Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Aufan Plin Plan


__ADS_3

Vena pun turun dari tangga dan menghampiri Maura. Mungkin dia berniat untuk menjambak Maura kali ini. Maura merasa takut ,dia pun mundur beberapa langkah.


"Berani sekali kau kau ke rumah ini! Apa kau mau cari mati?" ketus Vena pada Maura. Sambil mendekati Maura, dengan wajah penuh amarah.


"Vena, tunggu! Maura adalah orang yang dihormati di rumah ini, papa Aufan yang telah membawanya ke rumah ini, jadi tidak ada yang boleh menyakitinya," Bela Mami Aufan.


"Kok Mami membela Maura sih?" tanya Vena kesal.


"Aku tidak berdaya, karena dia adalah tamu papamu, aku juga tidak berani sama papa Aufan, kau tahu 'kan itu?" ucap mami.


"Tapi dia keterlaluan Mi, tebal sekali mukanya itu, berani sekali dia datang kemari!" ucap Vena lagi.


"Sudahlah, Kamu urus saja Aufan, biar aku yang mengurus Maura," ucap Mami.


Mami pun menggandeng Maura menuju kamar tamu, ketika melewati tangga, tampaklah Aifan berdiri di atas tangga menatap Maura.


"Aneh, seperti dia lupa-lupa ingat padaku, kenapa Aufan begitu dingin padaku? Apakah dia sekarang sudah melupakanku?" batin Maura.


"Ayo Maura, ini kamarmu, kalau kau perlu apa-apa, kau bisa ke dapur mendatangi Bibi ya. Kau tidak usah takut, di sini kau dilindungi oleh Papa Aufan, tidak ada yang berani padanya, kalau ada yang berani membangkang, maka sudah dipastikan dia akan keluar dari rumah ini, meskipun itu adalah Aufan sendiri," ucap Mami.


"Terima kasih Nyonya," ucap Maura.


"Tidak usah memanggilku Nyonya, panggil saja aku Mami, karena aku adalah ibunya Aifan, walaupun statusku hanya Ibu sambung," ucapnya.


"Oooh, jadi Nyonya Ibu sambung Aufan?" tanya Maura.


"Iya, aku Mami sambung Aufan."


Maura pun masuk ke dalam kamar itu, dan memindai sekeliling kamar yang tampak bersih dan terawat.


"Baiklah Maura, Aku tinggal dulu ya," ucap Mami.


Mami pun pergi meninggalkan kamar Maura seraya menutup pintu.


"Bagaimana bisa aku hidup di sini? hidup seatap dengan istri sahnya, sedangkan aku bukanlah siapa-siapa, bagaimana bisa aku keluar dari sini?" ucap Maura.


Maura berlikir tentang Mira. Dia ingin Mira mengantarkan semua barang-barangnya lewat paket ke rumah ini, karena ada sesuatu hal yang sangat dia inginkan, yaitu foto semata wayang milik ibunya. Dia pun mengambil,HPnya.


"Hello Mbak Mira. Boleh nggak aku minta tolong," ucap Maura.


"Minta tolong apa, Maura? Katakan saja, Aku pasti menolong mu, kalau aku sanggup," ucap Mira.


"Aku minta mbak merapikan semua barang-barang ku, yang ada di lemari lama. Tolong paketkan ya nanti biar COD saja, aku yang bayar, soalnya sekarang aku sudah berada di rumah Aufan, dan aku tidak bisa lagi keluar dari rumah ini, aku seperti dikurung begitu..." ucap Maura.


"Benarkah? Baiklah... Tapi kau tidak disakiti kan? kalau kau disakiti, maka aku akan menolong mu aku akan melaporkannya ke polisi," ucap Mir.


"Tidak, Mabk, aku baik-baik, tl Aku baik-baik saja kok, nanti akan aku kabari kalau sesuatu hal buruk terjadi padaku," ucap Maura.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu, aku akan mempersiapkan semua perlengkapan mu ucap Mira.


Mira Menutup teleponya.


Aufan yang berdiri di tanggapan menuruni anak tangga, menuju dapur menyusul Vena, Vena yang terlihat kesal dan uring uringan membuat AufN heran.


"Vena..m siapa dia?" tanya Aufan.


"Oh ya Tuhan... kau tidak mengenalnya? Bukankah dia itu wanita yang sedang mengandung bayimu? itu kan yang kamu bilang kemaren?" ucap Vena.


"Mengandung bayiku? memangnya siapa dia?" tanya Aufan lagi.


"Maura... Apa kau ingat? bahkan sambil tertidur pun kau memanggil namanya, saat kau tertidur kamu manggil namanya berulang ulang, aku sangat sakit Aufan, sebenarnya hubungan seperti apa yang kalian miliki dengan dia? Kenapa kau dia sampai hamidun?" ucap Vena sangat kesal.


