Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Menikah


__ADS_3

Kalian yang baca karyaku minta tolong dengan keikhlasan untuk nge like. Karena sekarang penilaian dari hasil Like dan komen kalian. Bahkan kemaren NT telah memotong poin kami dan kami sakit hati berjamaah.


Penilaian sekarang dari Like kalian. Terima kasih kalian yang setia membaca. Sebenarnya kalau dari pengunjung perhari itu ada 500-2000. Tapi aneh like nya cuma belasan.


...***...


Acara pernikahan Maura dan Ibrahim akan segera dilaksanakan. Ibrahim tampak tersenyum menatap Maura yang sangat cantik, hari ini mereka semua sudah berkumpul duduk di depan penghulu.


"Bagaimana keluarga semuanya? Apakah semuanya sudah berkumpul?" tanya pak penghulu kepada Maura.


"Iya Pak, kami sudah berkumpul."


"Kalau begitu, mari kita langsungkan acara pernikahan ini," ucap pak penghulu.


Namun tiba-tiba ...


"Tunggu!" ucap seseorang yang datang ke gedung tersebut dengan berlari kecil, seorang lelaki mendekati panggung pernikahan.


"Aufan?" lirih Maura.


Namun kemudian pemuda itu dicegat oleh Pak Irlangga yang ada di depan panggung pernikahan.


"Aufan. Apa yang kau lakukan di sini?" ketus pak Irlangga.


"Pah, aku ingin berbicara sebentar dengan Maura," ucap Aufan.


"Apakah kau tidak akan menyakitinya?" tanya Irlangga.

__ADS_1


"Tidak Pa. Tolong! aku mohon Pah! aku ingin berbicara sebentar dengan Maura," pinta Aufan.


Tiba-tiba air mata Aufan mulai menetes di ujung mata Aufan, membjat Irlangga tidak tega.


"Baiklah, tapi Awas, kalau kau berbuat macam-macam!" ucap Irlangga.


Pak Irlangga memperlakukan Aufan seperti memperlakukan anak tiri saja, tampak si kembar berada di kereta di depan panggung sedang tidur pulas. Aufan pun mendekati Maura.


"Maura, aku mohon. Berikan aku kesempatan lagi, aku sangat memohon padamu Maura, aku janji, Sumpah! aku akan berubah," ucap Aufan.


"Aufan, Maaf, sudah berulang kali aku katakan. Aku sudah menentukan pilihan, aku menentukan pilihan bukan karena nafsu semata, namun aku sudah memikirkannya bahkan aku juga sudah bertanya kepada Allah, dan jawabannya sama, aku tidak bisa menerimamu lagi Aufan, Aku tidak bisa mengingkari takdir, aku sudah bertanya dan aku sudah sholat istikhorah berulang kali, namun jawabannya sama," ucap Maura.


"Maura, tapi aku akan berubah, sungguh! aku janji! Sumpah! Aku mencintaimu Maura. Aku sangat menyayangi anak-anakku," bujuk Aufan.


"Aufan, Maaf, kau masih bisa terus bertemu dengan anak-anakmu, tapi kita tidak bisa kembali sekarang, aku mohon, tolong terimalah keputusanku ini, hargailah keputusan yang telah aku ambil, Aufan," ucap Maura.


"Maura, kau menangis? berarti kau masih mencintaiku kan? kenapa kau meninggalkanku, Maura? tolong pikirkan sekali lagi Maura, kita akan bahagia dengan dua anak kembar kita!" ucap Aufan.


"Aufan. Sudah aku katakan berulang kali, tolong hentikan, aku tidak bisa meneruskannya, dan sekarang aku sudah melabuhkan hatiku kepada Tuan Ibrahim."


"Maura, kau mencintaiku, Bagaimana bisa kau menikah dengan orang lain? aku mohon kalau kau bersamaku, aku pasti berubah, sungguh Maura, demi Allah," ucap Aufan.


"Mengapa harus berubah kalau kau bersamaku? berarti itu bukan dari lubuk hatimu Aufan? Kalau kau ingin berubah, maka perubahan demi Tuhan, bukan demi aku, kalau kamu berubah hanya karena aku, suatu saat kalau cintamu padaku mulai pudar, maka mungkin kau akan kembali ke jalan yang salah itu, Aufan."


"Maura, bukan begitu...."


"Cukup Aufan! Ayo aku antar kau keluar!" ajak Irlangga, Ayahnya.

__ADS_1


Irlangga pun menggenggam tangan Aufan, menggandengnya dan mengajaknya keluar dari ruangan tersebut. Aufan tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena semuanya sudah terlambat. Akhirnya Aufan pun mau pergi meninggalkan gedung tersebut. acara pernikahan kembali dilanjutkan, sementara Mama Ibrahim tampak terlihat kesal.


"Paman sopir, sebenarnya siapa lelaki itu? apakah dia suami sebelumnya?"


"Iya Nyonya, dia adalah Ayah dari si kembar."


"Kenapa Ibrahim mencintai wanita yang sudah bersuami?"


"Bukan Nyonya, mereka sudah lama bercerai."


"Bagaimana kalau nanti ada masalah?" tanya Mama Ibrahim.


"Nyonyanl tenang saja. Bahkan mertua Maura pun mendukung keputusan Maura, karena katanya Maira itu adalah keponakannya semdiri."


"Ha? Jadi mereka nikah sedarah?"


"Aku kurang tau Nyonya, nanti di tanyakan saja pada pa Ibrahim."


Tampak wajah Mama Ibrahim tidak puas dengan jawaban Sopir. Apakah Maura akan mendapatkan masalah baru?


Bersambung


Yuk mampir di karya temen aku, seruu


Judul : Istri Kecil Gabriel


Author : Virzha

__ADS_1



__ADS_2