
Aufan terus berlari hingga sampai di parkiran mobil.
"Maura...," lirihnya.
Maura tampak berdiri menatap Aufan sedih. Dan terlihat Air mata Maura terus menetes, membuat Aufan sangat sedih.
"Maura...," panggil lirih Aufan seraya mendekat kemudian Aufan meraih tangan Maura.Dia pun mencium tangan itu penuh perasaan.
"Maura...," ucap lirih Aufan lagi.
"Maura? Siapa itu Maura?" tiba-tiba suara ketus itu membuat Aufan kaget, dia pun membuka mata dan menatap wanita yang ada di depannya, ternyata dari tadi Dia menciumi tangan Vena saja.
Aufan pun mengucek-ucek matanya.
"Aufan, aku tanya sekali lagi, siapa itu Maura?" tanya Vena terlihat kesal.
"Ooh tidak, bukan siapa-siapa, aku... hanya bermimpi tadi," Aifan seperti berpikir.
"Aku sedang membeli sesuatu kepada seseorang, yang bernama Maura," bohongnya
"Oh... begitu ya, ucapnya.
"Oh iya... ayo cepat! Ini sudah jam 06.00 loh, hari ini kita akan menikah," ucap Vina seraya duduk di samping Aufan.
"Benarkah? Aku lupa, hi hi hi, Baiklah aku akan mandi dulu," ucap Aufan.
Namun sebelum Aufan bangun Vena sudah menindih tubuh Auufan yang berbaring.
"Ada apa lagi?" tanya Aufan heran.
"Saat kau bangun tidur, kau terlihat sangat tampan, Sebentar lagi, kita bisa tidur 24 jam dalam satu kamar yang sama," ucap Vina
Tampaklah belahan gunung Vina, di atas dada bidang Aufan, Aufan pun meneguk salivanya
"Iya Sayang, ayo! aku mau mandi dulu," ucap Aufan lagi.
"Bolehkah, kita mandi berdua yuk!" ajak Vena.
"Nanti malah terlambat," ucap Aufan.
"Tidak... asalkan jangan usil," sahut Vena.
"Baiklah, Ayo!" akhirnya mereka pun mandi berdua. Namun sebagai lelaki normal, tentu saja tidak hanya sekedar mandi berdua, pastilah akhirnya mereka pun menyelesaikan satu ronde pertarungan sengit di kamar mandi.
__ADS_1
Selesai mandi, mereka pun berdandan menuju gedung pernikahan. Tepat jam 07.00 mereka sudah berada di gedung itu, dan masuk ke ruang rias pengantin untuk didandani.
Aufan masih duduk di pojok ruangan tersebut sambil menatap Vena yang sedang di rias, namun sebenarnya pikiran Aufan kelayapan entah ke mana.
"Di mana kau sekarang Entah mengapa aku merindukanmu Maura," lirih hati Aufan.
Sementara di tempat lain. Maura yang sedang makan pagi dia merasa mual-mual dan beberapa kali memuntahkan makanannya.
"Huak... Huak... Aduuuh, mual ban.get," gerurutu Maura.
Mira sahabatnya di toko bunga merasa kasihan dan memijat-mijat belakang Maura.
"Maura... Sebaiknya hari ini kau tidak udah bekerja," ucap Mira.
"Tidak papa kok, hari ini 'kan ada pengantaran bunga, apa sudah selesai di buat?" tanya Maura.
"Sudah kok, itu,sudah di masukkan dalam mobil," ucap Mira.
"Oke, aku akan ikut, ini udah selesai makan," ucap Maura.
Kemudian maura berdiri dan mengambil topinya. Maura berlari kecil dan masuk ke dalam mobil.
"Oke Paman, Ayo berangkat!" ucap Maura riang.
"Aufan Airlangga," lirihnya.
Maura pun Mengingat, bahwa Aufan pernah mengundangnya satu minggu lagi, Dia akan menikah.
