
"Aman! Mengapa kau santai santai di sini!? Kenapa malah kau tidur tiduran heh!?" Bentak seseorang.
Ternyata Tuan Irlangga atau Ayah Aufan yang tiba-tiba datang ke rumah sakit, dan membentak Aman.
"Pak Bos, maaf, saya kecapean," ucap Aman gugup.
Dia tidak menyangka ternyata lelaki penuh Wibawa itu bisa marah ketika dia mendengar kabar bahwa anaknya telah hilang.
"Mengapa kau bersantai di sini hah!? Cepat cari Aufan! kalau kau tidak menemukan anakku! maka akan ku potong lehermu!" gertas Irlangga marah.
"Baik Pak Bos," ucap Aman.
Aman pun segera berjalan keluar dari ruangan itu. Dia tergesak gesak mengayunkan langkahnya, jantungnya pun masih dag dig dug. Karena selama ini dia tidak pernah terkena marah Pak Irlangga sang Bos besar.
"Gawat! Mengapa Pak Bos yang datang? bagaimana ini?" gumam Aman bingung.
Aman pun pergi meninggalkan Rumah Sakit. Sementara Pak Irlangga sedang menelepon seseorang di depan kamar pasien.
"Hello... aku ingin kalian menyebarkan mata-mata ke seluruh kota ini, untuk mencari anakku Aufan, Dia harus ketemu, bagaimana bisa dia hilang? cepat bergerak!" titah Irlangga.
"Baik Bos, segera laksanakan," sahut mereka.
"Wajah Irlangga tampak marah dan emosi, kemudian dia menghirup udara kuat-kuat dan menghempaskannya begitu saja.
"Ke mana aku harus mencari Aufan. Bagaimana bisa sang pewaris perusahaan ternama di kota ini menghilang? apakah ada pesaing bisnisku yang berani bermain-main dengan keluarga kami?" gumamnya.
Dia pun terlihat berjalan meninggalkan rumah sakit dan memasuki mobilnya.
"Kita jalan!" ajaknya.
"Kita mau ke mana Pak?" tanya sopir.
"Aku juga tidak tahu, sebaiknya kita ke makam Mama Aufan saja, Aku ingin menenangkan diri, aku tidak bisa menjaga anaknya dengan baik," ucap Irlangga.
Akhirnya pak sopir pun membawa Pak Irlangga meninggalkan Rumah Sakit, menuju pemakaman istri pertamanya, yaitu mamanya Aufan.
Sesampainya di pemakaman tersebut, Irlangga turun dan mendekati makam yang terlihat bersih dan rapi itu. Sangat terawat.
"Sayang... maafkan aku, aku tidak bisa menjaga anakmu dengan baik, karena pekerjaanku yang menumpuk, tapi aku yakin, Ani sahabatmu bisa menjaga Aufan dengan baik, terbukti selama ini dia orang yang pertama kali melindungi Aufan, ketika Aufan sedang sedih dan terluka," gumamnya.
Tak terasa, setetes air mata Pak Irlangga pun jatuh dan membasahi pipinya.
"Sayang... aku pasti menemukan anak kita, Percayalah, semua kerja keras kita pasti akan ku bayar, hanya Aufan satu-satunya anak kita, pewaris tunggal Perusahaan kita," ucap Irlangga lagi.
Entah mengapa, hari terlihat mendung dan gerimis pun mulai turun.
"Bos... sebentar lagi akan turun hujan," ucap sopir mengingatkan, karena sepertinya Irlangga sedang terbuai oleh perbincangannya dengan sang istri, yang sudah kembali kepadanya.
"Baik, Ayo kita pulang!" ucap Irlangga.
***
__ADS_1
Malam ini Maura tampak sibuk mencuci pakaian. Karena tidak ada masin cuci dia terpaksa mengucek dengan tangannya.
"Sayang, apa masih lama?" tanya Aufan menjenguk di depan pintu kamar mandi.
"Sebentar lagi Mas," ucapnya.
"Jangan lama-lama ya, aku lagi pengen nih," ucap Aufan.
"Apa, pengen, pengen apaan?"
Maura merasa panik, bagaimana kalau ternyata Aufan menginginkan dirinya sebagai istrinya, dan melayani Aufan malam ini.
"Bagaimana ini? Mana mungkin aku melayaninya?" lirih Maura.
Namun akhirnya dia menepis prasangka itu, dan terus mencuci. Maura juga memperlambat pekerjaannya, tepat jam 10 malam, barulah dia selesai dari mencuci baju dan piring.
