Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Mendobrak Pintu Maura


__ADS_3

Aufan pun berhenti memukul dan Dia hampir terjerembab, karena di tarik paksa Bela. Sesaat kemudian Aufan berdiri mematung. Wanita itu terus memeluk selimut erat ke tubuhnya. Sementara sang Pria hanya bisa terduduk di lantai dengan memegangi baju yang dia kenakan menutupi ke kema luannya, sementara tangan lainnya mengusap darah yang bercucuran di sisi bibirnya.


"Ayo kita bicara di luar fan!" ajak Bella.


"Baiklah," ucap Aufan.


Aufan keluar mengiringi Bela dan menutup pintu kamar itu dengan sangat kesal, namun kembali membukanya sedikit. Aufan kembali menatap wanita itu.


"Dasar wanita ja***" ucapnya


Bruk


Menutup pintu kasar. Aufan mengiringi langkah Bela menuju pojokan Kafe.

__ADS_1


"Kau harus membayar ku untuk mengobrol hari ini, karena di sini tak ada yang gratis," ucap Bela ketus.


"Baiklah, berapa tarifmu sekali ngobrol?" tanya Aufan.


"Rp.200.000,"sahutnya.


Aufan pun mengeluarkan uang sebesar Rp200.000. Bella pun tersenyum sinis. " "Katakan! di mana Maura sekarang berada! Mengapa kamarnya dipakai oleh orang lain?" tanya Aufan.


"Sekarang Maura sudah tidak bekerja di sini lagi, sejak kau pergi malam itu, dia pun memutuskan untuk pergi dari Cafe ini, dan aku tidak tahu, belum diberitahu oleh Maura, ke mana dia sekarang. Nomor hp-nya pun sudah berganti, aku tidak bisa menghubunginya lagi," ucap Bela.


"Heh, Loe sendiri yang pergi, pamit dan mengatakan pada Maura, bahwa minggu depan kau akan menikah, tentu saja tidak ada lagi kesempatan Maura, untuk bertemu kau. Padahal dia hanya melayani mu saja. Bahkan hingga saat ini, dia tidak pernah menerima tamu selain dirimu, itu mungkin karena teman yang sebelumnya menjual dirinya padamu. Sebenarnya, Maura anak baik dan dia tidak pernah menginginkan hal seperti ini, saat kau ambil keperawanannya, saat itulah hari yang sangat buruk baginya. Kau merenggut segalanya darinya. Dan kini kau pergi dan akan menikah dengan perempuan lain, tentu saja Maur sakit hati. Apakah kau tidak tahu kalau sebenarnya Maura menurut hati padamu?" panjang lebar Bela berucap.


"Mana mungkin dia menaruh hati padaku, aku ingat malam itu. Bahkan dia akan menemani om-om di sebuah hotel. Untung saja aku datang tepat waktu dan membawa Maura pergi dari hotel tersebut, dan saat itu juga kau ingatkan laki-laki yang duduk dengannya, dan aku yakin, Maura juga sudah pernah melakukannya dengan orang lain selain diriku," ucapnya.

__ADS_1


"Heh, kau picik sekali, kau meniduri dan merenggut kegadisannya tanpa ampun, kau memakainya saat Dia pingsan, otak kotor mu itu telah membuat orang lain hancur. Apa kau tidak takut karma?" ucap Bela.


"Hei, kalian 'kan memang wanita seperti itu? Untuk apa aku takut karma? Memang saat itu aku khilaf karena salah minum air, tapi setiap aku menemui Maura, kami selalu melakukannya suka sama suka dengan uang bayaran, Dia tidak pernah mengeluh?" ucap Aufan lagi.


"Itu karena kau lah yang telah merusaknya lebih dulu," ucap Bela emosi.


"Aku ingin tau, di mana Dia sekarang?" tanya Aufan seraya berdiri.


"Aku tidak tau," ucap Bela.


"Heh, tidak mungkin kau tidak tau," ucap Aufan lagi.


"Malam itu saat kau pergi dan meninggalkannya, Dia pun menangis, dan malam itu juga Dia pergi entah ke mana?" ucap Bela.

__ADS_1


Aufan termenung sejenak.


BERSAMBUNG...


__ADS_2