"Apakah ini Aufan itu? apakah Aufan ayah anak dari anakku?" lirih hati Maura.
Maura pun beranikan diri untuk berjalan ke dalam gedung tersebut, namun gedung tersebut terlihat sepi.
"Hello Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya Mama Aufan, yang sedang ada di dekat pintu masuk gedung.
"Maaf... tidak... aku hanya mengantarkan bunga dari perusahaan Tuan Bangji" ucap Maura pada mami Aufan.
"Oh... iya, terima kasih banyak ya," ucap Mami.
Kemudian Mami Aufan pun kembali masuk ke dalam tanpa curiga. Sementara Maura masih menatap panggung yang sudah dihias dengan sangat indah.
Maura membaca kembali nama yang ada di papan panggung tersebut, 'Aufan Irlangga' lirihnya.
"Apakah benar ini adalah hari pernikahan Aufan ayah dari bayi yang ku kandung?" lirih hatinya lagi.
__ADS_1
Tak Berapa lama, sesosok laki-laki yang sangat dia kenal keluar dari pintu belakang gedung tersebut, sambil memegang hp-nya. Sepertinya orang itu sedang menelpon seseorang.
Maura pun mundur, dadanya bergemuruh... ya lelaki itu dia adalah Aufan. Aufan lelaki yang selama ini telah menghiasi hari-harinya. Ayah dari bayi yang dia kandung, Aufan .
"Jadi benar, hari ini adalah hari pernikahanmu," lirih hati Maura lagi. Dia terpaku, kakinya gemetar, tak terasa air matanya pun menetes.
"Ah wanita bodoh... untuk apa kau menangis? dia bukan siapa-siapa mu, dia hanya lelaki satu malammu, dan jangan bermimpi kau bisa mendapatkannya," Sisi Hati Maura yang lain berkata demikian.
Maura pun perlahan berbalik dan berjalan meninggalkan gedung. Sedangkan Aufan baru selesai berbicara dengan seseorang, dia pun menutup teleponnya dan memandang lurus sesaat sebelum Maura menghilang, dia melihat wanita itu.
" Maura...." kagetnya dia pun berjalan cepat keluar gedung untuk memastikan dia menengok kiri dan kanan namun tidak ada hasil .
"Maaf... apakah kalian melihat seorang wanita memakai topi?" tanya Aufan pada orang-orang yang sedang merapikan bunga di halaman.
"Oh nona si pengantar bunga?" tanya mereka
"Oh mungkin saja ," jawab Aufan.
"Dia sudah pulang Tua," jawab mereka.
"Apa kalian tahu di mana tempat dia berjualan bunga?" tanya Aufan.
"Entah tuan, tapi itu bunga yang diantarkannya hari ini," ucap mereka.
"Aufan pun mendekati sebuah bunga yang berasal dari perusahaan Mangji.
"Oh terima kasih banyak," sahutnya.
Dia pun menyimpan nama perusahaan yang bernama Bangji,i Mungkin dia nanti akan mencari toko bunga yang dipesan oleh Bangji tersebut.
Aufan pun kembali masuk ke dalam. sementara Maura di dalam mobil tampak masih menyapu air matanya.
"Nona, Kenapa kau menangis?" tanya sopir bunga oh Paman. tidak apa-apa aku merasa terharu melihat suasana gedung tadi yang begitu indah ucapnya nanti kau juga pasti akan merasakannya Nona ucap sang sopir.
Sang sopir tidak tahu kalau saat ini Maura sedang hamil. karena memang turut Maura masih kecil baru baru siap 3 bulan.
"Amiin mudahan ya Paman," ucapnya.
"Lho kok mudahan sih? Kan kamu masih gadis, suatu saat nanti kamu pasti menikah," ucap Paman itu.
"Iya paman, Terima kasih," ucap Maura kemudian tak Berapa lama mereka pun sampai di toko bunga miliknya.
Bersambung...
__ADS_1