
Aufan terhenti di tangga terakhir sebelum nalkon. Dia pun menajamkan suaranya saat mendengar maminya berbicara dengan seseorang di dalam telepon.
"Mami bicara dengan siapa ya?" gumamnya pelan.
Kemudian dia kembali memasang telinganya.
"Semua itu memang kesalahanku di masa lalu, tapi sekarang aku menyesal, aku merasa bersalah kepada sahabatku sendiri, aku telah meracuninya dan membuatnya mati pelan-pelan, aku mohon, jangan kau ungkit lagi masa laluku itu! aku sudah tobat sekarang," ucap Mami lagi.
Aufan yang mendengarkan di balik dinding pun merasa semakin penasaran.
"Ada rahasia apa lagi ini? masalah dengan Didi saja belum selesai, karena Didi sedang pergi ke luar kota hingga sekarang belum kembali, sekarang malah timbul masalah baru," gumam Aufan.
Kemarin Aufan dan Aman tidak bertemu dengan Didi adik kandung Vena, karena saat mereka ke Bandung, ternyata Didi dan anak kecil itu sudah pergi ke luar kota untuk berlibur, itu kata tetangganya pada Aufan.
"Agung ..., aku mohon, kirimkan nomor rekening mu, Aku akan mengirimkan sejumlah uang untukmu, tapi aku mohon, kau jangan menampakan diri di depanku! semua Itu sudah masa lalu, Agung," ucap Mami memohon.
Dan telepon pun berakhir. Mungkin Agung atau Mami Aufan yang mematikan teleponnya.
"Agung? siapa Agung?" gumam Aufan.
Aufan pun perlahan meninggalkan balkon menuju kamar Maura.
"Aku harus mencari sesuatu, mungkin saja aku menemukan sesuatu di dalam kamar Maura," ucapnya.
Setelah Aufan masuk ke dalam kamar, kemudian dia menutup pintu itu dengan rapat. Dia tidak ingin ada orang lain mengganggunya, dia membongkar semua baju di lemari Maura, baju yang masih ada beberapa lembar itu pun berserakan ke lantai, namun dia tidak menemukan apapun.
"Maura..., Di mana kau? aku sudah mencari mu kemana-mana, namun aku tidak berhasil menemukan mu," ucap Aufan.
Karena merasa lelah dalam pencariannya di kamar Maura, dia pun berbaring di halaman ranjang sambil menelentangkan badannya, dan menatap langit-langit kamar, tangannya pun direntangkan nya hingga tangan sebelah kanannya pun masuk ke bawah kolong ranjang, saat tangan itu berada di kolong ranjang, Dia merasakan ada benda yang disentuhnya, dia pun mengambilnya, sebuah liontin. Dia pun mengangkat liontin itu.
"Milik siapa ini? kelihatannya ini bisa dibuka," gumam Aufan.
Aufan kemudian dia pun membuka liontin itu. Alangkah kaget dirinya, saat melihat foto wanita yang sangat dia kenal
"Ibu Winar ya, Ini Ibu Winar bersama dengan Putri kecilnya, di mana Putri kecilmu itu sekarang berada? seandainya aku bisa menemukannya, aku pasti sangat bahagia, aku akan melindungi nya. Bu ..., Kau adalah ibu terbaik dalam hidupku, saat Mamah sakit, kaulah yang merawat ku, bahkan kau rela hujan-ujanan hanya untuk mencari ku ketika aku belum pulang ke rumah karena terlalu asyik bermain di rumah tetangga," gumamnya.
Aufan terus menatap foto itu, penuh lerasaan rindu.
"Apa mungkin aku bisa menemukan anakmu bu?" lirihnya, tanpa dia sadari dia telah mengambil foto itu dan mengeluarkannya dari liontin, foto yang sangat kecil, dia pun membolik-balik foto itu, dan tampak di belakang foto ada tulisan kecil mengukir seperti sebuah nama.
Winar Sayang Maura.
__ADS_1
Door
Aufan tersentak kaget, dia pun bangkit duduk 190 derajat, di pandangnya foto itu lekat-lekat.
"Maura? Apa mungkin? Apa mungkin Maura adalah anakmu? Ah tidak mungkin, mustahil. Bagaimana mungkin? tapi Bukankah Ini kamar Maura? apa mungkin liontin ini milik Maura?" gumamnya.
