Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Adu Domba


__ADS_3

Aufan pun tergesa-gesa menuruni anak tangga, dan mendatangi Maura yang ada di dapur, dia sangat emosi saat mendengar Vena bercerita tadi bahwa bibi pun kini membela Maura.


"Apa yang kau lakukan? mengapa seenaknya kau mengambil makanan orang lain, yang bukan hak mu? apakah kurang kau mengambil aku dari Vena, sehingga apa yang menjadi milik Vena ingin kau miliki juga?" ketus Aufan sambil berkacak pinggang.


"Tuan... apa maksud Tuan? aku tidak mengerti," ucap Maura merasa takut.


"Jangan pura-pura tolo**l kau tau itu, kau ingin menjadi istri durhaka heh? kau itu harus patuh pada suami, kau itu istriku, dan dia adalah istri tuaku, jadi kau jangan kurang ajar padanya, kalau kau berani macam-macam, kau akan ku singkirkan dari rumah ini!" ketus Aufan.


Maura menunduk dan coba menahan air matanya, agar tidak jatuh dan tidak terlihat lemah di hadapan Aufan.


"Maaf Tuan muda, tapi Nona Maura Dia tidak salah...."


"Diam Bi! Kau jangan ikut campur! ini urusan aku dan istriku!" ucap Aufan lagi marah.


Kini tampak sebutir air mata menetes satu demi satu dari mata Maura, Maura tidak bisa menahannya lagi, Ucapan Aufan sangat menyakiti hatinya. Apa lagi saat hamil sangat sensitif.


"Maaf Tuan, aku tidak bermaksud...."


"Diam kau... kau tidak berhak menyela perkataan ku, karena kau tidak pantas berbicara denganku, kau sudah menyakiti istriku, aku sungguh tidak bisa memaafkan mu, kalau saja bukan karena Papa, aku pasti sudah membuang kau ke ujung dunia sekalian, agar aku tidak bisa melihat wajahmu yang cantik itu, namun hatimu buruk, bagai comberan!" ketus Aufan.


Hati Maura sangat sakit, dia berusaha menahan isak tangis nya. Bibi pun mendekati Maura dan mengelus tulus pundak Maura.


"Bibi... kau jangan terlalu membelanya, Kau itu cuma pembantu di sini, Maura itu orang baru, jadi Bibi jangan sok sok-an membela Dia, apakah Bibi juga mencari muka dengan Papa?" ketus Aufan lagi.


"Tuan muda, bibi tidak membela siapa pun, tapi kasihan Maura, Dia sedang hamil, orang hamil tidak boleh tekanan batin, nanti Bayinya akan ikutan stress juga," ucap bini.


"Bi... aku tidak perduli dengan bayinya! karena aku yakin, dia bukanlah anakku, dia hanya mengaku ngaku saja, karena ingin hartaku saja!" ucap Aufan lagi.


"Tuan muda, kenapa Tuan berkata demikian? tidak boleh menyakiti hati Nona Maura, karena tidak ada bukti, bayi itu anak Tuan atau bukan, nanti setelah lahir tuan muda bisa tau, tapi sekarang Tuan jangan kasar sama Nona Maura."


"Apakah Bibi juga mau ku usir dari rumah ini? kau sangat membela Maura. Padahal Dia hanya irang baru di sini," ketus Aufan.


"Bi, sudahlah," ucap Maura pelan, sambil menyeka air matanya.


"Sekali aku tidak percaya, aku tidak akan pernah percaya, meskipun tes DNA nanti itu mengatakan, kalau Dia memang mengandung anakku! namun aku tetap tidak akan mengakuinya anakku, titik!" ucap Aufan.

__ADS_1


Kemudian Aufan pun berbalik dan meninggalkan dapur. Kini hati Maura benar-benar runtuh dan hancur berkeping keping. Akhirnya dia pun menangis, sambil menunggu menenggelamkan wajahnya di meja makan.


Bibi yang melihat pun kini meneteskan air mata, walau bibi baru kenal Maura, namun insting seorang ibu yang mempunyai anak itu pasti merasakan kesedihan Maura.


"Kamu orang baik, jadi setelah kesusahan ini, pasti ada jalan," ucap bibi.


