
Aufan tampak mondar-mandir di rumahnya sambil menunggu Papahnya kembali. Sudah satu minggu ini Papahnya tidak pulang ke rumah. Pa Irlangga berbohong kepada orang rumah, bahwa dia sedang keluar kota, padahal Pak Irlangga saat ini sedang sangat bahagia tinggal bersama ke dua cucunya.
Bayi kembar yang sangat imut, bahkan Pak Irlangga tak segan-segan membantu kedua cucunya itu untuk sekedar menggendong dan menjemur ketika pagi hari.Hari-hari Pak Irlangga sangat menyenangkan.
Sedangkan Mami, wajahnya sudah mulai membaik karena sudah dioperasi oleh dokter bedah. Tampak dia sudah kembali ke rumah dan bersantai di ruang keluarga.
"Aufan, Kau sudah makan?" tanya Maminya.
"Belum Mi, Bukankah Papa hari ini pulang?" tanya Aufan.
"Katanya sih begitu, tapi aku juga belum tahu, dia tidak memberiku kabar selama seminggu ini," ucap Mami.
"Aku mau makan dulu setelah ini baru nerangkat ke kamtor," ucap Aufan.
Aufan pun berjalan ke dapur dan mengambil piring sendiri, karena Bini sedang pergi ke pasar.
"Kok sedikit sekali makannya?" tanya Mami.
"Aku tidak berselera Mi, seharusnya mungkin saat ini Maura sudah melahirkan, namun tidak ada kabar sama sekali," ucapnya.
"Iya, entah di mana sekarang dia?" sahut Mami juga.
Aufan pun menyelesaikan makannya yang hanya beberapa suapan.
"Baiklah Mi, aku akan ke kantor dulu, mungkin ada berkas yang harus aku tandatangani," ucap Aufan.
Aufan pun pergi meninggalkan rumahnya, menuju kantor Papanya, di perjalanan dia terus memikirkan Maura dan bayi yang di kandung Maura.
Tiba-tiba....
"Loh! Itu kan mobil papa?" ucap Aufan, saat melihat mobil Papanya terparkir di depan sebuah warung makan, kemudian Aufan pun manepi di bahu jalan, saat Aufan Ingin turun, ternyata Papanya sudah selesai belanja makanan "Apakah Papa sudah datang sebaiknya aku ikuti saja dia" batinnya.
"Aku ikuti saja dia," Lirih Aufan kemudian.
Aufan pun mengikuti Papahnya dari jarak yang lumayan jauh, sehingga mungkin Pa Irlangga tak akan mengenalinya.
"Loh kenapa Papa ingin ke rumah sakit? Mengapa tidak melewati jalan menuju rumah? Memangnya ada yang sakit?" heran Aufan.
Aufan terus mengikutinya dari belakang, namun kini, Rumah sakit pun telah lewat. Aufan kembali heran.
__ADS_1
"Lho? Ini kan menuju Hktel berbintang?, kenapa Papa ke mari?" tanya aufan tambah heran.
Pa Irlangga tanpa merasa ada yang mengikutinya dengan santainya masuk ke halaman Hotel dan memarkirkan mobilnya.
"Bukankah ini sebuah hotel mewah, dan Elit?" kagum Aufsan lagi.
Akhirnya Aufan pun mengikuti Sang Papa masuk ke halaman gedung dan memarkirkan mobilnya jauh di pojokan.
Tak berapa lama, Papa Aufan pun tueun dari mobilnya, di depan gedung hotel tersebut.
Alangkah kagetnya Aufan saat melihat Papanya masuk ke dalam Hotel tersebut, bahkan kini dia mengira-ngira, bahwa sekarang Papanya sedang berselingkuh dengan seseorang.
"Apakah Papa sudah berselingkuh? atau mungkin selama satu minggu ini Papa tidak keluar kota? melainkan dia di hotel ini bersama wanita lain?" batinnya.
Pa Irlangga terus berjalan mendekati Lift Aufan lun mengikuti Papanya, dari jarak yang jauh, sambil menunduk. Setelah Papanya hilang di balik pintu lift menuju lantai tiga, Aufan pun mendekati Resepsionis.
"Apakah Pak Irlangga sudah ada di kamarnya? aku sudah membuat janji dengannya, Pak Irlangga yang menginap di lantai 3," ucapnya pura pura sok tau, padahal saat Papanya naik tadi, dia melihat nomor yang di pencit papanya.
