
Aufan pun berdiri dan berjalan meninggalkan Cafe. Dia memasuki mobilnya dan meluncur menuju perkantoran milik ayahnya.
"Ish... Rapat pasti sudah dimulai. Bagaimana ini? apakah Aman bisa menghandle rapat hari ini?" gumamnya.
Dia pun memukul-mukul setirnya karena kesal.
"Ke mana kau Maura? Mengapa kau pergi? Apakah karena aku tidak akan kembali lagi ke sini lantas kau pergi? atau Kau hanya pindah cafe saja?" gumamnya.
Aufan terus melajukan Mobilnya di atas jalanan yang sepi. Tak berapa lama, dia pun sudah sampai di halaman gedung perusahaan ayahnya dengan langkah besar dan mengambil langkah yang panjang-panjang Aufan pun memasuki lift, dan tak berapa lama Aufan pun sampai di atas. Dia berdiri di depan ruang meeting dan tiba tiba pintu meeting terbuka, beberapa orang keluar melewatinya, mereka hanya tersenyum saat melihat Aufan berdiri di depan pintu. Para klien sudah habis keluar yang terakhir keluar adalah ayahnya.
"Kau! Ayo ikut aku!" ucap sang ayah.
Sang ayah pun berjalan menuju ruangan pribadi Aifan. Aufan pun mengiringi di belakangnya.
"Kurang ajar kau Aufan! kau hampir saja menggagalkan kerjasama kita dengan para investor itu. Sebenarnya... apa yang ada di otakmu itu hah!? hingga kau sempat-sempatnya pergi meninggalkan perusahaan di detik-detik terakhir saat meeting akan dimulai... dan kau juga Aman! Apa pekerjaanmu? Kenapa kau tidak bisa menghentikan Aufan, sungguh tidak bisa ku percaya, kalian berdua sangat bo doh," maki Ayahnya Aufan sambil menggebrak meja di ruangan itu.
"Pah aku tidak bermaksud meninggalkan Meeting itu, aku mendadak ada urusan sebentar," Bila Aufan.
"Sebentar kau bilang? ini cukup lama Fan... dan kami sudah selesai meeting saat kau datang, seandainya saja aku terlambat satu menit saja, pasti para Investor itu menggagalkan investasinya di perusahaan kita. Aku hanya memberimu kesempatan satu kali lagi. Kalau kau gagal lagi, maka kau akan tau akibatnya," ucap sang Ayah.
Ayah Aufan pun pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan hati dongkol dan kesal. Sementara Aufan duduk termenung sambil mengambil hp-nya dan menelpon seseorang. Namun sepertinya Nomor ywng di hubungi tidsk kunjung menjawab, Aufan pin membanting Hpnya.
"Kurang ajar kau Maura! pergi ke mana kau? berani sekali kau pergi tanpa memberitahuku!" ucapnya.
"Apa bos? Maura pergi? pergi ke mana dia? tanya Aman.
"Kalau aku tahu, aku pasti tidak bertanya, dasar gonggong," ucap Aufan kesal.
"Apakah yang ku lihat waktu itu ya, sia pergi dengan seseorang," lirih Aman.
"Apa? pergi dengan seseorang? Di mana?" tanya Aufan antusias.
"Saat itu aku berada di halaman warung makan, aku melihat Maura pergi bersama seseorang, aku tidak tahu dia mau pergi ke mana? sepertinya dia akan pergi jauh. Aku juga melihat ia membawa ransel, dan ranselnya pun seperti penuh dengan bawaannya, kalau cuma jalan-jalan, tidak mungkin ranselnya terlihat penuh seperti itu," ucap Aman.
"Kenapa tidak kau cegat? Dasar kau ini! sebenarnya aku gaji kau itu untuk apa? kau ini menjalankan apa yang aku perintahkan, kau juga harus tahu apa yang aku mau, kau kan tahu kalau Maura itu milikku! dia tidak boleh kemana-mana," Aufan marah.
__ADS_1
"Bos .. bukankah Bos bilang, Bos sudah tidak berhubungan lagi dengan Maura? Bukankah Bos bilang... Bos akan menikah dan tidak akan kembali lagi ke Cafe itu. Mana aku tahu kalau Bos masih mencari Maura?" ucap Aman "Alaaaah... kau ini membosankan sekali, salah ambil Asisten aku ish," Aufan tampak sangat kesal.
