
Maura dan Bela sudah sampai di depan sebuah hotel, ada beberapa orang berdasi yang sedang duduk manis di lobi hotel tersebut. Hari menunjukkan jam 7 malam.
"Yang mana orangnya? Aku mau lihat dulu!" ucap Maura menyuruh Bela menelepon orang itu.
"Baiklah aku telepon dulu ya!" ucap Bela.
Bela pun menghubungi nomor telepon yang tadi meneleponnya balik. Tiba-tiba seorang lelaki pendek besar mengambil Hpnya dan meletakkan di telinganya.
"Maura lihat! Itu Dia!" ucap Bela, Maura pun menatap arah telunjuk Bela.
"Ha? Itu?" Syok dan tak percaya, maura pun kaget saat tau, orang yang memesan jasanya kali ini sangat luar biasa.
"Tidak, aku tidak mau!" ucap Maura sambil berbalik ingin meninggalkan Hotel tersebut.
"E... E... Nggak boleh gitu doong, ini demi cuan, aku bahkan pernah kok melayani orang lebih dari itu," bujuk Bela sambil mencengkram tangan Maura.
"Tidak aku tidak mau, kamu saja!" ucap Maura.
"Kok aku? Kamu 'kan yang ingin uang banyak, ayo! Kamu merrem saja, atau mati-in saja lampunya, kan beres," ucap Bela, sambil menarik tangan Maura.
"Ogah, aku nggak mau," Maura tetap nekat tidak mau melayani.
"Kamu Rara?" Tiba-tiba lelaki gembul itu sudah ada di hadapan mereka, betapa terkejutnya Bela dan Maura.
"Iya Pa, Dia, dia Rara, udah ya, aku sakit perut nih, daaah," ucap Maura sambil menunjuk Bela dan kemudian pergi meninggalkan lokasi.
"Maura!" teriak Bela, namun Maura tak mengindahkan panggilan itu, dia hanya melambaikan tangan kanannya sambil terus berjalan meninggalkan Hotel.
"Heeeeh, awas kau!" gerutu Bela.
"Ayo Sayang!" ajak lelaki Gemoy itu menggandeng tangan Bela menuju Lift, Bela pun tak ada pilihan, Dia terpaksa mengikuti lelaki itu.
Sementara Maura, dia tampak duduk di ujung jalan lumayan jauh dari hotel, sambil menikmati Empek-empek berkuah yang pedes dan lezat luar biasa.
"Nona, boleh aku duduk di sini?" tanya seorang pria yang lumayan ganteng dan kelihatan sopan.
__ADS_1
"Oh, boleh," jawabnya.
Maura yang sekarang bukanlah terlihat seperti Wanita satu malam, karena Dia menggunakan celana levis panjang, dan baju kaos juga jaket kulit. Dia seperti gadis yang sedang jalan-jalan.
"Boleh kenalan?" tanya Lelaki itu menjulurkan tangannya.
"Boleh, aku Nana," ucapnya.
"Aku Ibra," jawab laki-laki itu.
"Sedang apa kau di sini sendirian?" tanya Laki itu lagi.
"Aku sedang menunggu teman," ucapnya.
"Teman kencan?" tanya Ibra lagi.
"Bukan, teman cewek," sahutnya lagi.
"Oooh," gumam Ibra.
"Bela, apa sudah selesai?" tanya Maura.
"Iy, Kau di mana?" tanya Bela.
"Maura pun memberikan lokasi di mana sekarang dia makan dan bersantai. Tak berapa lama, Bela sudah nongol di belakang Maura.
Bruk.
"Dasar kau, enak-enakan di sini, aku malah banting tulang cari uang," ucap Bela sambil menggetok kepala Maura.
"Eeeh, Nona, Kau siapa? Kenapa seenaknya getok kepala orang?" tanya Ibra heran.
"Dia temanku... Teman lucnut, kau siapa?" tanya Bela.
"Oooh, tapi kenapa harus mukul gitu?" tanya Ibra lagi.
__ADS_1
"Nggak papa Mas, sudah biasa," jawab Maura santai.
"Tapi itu nggak baik, nggak beradab," ucap Ibra lagi.
"Eh mana tau dia di adab, sejak lahir pun nggak pernah di ajarin adab, ayo pulang! Aku cape," ucap Bela lagi merasa kesal dengan Lelaki itu, terutama kesal dengan Maura yang tak mau melayani lelaki gemoy itu.
"Ini kartu namaku, kalau kau ingin teman curhat, chat saja aku, aku pasti membalasnya," ucap Ibra.
"Terima kasih," ucap Maura.
Bela pun berjalan cepat meninggalkan Maura menunggu taksi, tak berapa lama taksi pun datang. Sepanjang jalan, Bela hanya diam tak berkata-kata apa pun.
"Bela, kamu marah?" tanya Maura.
"Nggak!" sahutnya.
"Tapi kenapa wajahmu gitu?" tanya Maura..
"Aku kesal tau nggak eeeeeh," ucapnya sambil memukul-mukul kecil tubuh Maura.
"Aduh sakit... sakit," ucap Maura.
"Gara-gara kamu nih, hari ini aku kesel banget, uak." Bela tampak mengikspresikan orang muntah.
"Kenapa? Mual?" tanya Maura.
"Iya, habis makan es kream gosong," ucapnya ketus.
Maura pun paham dan tertawa terbahak-bahak.
😄😄😄😄😄
BERSAMBUNG...
Mari mampir di mendadak jodoh.
__ADS_1
Aku istri ke dua bukan pelakor.