Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Belahan Jiwa Maura


__ADS_3

Ibrahim tampak menatap Maura tajam. sementara Maura tidak tahu kalau Bosnya itu sedang menatapnya. Maura pun merapikan bunga-bunga yang ada di dalam tokonya. Sementara Ibrahim sepertinya tidak melepaskan tatapannya pada Maura.


"Maura... " panggil Ibrahim.


"Iya tuan," sahutnya.


"Apa kau sudah memeriksakan kandunganmu bulan ini?" tanya Ibrahim.


"Anu Tuan... belum, Aku lupa. Hi hi hi," Maura cengengesan karena merasa malu.


"Kenapa sampai lupa? kau harus rutin memeriksakan kandungan mu setiap bulan, agar bayimu sehat. Jangan sampai kurang gizi," ucap Ibrahim.


"Iya Tuan. Terima Kasih," sahut Maura.


"Kenapa dia sangat perhatian padaku?" tanya Maura dalam hati. "Tidak mungkin kan kalau dia menyukaiku, ah tak mungkin lah, dia 'kan sangat tampan. Masa mau sama wanita seperti aku?" ucapnya.


Maura telah menceritakan semua kisah hidupnya pada Ibrahim. Ibrahim pun berdiri dan mendekati Maura.


"Maura... kalau nanti kau telah melahirkan, apakah kau akan move on dan menerima laki-laki yang akan melamarmu?" tanya Ibrahim .


"Ah Tuan, aku belum memikirkan sejauh itu. aku ingin menjalani kehidupanku bersama anak yang ada di kandunganku ini saja. Mungkin aku mulai sekarang harus banyak menabung, dan nanti pergi ke luar kota untuk membuka usaha sendiri," ucapnya.


"Kenapa harus keluar kota? ucap Ibrahim .


"Entahlah, aku takut kalau nanti bertemu laki-laki itu lagi," ucapnya.


"Tapi kenapa kau tidak ingin menemuinya? tanya Ibrahi.


"Dia akan menikah, tidak mungkin aku merusak kebahagiaan mereka Tuan, aku juga punya perasaan, biarlah ini aku pendam, tak masalah dia tidak mengetahui tentang tentang anak ini, biarlah aku bawa bersama diriku,"

__ADS_1


"Tapi di dalam hukum Islam 'kan dilarang kita menyembunyikan anak dari ayahnya sendiri? siapa tahu nanti dia malah berpacaran dengan saudara kandungnya," ucap Ibrahim.


"Aah Tuan... tidak mungkin lah, aku akan membawa anak ini jauh dari kota ini," ucapnya


"Walau kau bawa keluar negeri sekalipun, bukan mustahil kan mereka saudara kandung bisa bertemu lagi, mungkin saja nanti mereka sama-sama kuliah atau mungkin ketemu lewat chat online, sekarang ini zaman canggih Maura," ucap Ibrahim.


"Ah Tuan, Aku tidak memikirkan sejauh itu," ucap Maura.


"Tapi kau harus memikirkannya Maura," ucapnya.


"Baiklah Tuan... aku mau istirahat sebentar. Mau makan siang."


Mungkin Maura merasa pusing berbicara dengan Ibrahim yang yang berbelit-belit itu menurut Maura.


"Oh silakan," ucap Ibrahin.


Maura pun meninggalkan Ibrahim, yang terus menatapnya, hingga punggung Maura hilang di balik pintu yang ada di belakang bunga-bunga.


"Kenapa kau berbicara sendiri?" tanya temannya yang ada di ruang belakang.


"Oh Mbak Mira... Tidak apa-apa Mbak, aku cuma kesal aja dengan seseorang," ucapnya.


Maura pun menuju lemari dan ingin meletakkan topinya, karena Maura selalu menggunakan topi saat keluar dari toko untuk mengantarkan bunga, namun alangkah kagetnya Maura saat menemukan ada sekuntum Mawar berwarna pink tergeletak begitu saja di atas lemarinya.


"Loh? bunga siapa ini?" tanyanya.


Kemudian dia pun mengambil bunga itu dan meletakkannya di pot yang juga ada di ruangan itu bersama bunga yang lainnya.


Maura pun berbaring dan mengelus-elus perutnya.

__ADS_1


" Aufan...besok kau akan menikah dengan wanita itu, kalian pasti sangat bahagia. Sayang... maafkan mama... mama tidak bisa mengungkapkan fakta... bahwa kau adalah anak ayahmu... Aufan. Biarlah ini menjadi rahasia kita. Terima kasih kau telah hadir di hidupku.


Akhirnya Maura pun terlelap dalam.


***


Hari ini adalah hari pernikahan Aufan dan Vena. tampak mereka berdua sudah berada di atas panggung, tak berapa lama Pak penghulu pun datang. para undangan duduk dengan khusuk menatap arah panggung. Menetap takjub pasangan yang tampan dan cantik itu.


"Aufan... Terima kasih. Akhirnya sampai juga hari ini," ucap Vena pada Aufan.


"Iya sayang... aku juga sangat senang akhirnya kita bisa menikah," ucap Aifan.


Acara pun akan dimulai. Aufan menatap ke seluruh pengunjung. Berharap ada Maura yang datang, namun harapan Aufan hanya tinggal harapan. Tak seorang tamu pun yang datang dari teman-teman Maura, dan saat Aufan akan mengucapkan ijab kabul, tiba-tiba Aufan menatap pintu yang masih terbuka lebar, dia melihat ada Mami Lin dan sosok wanita yang ada di belakangnya. Wanita itu menatapnya tajam dengan perut yang sangat besar.


"Maura..." ucapnya.


Maura menatap wajahnya dan meneteskan air mata, kemudian Maura berbalik dan pergi meninggalkan gedung tersebut. Aufan pun berdiri dan mengejarnya.


"Maura... Maura!"


Panggil Aufan seraya berlari mengejar Maura yang hilang di balik pintu gedung. Aufan terus berlari mengejar Maura. Tamu undangan pun heran. Begitu juga Papa dan Mama Aufan yang berteriak manggil Aufan, namun Aufan tidak perduli.


"Sayang...," teriak Vena juga.


Aufan terus berlari hingga sampai di parkiran mobil.


"Maura...," lirihnya.


Maura tampak berdiri menatap Aufan sedih. Dan terlihat Air mata Maura terus menetes, membuat Aufan sangat sedih.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2