Maura berjalan mendekati ranjang Aufan. Terlihat Aufan sudah tertidur pulas. Dia juga terdengar sudah mendengkur.
"Syukurlah, dia sudah tidur, Aku merasa sangat takut sekali," gumam Maura.
Akhirnya Maura bun berbaring di samping Aufan, dengan sangat pelan, karena takut kasur tebal itu bergerak berlebihan yang akan menimbulkan Aufan terbangun.
Setelah Maura berbaring sempurna, barulah dia lega. Kemudian karena merasa capek Maura pun tertidur pulas.
Tapat jam 02.00 malam. Aufan terbangun karena masih penasaran dengan istrinya yang tidak kunjung membangunkannya. Aufan pun melirik ke samping dan ternyata dia sudah mendapati Maura tertidur pulas, Aufan pun berbalik menghadap Maura dan memeluk tubuh mungil itu.
***
Dia berteriak saat mendapati dirinya sudah berada di bawah selimut yang sama dengan Aufan, tanpa mengenakan sehelai benang pun.
Aufan yang sudah kembali tidur pun kaget dan terbangun.
"Sayang... ada apa? kenapa kau berteriak seperti itu?" tanya Aufan heran.
"Kau?"
Maura mengingat apa yang terjadi tadi malam saat Dia tertidur. Dia merasa bermimpi di tindih seseorang.
"Ada apa Sayang? kenapa kau bagai kehilangan sesuatu?" tanya Aufan lagi bingung.
"Tuan, kau?"
Mata Maura membelalak saat menyadari apa yang terjadi tadi malam.
"Maura, Kenapa kau terus memanggilku Tuan? aku ini suamimu loh!" ucap Aufan.
"Astaga," gumam pelannya.
"Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus mengatakannya, tapi bagaimana caranya?" tanya hatinya.
"Maura, Kenapa kau teriak? apa ada sesuatu yang menggigit mu?" tanya Aufan lagi.
__ADS_1
"Mas, aku ingin menanyakan sesuatu padamu," ucap Maura.
"Silakan! Apa yang ingin kau tanyakan?" tanyanya.
"Aku ingin tahu, apa yang kau ingat tentang masa lalu mu dulu?" tanya Maura.
"Mengapa kau bertanya seperti itu?" tanya Aufan.
"Apakah kau mengingat sesuatu? mungkin ibumu, ayahmu, atau orang yang pernah dekat denganmu?" ucap Maura.
Maura berharap, Aufan sadar dan mengingat masa yang dia lalui sebenarnya, bahwa Maura bukankah istrinya..
Aufan seperti mencoba mengingat sesuatu. Dia pun berusaha membayangkan masa lalunya.
"Aduh, aku ingat, aku punya Ayah, tapi di mana? Aku juga punya ibu, di sebuah eumah besar, tali mengapa ibuku memasak dan menyalau? Aduh," pekik Aufan.
"Ada apa?"
Maura seger mendekati.
"Kepalaku pusing, aku tidak bisa mengingat banyak," ucapnya.
"Baiklah, aku mau mandi," ucap Maura.
Maura pun memungut bajunya dan berjalan ke kamar mandi.
"Bagaiman ini? Kami hidup layaknya seperti suami istri, tapi aku merasa senang, aku bisa memilikinya seutuhnya, tapi... Bagaimana dengan Vena istri sahnya?" bathinnya.
Maura pun tersenyum manis. Sepertinya dia menikmati kehidupan barunya. Kemudian dia pun menyelesaikan mandinya.
"Mas, ayo mandi!" ucap Maura pada Aufa.
Aufan pun berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Sementara Maura mengambil Hp dan menelepon seseorang.
"Tuan Aman, aku ingin kau mencarikan penghulu dan menikahkan ku dengan Aufan!" titah Maura.
"Apa? Maksud Nona, Nona bersedia menikah dengan Aufan?" tanya aman seperti ada kebahagiaan tersendiri di dirinya.
"Iya," sahut Maura.
"Baiklah, segera aku carikan penghulu dan saksi," ucap Aman.
Maura pun menutup telepon. Dan berjalan menuju dapur mininya untuk memasak sarapan pagi ini.
"Apakah ini sudah benar? Sayang, kau akan memiliki Papah mu," lirih Maura.
"Sayang, kenala kau bicara sendiri?"
Tiba tiba Aufan datang dan memeluk Maura dari belakang.
Akankah mereka akan menikah?atau Vena akan ikut dan membuntuti Aman? Hingga Apartemen itu?😁
__ADS_1
Bersambung...