudah lewat.


Aufann mendorong pintunya kasar Aufan kaget ketika ruangannya itu tampak berantakan.


"Bo... Bos," Gagap sekretarisnya yang berada di ruangan Aufan.


"Sedang apa kau di sini?" tanya Aufan kepada sekretarisnya.


"Ti__tidak apa-apa Bos, aku sedang mencari berkas yang harus diselesaikan dengan perusahaan sebelah," suara gemetarnya begitu terdengar jelas di telinga Aufan, tentu saja orang ini bersalah.


"Tapi mengapa kau tidak menghubungiku?" ketus Aufan.


"Ku kira aku tidak bisa mengganggu Bos, karena bos sedang berbulan madu," ucapnya mulai bisa menguasai keadaan.


"Alasan kau saja. Kau pasti ingin menyolong sesuatu 'kan? Kau pasti ingin mencari surat-surat perusahaan ini, kemudian kau akan menjualnya, Iya kan?" tanya Aufan ketus dan terdengar emosi.


"Tidak bos. Mana berani aku begitu," ucap sekretaris itu.


"Aku sudah mengetahui rencana busukmu, sekarang kau mau berkilah?" Aufan mulai terbakar emosi.

__ADS_1


Sekretaris itu pun berdiri seperti mengambil sesuatu dari belakang tubuhnya.


"Kau jangan menuduhku sembarangan, Aku sudah bekerja sama selama 10 tahun di perusahaan ini, bagaimana bisa kau menuduhku seperti itu?" ucap sekretaris itu membalas.


"Lalu alu apa ini? kau masuk tanpa izin ku, bahkan kau punya duplikat kunciku," ketus Aufan lagi sangat marah.


Tiba-tiba lelaki itu mengeluarkan sebelah bel*a*ti yang kecil dan menu*su*kkannya ke arah Aufan. Aufan pun kaget, Aufan tidak bisa menghindar sehingga pinggangnya pun tertu*suk oleh be*lati itu.


"Aduh... ku...rang... ajar kau..." Pekik pelan Aufan yang kesakitan.


Aufan pun terduduk di lantai dengan bersimbah darah. lelaki itu pun menjauh dari tubuh Aufan ketika melihat darah, namun dia kembali akan menusuk*an be*lati itu, ketika suara orang tiba-tiba datang.


Door.


Suara tembakan dari depan pintu ternyata Pak Luj yang datang, orang kepercayaan Aufan yang memang sudah janjian dengan Aufan akan bertemu di perusahaan ini, namun dia terlambat datang.


"Bos kau terluka."


Luh pun mengarahkan senjatanya ke arah sekretaris itu, sehingga sekretaris itu pun Diam di tempat. Pak Luh berteriak meminta bantuan, beberapa karyawan pun datang.


"Cepat telepon polisi!" titah Luh.


Kemudian karyawan itu pun mengambil telepon mereka, dan menelepon polisi.


"Aufan, Ayo kita ke rumah sakit...! kalian, tolong jaga lelaki itu, jangan sampai dia lolos sampai polisi datang kemari," ucap Tuan Luh .


Karyawan itu pun berdiri berjajar dan yang satu diberikan pistol Tuan Luh agar bisa mengancam dari jarak jauh.


Aufan dibawa ke rumah sakit untuk mengobati luka tusuk yang ada di pinggangnya.Aufan terlalu banyak mengeluarkan darah, hingga akhirnya dia pun hampir kekurangan kesadadannya.


"Maura.... Mau__ra," Racaunya, sebelum dia benar-benar kehilangan kesadarannya.


"Aufan, tenanglah, kau akan baik-baik saja," ucap Tuan Luh.


Ia pun berusaha menekan luka Aufan dengan kain, agar darah itu bisa berhenti, namun sungguh darah itu terlalu banyak dan mengalir deras, dan akhirnya Aufan pun benar-benar pingsan.


Tak Berapa lama, mereka sampai di rumah sakit. Mami dan papah Aufan pun di hubungi. Aufan di pasangi infus dan di periksa oleh perawat jaga.


Mami dan Papa Aufan pun semua berkumpul di rumah sakit, dokter sudah memberikan pertolongan.


"Dok... Bagaimana dengan anak saya?" tanya Mami.


"Maaf nyonya, anak Anda sangat banyak kekurangan darah, kami sudah menanganinya, namun kayaknya bagian ginjal anak Anda terkena tusukan, maka kita harus segera mengoperasinya," ucap dokter.


"Ya Tuhan... tolonglah anakku, ya Tuhan..." keluh sang Mami.

__ADS_1


Sedang sang Papa hanya terdiam dan menatap anaknya itu sedih.


Bersambung...


__ADS_2