Tiba-tiba pembantu khusus Maura datang, dan heran melihat Maura dan bibi tampak sama sama menangis.


"Nyonya muda, ada apa? kenapa kau menangis?seperti ini? Bibi juga?" tanya pembantu Maura bingung.


"Mbak... tolong antarkan aku ke kamar," lirih Maura.


Rasanya dia pun sudah tidak punya tenaga lagi, usia kehamilannya menginjak ke lima bulan, sehingga perutnya pun kini mulai terlihat membesar, karena tubuhnya yang memang kurus.


Mbak pun membawa Maura berdiri dan berjalan menuju kamarnya dengan pelan. Mbak pun menggandeng Maura hingga ke kamar.


"Mudahan Tuan Aufan nanti bisa menyadari kebaikan Nona Maura, sedangkan Nyonya Vena pasti nanti mendapatkan balasan, karena mengadu domba orang," gumam bibi.


"Kenapa kau bicara sendiri? apa yang kau bicarakan? apakah sekarang kau juga punya gandengan?"


"Tuan Besar? maaf. tidak apa-apa Tuan besar, aku hanya sedikit kesal," ucap bibi.


"Kesal? kesal sama siapa?" Irlangga penasaran.


"Anu itu... Tuan...."


"Bi... belikan aku lagi buah, aku lagi pengen banyak buah, rasanya aku ini juga seperti sedang mengidam,"


Tiba-tiba Vena datang ke dapur, membuat bibi tak berani meneruskan kata-katanya.


"Hei, kenapa kau menyela perkataan Bibi? kami lagi berbicara berdua," ketus Irlangga yang mulai tidak menyukai Vena, sejak kejadian 3 hari lalu.


"Baik Nyonya Muda, bini membereskan meja dulu," ucap bibi.


"Apa benar kau juga mengidam?" tanya Irlangga menatap Vena tajam. Dengan nada sinis.

__ADS_1


"Mungkin saja pah, tapi akhir-akhir ini aku merasa berbeda saja," ucapnya.


"Emangnya kau sudah tidak pakai KB lagi? katanya kau tidak ingin mempunyai anak?" ketus Irlangga.


"Iya Pah, tapi sekarang aku berubah pikiran, aku akan memberikan keturunan pada Aufan, memberikan Papa cucu, memberikan pewaris di perusahaan papa, karena aku tidak yakin kalau anak yang dikandung Maira itu...."


"Cukup, jangan sebut Maura di sini, aku tidak suka," sanggah Irlangga.


"Tapi benar pa, aku tidak yakin anak itu..."


"Cukup! aku tidak suka kau menjelekkannya, apalagi kalau sampai menghina nya, dan mengatakan kalau anak yang dikandung Maura, bukanlah anak Aufan. Kalau kau ingin hamil! Hamil saja, tapi jangan mengatakan yang lain-lainnya... bibi tolong bawakan susu untuk Maura, dan juga buah-buahan segar yang banyak, agar bayinya sehat," titah Pak Irlangga.


Irlangga pun berbalik dan meninggalkan dapur. Sebenarnya Irlangga sangat ingin menendang Vena dari rumah ini, namun, dia belum ada bukti kuat tentang perselingkuhan Vena.


Bibi pun membawakan Susu ke kamar Maura. Maura tampak masih sangat sedih dan masih menangis sesunggukan.


"Nona... Ini susunya di minum!" ucap Bini.


"Letakkan saja di sana Bi," sahutnya oelan.


"Kamu harus kuat Ndu, ini di minum!" ucap Bibi.


Bibi pun menyerahkan susu ke hadapan Maura. Maura pun akhirnya menyambutnya. Saat Maura mau meminum susu itu.


Brak


Susu itu tumpah ke lantai, beling pun berserakan ke mana-mana.


"Tuan Muda? Kenapa kau sejahat ini?" ketus bibi.


"Aku tidak menyangka, kau begitu jahat Maura!" bentak Aufan.


Entah aduan apalagi yang membuat Aufan kembali menemui Maura dan sangat marah. Mungkin karena Vena merasa di ti**ndas Papa Aufan di dapur tadi, sehingga Vena kembali mengadu domba Aufan dan Maura.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2