Kemudian dia pun kembali Meletakkan foto itu dalam liontin tersebut, dan memasukkannya dalam kantong, dia bergegas keluar dan mengetuk pintu Maminya.
"Mi..., apa kau di dalam? tanya Aufan.
"Iya, masuklah!" ucap Mami.
Rupanya Mami sudah selesai menelpon dan sudah ada di kamarnya.
"Mami ..., bukankah kau dulu pernah menyimpan foto punya Bi Winar bersama anaknya?" tanya Aufan.
"Iya, dulu, Memang ada, tapi sekarang aku sudah tidak pernah melihatnya lagi," ucap Mami.
"Benarkah? di mana foto itu Mi? Tolong ingat-ingat lagi," ucap Aufan.
"Aku tidak tahu, terakhir kali aku membukanya itu kan 2 bulan lalu, tapi aku juga lupa, karena saat itu tergesak-gesak, seingatku, aku meletakkannya di atas sebuah lemari," ucap Mami.
"Tolong ingat-ingat Mi, aku ingin melihat foto itu, aku merindukan Bu Winar," ucap Aufan.
Aufan pun keluar dan mencari di atas meja. Semua meja dia pindai, namun tak menukan foto yang pernah dia lihat dulu.
"Ke mana Mami meletakkan foto itu?" Gumamnya.
Kemudian dia pun ke kamarnya dan menatap wajah bayi kecil itu yang sedang digendong oleh Bu Wimar.
"Apakah dia mirip Maura?" gumamnya lagi.
Tok tok tok
"Tuan Muda, apakah anda mencari foto Bi Winar?" teriak bini dari depan pintu.
"Iya Bi," sahut Aufan seraya berjalan mendekati pintu dan membukanya.
"Ini Tuan, aku temukan sebulan lalu, saat aku membersihkan meja dan di bawah pas bunga."
"Terimakasih Bi," ucap Aufan.
__ADS_1
Aufan pun mengambilnya dan setelah bibi pergi, Aufan kembali menutup pintu.
"Ya Tuhan, benar, ini foto yang sama, tapi? Apakah benar ini milik Maura?" ucapnya lagi.
Kini perasaan bersalah menghantui jiwanya. Istri yang dia nikahi dan dia perlakukan dengan kasar itu adalah adik sepupunya sendiri. Anak Bi Winar yang telah di perko*sa oleh Dito pamannya.
"Aku harus menghubungi Paman Deto, mungkin saja kami bisa sama-sama mencarinya," ucap Aufan.
Aufan mengambil teleponnya dan menghubungi pamannya Dito. Berulang kali menelepon, namun tak ada jawaban.
"Ke mana sih paman? Kok nggak di jawab?" gerutu Aufan jengkel.
***
Maura tampak berjemur di pagi ini, perutnya kini sangat besar, bahkan berjalan saja dia sangat sulit.
"Sayang... Mama sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kalian berdua, kalian adalah penyemangat hidup Mama." gumamnya seraya mengelus lembut perut buncit itu.
"Maura, assalamualaikum," ucap Irlangga.
"Wa alaikum salam, Papa."
"Kau sangat cantik dengan kerudung itu Maura," puji Mertuanya.
"Terima kasih pa, ini semua berkat bu Nur, yang selalu mengajakku ke majlis di dekat sini," ucapnya.
"Kau sudah siap?" tanya Irlangga.
"Tuan, sudah datang? Kami sudah siap Tuan, semua barang bawaan pun sudah kami persiapkan."
"Baiklah, ayo berangkat! Kita harus segera sampai ke sana sebelum malam," ucap Irlangga.
Irlangga memutuskan untuk menyewa Apartemen dekat dengan Rumah sakit, karena Rumah sakit dari tempat Maura tinggal berjarak 1 jam lebih perjalanan.
Sementara Bu Nur dan Bu Min tetap tinggal di rumah besar itu. Semua keperluan mereka pun di penuhi oleh Irlangga.
Visual Maura yang sudah hijrah.
Kasih hadiah ya...
Vote jua, di detik detik terakhir Maura sebelum akhir bulan.
__ADS_1