
Bagai petir di siang bolong, saat Irlangga mendengar semua perkataan Agung, walaupun Agung meracau karena mabuk, namun semua yang dikatakan Agung itu benar, bahwa Mama Aufan atau pun Winar telah diracuni sehingga mereka meninggal dengan cara sakit perlahan-lahan.
Irlangga berdiri tegak di depan pintu, kakinya seakan gemetar, tangannya membentuk bongkahan batu yang sangat keras, perlahan Irlangga pun masuk ke dalam rumah, berdiri tegak menatap tajam ke arah Ani sang istri.
Sementara Agung yang sedang mabuk terus meracau, kini wajah Ani memucat, semua rahasia telah terbongkar. Irlangga berjalan mendekati Agung.
Bugh bugh bugh
Beberapa hantaman mendarat di perut Agung. Agung pun meringis dan terkapar di lantai.
"Bibi, tolong panggilkan polisi!"ucap Irlangga.
Agung yang berdarah di bibirnya karena hantaman Irlangga tampak tertidur.
"Papah, tolong! Tolong dengarkan penjelasan ku dulu!"
Mami menangis sambil berlari ke arah Irlangga ,dan bersujud di kaki Pak Irlangga.
"Aku sungguh tidak menyangka, Ani! aku sungguh tidak pernah menyangka semua ini adalah ulah mu? kau itu adalah sahabat istriku! sahabat baiknya! bahkan kalian sering bersama, shopping bersama, kau sering ditraktir oleh istriku. Namun ternyata kau adalah racun dalam dagingnya! kau telah menyingkirkannya dengan sangat hina! Aku sungguh berdosa! aku sangat berdosa!" teriak Irlangga sangat marah.
__ADS_1
Irlangga pun akhirnya meneteskan air matanya, karena merasa sangat bersalah pada istrinya. Dia telah memperistri orang yang telah membunuh istrinya sendiri.
"Aku mohon, aku mohon ampuni aku! Pa, aku khilaf, Aku sudah memperbaikinya, aku pun sudah bertobat Pah, aku mengabdikan diriku dan menyayangi Aufan seperti anakku sendiri, kau lihat kan?" mohon Ani pada Irlangga.
"Semua itu tidak ada gunanya bagiku! Ani! kau juga bahkan membunuh Winar, Kenapa? karena kau takut anak Winar keponakanku, dan kau mengira mereka akan saingan begitu? ya Tuhan ..., benar sekali, semua harta yang aku miliki, telah menggelapkan mata seseorang, yaitu kau!" bentak Irlangga.
"Papa, aku mohon, aku khilaf Pa, Aku sudah tobat Papa," ucapnya.
"Tidak ada kata tobat bagimu, sebelum kau di penjara, kau harus menerima semua akibatnya."
Kemudian Pa Irlangga pun pergi ke kamar dengan tergesa-gesa, mengunci pintunya dia pun berjalan ke dekat lemari dan mengambil koper yang sangat besar, memasukkan semua baju Ani ke dalam kompor itu.
Pa Irlangga membuka pintu dan melempar koper itu keluar.
"Sekarang persiapkan dirimu untuk satu hal yang sangat buruk sekalipun, aku tidak sudi melihat wajahmu lagi!"
Kemudian Irlangga pun turun diikuti oleh Ani yang terus memohon agar dia dimaafkan.
"Pah, tolong maafkan aku, Pa, tolong maafkan aku!" ucapnya berulang ulang.
__ADS_1
Pak Irlangga sudah tidak bisa mengeluarkan kata-katanya. sambil menunggu polisi datang, dia pun ke dapur dan mengalami minum. sementara Ani terus mengikutinya lagi, bagai bayi yang meminta susu.
Namun kemudian Ani pergi karena merasa tak ada gunanya memohon. Dia pun pergi meninggalkan dapur entah ke mana.
Tak nerapa lama, Aufan pun juga datang dalam keadaan mabuk.
"Maura ..., Kau di mana, Ra? di mana anak-anakku?"
"Ya Tuhan ..., keluarga seperti apa aku ini? kenapa Aku gagal mendidik anakku satusatunya, Aku gagal mempertahankan menantuku, aku juga terpisah jauh dari cucu-cucuku," gumam Irlangga.
"Semua ini pasti karena harta, semua ini pasti karena aku memanjakan Aufan dengan hartaku dulu, sekarang aku sudah menerima semua akibatnya, Aufan. cepat kau mandi! Aku ingin berbicara denganmu," icap Pa irlamgga.
"Maura ..., Maura," panggil Aufan terus menerus. Akhirnya pak Erlangga pun menarik Aufan bagai anak kecil, lalu membawanya ke kamar mandi yang ada di dapur, menyiramnya dengan banyak air, sampai akhirnya Aufan menggigil kedinginan. Tak berapa lama, Aufan mulai tersadar.
"Kenapa kau memandikanku?" tanya Aufan heran pada Ayahnya.
"Ya, karena kau bagai anak kecil yang memang harus dimandikan," ucapan Irlangga.
Tak berapa lama, rombongan polisi pun datang. Namun ternyata sebelum polisi datang. Mami sudah pergi meninggalkan rumah itu dengan membawa kopernya, sementara Agung yang ada di lantai masih terlihat berbaring di sana, karena sangat mabuk akhirnya Agung lah yang dibawa ke penjara untuk mempertanggungjawabkan semua kesalahan, yang pernah dia lakukan dulu atas perintah Ani.
__ADS_1
Bersambung...