"Lalu bagaimana sekarang Bos?" tanya Aufan.
"Aku ingin kau menemukan Maura, bagaimanapun caranya. Sebelum aku menikah, ingat! kau harus menemukannya titik!" ucap Aufan lagi.
Dia pun berdiri dan meninggalkan perkantoran itu menuju kembali ke rumahnya. setelah beberapa saat, Aufan pun sudah sampai di halaman rumahnya.
"Hello sayang...,"
Ternyata Vena sudah berada di teras rumah dan menyambutnya dengan merentangkan kedua tangannya, tersenyum sangat manis.
"Hai," sapa Aufan seperti tak bersemangat.
Dia pun berlalu begitu saja meninggalkan Vena yang masih merentangkan tangannya.
"Fan!" teriak Vena yang merasa di cuekin.
"Aku cape, mau tidur" ucap Aufan.
Bruk..
Di bantingnya pintu kamar. Di kuncinya dari dalam.
Krek krek
Vena pun menyusul menaiki anak tangga dan berhenti di depan pintu Aufan.
"Fan... Buka! Buka!" teriak Vena dari luar. Namun Aufan tidak menghiraukannya.
"Ada apa sih ribut-ribut?" tanya Mama Aufan yang keluar dari kamarnya, karena mendengar keributan. Mama AifN pin menengadah ke atas menatap Vena.
"Aufan Ma, Dia mengabaikan ku." ucapnya.
"Mungkin dia lagi capek habis pulang kerja, tadi 'kan dia meeting, sudah kamu ke dapur saja sana... temanin bibi. Di sana banyak buah, makanan, atau apalah, tak usah diambil pusing. Sebentar lagi 'kan kakilan menikah. Kalian itu harus saling mengerti. Sepele seperti itu jangan diambil hati, sana kamu makan!" ucap mama Aufan.
__ADS_1
Mama Aufan sangat menyayangi Vena, karena Vena sangat bisa mencuri hati mamanya Aufan. Vena sering bermanja seakan dialah anak mamanya Aufan bukan seperti calon menantunya.
"Baiklah Ma, aku ke dapur dulu," ucap Vina.
"Ya Sayang, makan yang banyak, biar kamu sehat menjelang pesta pernikahan kalian," ucap Mama.
Sementara Aufan di kamarnya, Dia tampak berdiri dan terus menghubungi nomor Maura dia juga menghubungi nomor Lira, dan no mama Lin namun tak satu pun ada yang mengangkat.
"Kurang ajar mereka, Apa gunanya HP kalau satu pun tidak ada yang mengangkat teleponku! Apakah mereka sekongkol untuk menghindari ku? kalau memang iya, akan ku obrak-abrik Kafe itu sampai-sampai hancur berantakan," ucapnya marah.
***
Pagi ini seperti biasa, Maura sudah beraktifitas di warung makan ibrahim, dia sangat telaten membersihkan ayam, ikan nila yang akan di baka untuk siang nanti.
"Maura... Tolong kau angkat beras ini ya, apa kau kuat, ini cuma 5kg kok," ucap Bibi.
"Iya bi, bisa kok," ucap Maura.
Maura pun menyelesaikan membersihkan ayam dan ikan nila, setelah itu mengangkat beras mencuci beras dan membawanya ke dapur untuk dimasak, namun...
"Kenapa tiba-tiba Kepalaku pusing?" ucapnya.
Sesaat kemudian matanya terasa berkunang-kunang dan akhirnya Maura terjatuh dan beras yang di bawahnya pun jatuh ke tanah untung tempat beras itu besar dan tinggi jadi tidak sempat terbalik.
"Maura! Kau kenapa?" teriak muna temannya yang lagi membersihkan sayur.
Maura pun di angkat dan di bawa ke rumah tempat tinggal pelayan warung maskan tersebut. Sudah 15 menit, namun Maura belum siuman.
"Sebaiknya kita bawa saja Maura ke rumah sakit," ucap Ibrahim yang baru datang karena baru dikabari oleh karyawan warung makan itu.
Maura pun digendong oleh Ibrahim. Ada beberapa karyawan yang merasa cemburu melihat Maura digendong, namun terlihat tatapan Ibrahim seperti ada sesuatu di matanya ketika menatap Maura yang sedang pingsan di pangkuannya.
"Kau sangat cantik," gumam Ibrahim.
BERSAMBUNG...
__ADS_1