"Aku menghamilinya?" Aufan pun seperti berpikir, dia memejamkan mata dan mengingat-ingat apa yang terjadi.


" lMaura...Maura...." gumamnya.


Kemudian dia pun mengingat bayangan Maura, bagaimana dia dulu memperlakukan Maura setiap malam-malamnya. Dia menghabiskan waktu bersama.


"Maura...ya benar, aku ingat itu," ucap Aufan.


Tiba-tiba Aufan berlari kecil menuju kamar tamu dan mendorong lintu Maura.


Dugh dugh dugh


"Maura... buka pintunya Maura! buka!"


Ceklek.


"Ada apa...Tuan? Eh Ada apa Aufan?"


Kemudian Aufan pun masuk dan menutup pintu.


"Kau? Apa benar kau Maura? Maura yang malam itu?" tanya Aufan.


Sekarang Aufan kembali plin plan, dia bahkan lupa siapa Maura, yang sudah lama dia cari-cari.


"Kenapa dengan Maura?" tanya Maura sendiri.


"Aku mencari lmu, aku mencari mu sudah lama," ucap Aufan.


"Terus? kalau kau mencari ku? Memangnya kenapa?" tanya Maura.


"Mengapa kau tidak mengatakan, bahwa kau adalah Maura? Maura yang malam itu!" ucap Allufan lagi, semakin membingungkan.


"Buat apa aku mengatakannya padamu? tadi malam saat kita akan menikah, kau bahkan lari dari pernikahan itu, dan tidak menghiraukan ku," ucap Maura.

__ADS_1


"Menikah? Kenapa menikah? bukankah kita sudah menikah? bukankah kau mengandung anakku?" tanya Aufan bingung.


"Tidak! kita belum menikah, bahkan bayi yang ada di dalam perutku ini pun tidak ada status di keluargamu."


"Kalau benar itu anakku, ayo kita menikah sekarang!"


Bruk


Tiba-tiba pintu Maura di dobrak dengan kasar.


"Apa? Apa yang kau bilang? kau ingin menikah dengannya? ya ampun... perempuan pel**cur ini keterlaluan!" teriak Vena sangat marah.


Kemudian dia berjalan cepat dan menarik rambut Maura sekuat tenaga, hingga Maura tersungkur ke lantai.


"Aduuuh," jerit Maura.


"Tunggu! jangan katakan dia.... Au..."


Tiba tiba Aufan merasa sakit kepala yang hebat, Dia pun mencengkram kepalanya. Akhirnya Aufan tidak bisa menolong Maura yang ditarik oleh Vena .


"Mati Kau Maura!" bentak Vena dengan terus menarik rambut Maura.


"Hemtikan!"


Suara bentakan yang memenuhi ruangan kamar Maura, membuat Vena dan Maura tersentak kaget. Vena langsung melepas cengkraman nya dari rambut Maura.


"Keterlaluan kau Vena? dia adalah tanggung jawab ku, jadi tidak ada satupun diantara kalian yang boleh menyakiti nya!" bentak Pa Irlangga nyaring.


Ternyata pak Irlangga yang sudah berdiri tegak di depan pintu Maura.


"Papa, tapi dia telah merebut suamiku pa," ucap Vena.


"Vena! sebelum kau menikah dengan Aufan, dia lebih dulu berhubungan dengan Maura, jadi tidak ada kata merebut di sini," ketus Irlangga lagi.


"Pa, tapi dia belum menikah Pa, dia ada pe*lakor di rumah tangga kami," ucapnya lagi masih tidak menerima.


"Sengar Vena baik-baik! Seujung kuku pun kau tidak boleh menyentuh Maura! kalau kau sampai menyakitinya, maka aku tidak akan segan-segan mengusir mu dari rumah ini! Maura adalah ibu dari cucuku, pewaris perusahaanku kelak," ucapnya.


"Pa, Vena juga bisa hamil, Vena juga bisa mengandung cucu papa, kenapa Papa membawa dia ke rumah ini?" ketsnya masih tidak bisa mengendalikan diri.


" lVena, sabar, ayo kita keluar !"sementara Aifan tampak masih mencengkram kepalanya dengan kuat. Sepertinya dia kesakitan kilasan demi kilasan pun terbayang di kepalanya hingga kilasan terakhir saat dia menikah dengan Vena, sangat mesra, itulah ingatan Aufan yang terakhir.


"Vena, Maafkan aku," ucap Aufan.


Tiba-tiba Aufan berdiri dan menggandeng Vena, kemudian Aufsn menatap Maura tajam.


" lAku tidak tahu siapa kau? jadi jangan coba menggodaku!" ucap Aufan kemudian.

__ADS_1


Aufan pun pergi membawa Vena keluar kamar. Vena tersenyum menatap Maura yang terlihat menangis.


Bersambung...


__ADS_2