"Tunggu sebentar!" ucap resepsionis itu.
Resepsionis itu pun mencari nama pak Irlangga sebagai tamu di hotel.
"Iya," sahut Aufan.
"Iya, mereka belum keluar."
"Terima kasih," ucap Aufan.
Akhirnya Aufan pun naik ke lantai 3, dan Dia kemudian berjalan menyisiri pintu demi pintu, menyisir nomor-nomor yang tertera di depan pintu.
Aufan sudah menemukan nomor 202, 203 hingga sampai ke 205 dan akhirnya sampailah dia kepada pintu yang bernomor kan 207 perasaan dag dig dug pun kini menjalar ke sekujur tubuhnya, ketika tiba-tiba pintu itu terbuka. Aufan pun mendadak berbalik membelakangi pintu itu dan berjalan ke pintu 205. karena Sekarang dia sudah berada di depan pintu nomor 205 dan mengambil HPnya seakan dia sedang chat dengan seseorang.
"Alin, tolong kau jaga cucuku ya! aku akan pulang ke rumah hari ini, mungkin sebelum aku berangkat ke kantor besok, Aku akan mampir ke sini, dan setelah pulang kantor aku pun pasti akan mampir ke sini, aku akan menyusun rencana untuk membawa pulang mereka," ucap Pa Irlangga.
"Baik Tuan Bos, Anda jangan khawatir, saya pasti akan menjaga mereka," sahut Alin.
"Pasti aku tidak bisa berpisah jauh dari mereka, cucu-cucuku yang sangat imut, jangan sampai kau teledor untuk menjaganya, apakah aku perlu menambah dua baby sitter lagi?" tanya Pak Irlangga.
"Tidak usah Tuan Bos, 2 itu di dalam itu pun sudah cukup, aku juga bisa membantu-bantu mereka kok,- ucap Alin
__ADS_1
Aufan yang mendengar perkataan mereka pun sangat terkejut.
"Bayi? cucuku?" batinnya.
Dia berpikir keras, apa mungkin cucu yang dimaksud oleh Pak Irlangga itu adalah anaknya Maura? itu yang dipikirkan oleh Aufan.
Dia terus pura-pura memainkan hp-nya sambil menunduk membelakangi Kamar 207. Sehingga Pak Irlangga dan Alimn pun tidak menyadari itu. mereka mengira bahwa Aufan adalah orang lain.
"Baiklah, Alin, Aku akan pergi dulu, aku harus pulang ke rumah, karena aku sudah janji hari ini aku akan pulang ke rumah," ucap Irlangga.
"Baik Tuan Bos," sahut Alin.
Akhirnya Pa Irlangga pun pergi meninggalkan Hotel tersebut, dan hari ini adalah janji Pak Irlangga untuk mengambil hasil tes DNA juga ke Rumah sakit.
Pak Irlangga pun pergi meninggalkan kamar tersebut, sementara Alin kembali menutup pintu dan menguncinya.
Pa Irlangga masuk lift, Aufan mengintip dari layar HPnya, yang sengaja dia aktifkan untuk melihat orang yang ada di belakangnya.
Setelah yakin Pak Irlangga sudah masuk Lift dan pergi meninggalkan kamar Alin, Aufan pun mendekati kamar itu. kemudian tanpa ragu dia pun mengetuk pintu itu.
Alin yang ada di dalam pun heran.
"Apa Tuan Bos kembali lagi ya? Aneh, dia kan mau pulang ke rumah sekarang?" tanya Alin
Alin lin berbalik dan mendekati pintu kembali, untuk membuka pintu.saat Alin membu pintu, alangkah kagetnya Alin, ketika pintu itu sudah terbuka lebar, tampaklah Aufan berdiri di depan pintu..
Aufan?" kagetnya spontan.
Namun belum sempat Alin menutup pintu, tiba-tiba Aufan sudah menerobos masuk ke dalam kamar tersebut, dan dia pun berjalan menuju ruangan yang luas, tampak di sana Maura sedang menggendong satu bayinya, sementara bayi lainnya tampak tertidur di dalam bok bayi.
"Maura! Kau?"
"Aufan...."
Maura pun kaget dan pucat.
"Maaf Nona... Aku tidak sempat mencegatnya."
"Maura...
__ADS_1
Bersambung...