
Sudah satu minggu ini Aufan uring-uringan dan selalu pergi ke cafe Mama Lin, bahkan yang lebih parah, kini Aufan pun menikmati setiap wanita yang ada di sana, dia merasa stress karena sudah mencari Maura ke mana-mana, namun dia tidak bisa menemukannya.Dia sangat merindukan Maura dan juga anak kembarnya.
Sementara Papanya yang selalu menyembunyikan Maura dan anak kembarnya itu pun, sengaja tidak memberi tau Aufan keberadaan mereka, karena ingin melihat perubahan Aufan, dia selalu menasehati agar Aufan berubah, namun kenyataannya Aufan semakin menjadi- jadi.
Di Cafe bersama Bela, Aufan tampak mabuk berat.
"Jadi Aufan? Apa kau tidak ingin pulang dan mencari Maura lagi?" tanya Bella yang merasa kasihan dengan Aufan.
"Oh iya ..., kebetulan kau ada di sini Bel, aku juga akan memakai jasamu malam ini," ucap Aufan.
"Ogah, aku nggak mau!" tolak Bella.
"Kenapa? aku akan membayar mu mahal, lebih mahal dari mereka," ucap Aufan.
"Tapi aku tidak mau melayani mu, karena kau adalah suami dari sahabatku," ucap Bela.
"Ci*h munafik. Apakah kau mau ku bayar seperti aku membayar Maura?" tanya Aufan.
Sepertinya sekarang Aufan memang benar-benar lagi stres berat.
"Aufan ..., kamu harus sadar, kamu mencari Maura, tapi kelakuanmu seperti ini? Seharusnya kamu itu berubah, tobat! jangan seperti ini Fan!" ucap Bela.
"Kamu itu sok suci saja! itu sudaj pekerjaanmu! ha ha ha belagu," kwtus Aufan.
"Saat ini aku memang hi*na, tapi sebenarnya aku juga ingin seperti mereka, namun aku tidak tahu harus bekerja apa?" ucap Bela merasa sedih.
"Bagaimana Kalau kau melayaniku? Aku akan memberimu uang yang banyak, kau bisa bebas tanpa harus hidup di sini selamanya," bujuk Aufan.
"Aku tidak mau, Fan ..., sebaiknya kau lergi saja dari sini, mungkin karena kelakuanmu inilah, sehingga Maura tidak bisa kau temukan, karena kau mencarinya sambil bermain-main dengan wanita lain!" ucap Bela.
Kemudian Bela pun pergi meninggalkan Aufan yang terlihat mulai mabuk berat. Aufan memanggil wanita lainnya dan menikmati malam itu bersama wanita-wanita malam lainnya. Bella pun melaporkan kejadian ini kepada Maura.
__ADS_1
Maura merasa semakin sakit hati, ketika ayah dari anak-anaknya itu semakin tersesat, kemudian Maura pun sholat untuk mendapatkan jawaban dari semua yang pernah dia harapkan, dalam sholat istikhorahnya, ada harapan Maura untuk kembali, namun semakin dia berdo'a di sujud terakhirnya, perasaan hampa dia rasakan.
Hatinya semakin hampa dan sepertinya memang Maura harus melepaskan, karena mungkin Aufan sekarang sudah tersesat jauh dan tak bisa kembali.
***
1 bulan sudah berlalu. Kini Maura akan bertemu dengan Pa Irlangga dan meminta sesuatu yang sangat khusus pada ayah mertuanya itu, sudah 1 bulan ini dia memikirkannya dengan baik, semua doa dan istikhorah sudah dia tempuh, namun jawabannya tetap sama, sepertinya hubungannya dengan Aufan memang benar-benar harus diakhiri, kehidupan Aufan sekarang benar-benar sudah tidak bisa di toleransi lagi, oleh Maura.
Akhirnya Maura pun bertemu dengan ayah mertuanya di sebuah restoran Pak Ibrahim, tempatnya bekerja dahulu kala.
"Papa, terima kasih Papa sudah datang ke mari, meluangkan waktu Papah untuk bertemu denganku," ucap Maura.
"Emangnya ada apa Maura? apa yang sebenarnya ingin kau beritahukan? hingga harus bertemu di luar begini?" tanya Irlangga.
"Aku ingin bertemu dengan Aufan, tapi ada syarat yang memang ini mungkin sangat sulit," ucap Maura.
"Apa yang kau minta?" tanya Mertuanya.
"Mungkin ini sangat sulit Pah, tapi ..., aku sudah memikirkannya dengan baik," ucap Maura.
"Aku ingin Aufan mencarikan ku," ucap Maura.
"Apa maksud mu? Apa kau sudah menutup hati untuk Aufan?" kaget Pa Irlangga.
"Maaf Pah, aku sudah memikirkan nya, sudah sejak 1 bulan ini, Pah, aku juga sudah meminta petunjuk, namun hasilnya sama, tidak sedikitpun hatiku tergetar untuk menerimanya kembali, Pah," ucap Maura.
"Tapi apakah ini benar-benar keputusanmu yang terakhir? Apakah tidak ada keswmpatan walau cuma satu minggu pun kau beri dia kesempatan?" tanya mertuanya.
"Aku gak bisa menerimanya kembali, dan aku ingin bertemu dengannya, kalau dia mau melepaskan kami, aku tidak akan menghalanginya untuk bertemu anak-anak. Tapi tidak untuk bersama lagi," ucap Maura.
"Baiklah, aku akan mengatakan semua ini kepada Aufan, memang sekarang Aufan sangat tersesat, walau sudah berapa kali aku nasehatin, namun dia tidak pernah mendengarkan aku, tapi kalau kau beri kesempatan, siapa tau dia akan berubah."
__ADS_1
"Ini sangat sulit Pah, karena aku sudah menemukan jawabannya, di setiap doaku, semakin aku berdoa supaya aku mengharapkan jawaban agar kami bisa kembali, namun kami semakin jauh," ucap Maura.
"Baiklah Maura kalau itu memang keputusan akhirmu, aku akan menghargainya, aku akan menyampaikannya kepada Aufan, kalau begitu, aku pamit dulu, oh iya kalau kau ingin memeriksa perusahaan yang telah kuberikan kepadamu, kau bisa ke sana untuk mengontrol nya, aku akan mengirimkan Sopir untukmu."
"Baiklah Pah, terima kasih, nanti aku akan mengabari lagi," jawabnya.
"Kalau begitu, aku pulang dulu," ucap Irlangga.
Irlangga pun akhirnya meninggalkan warung makan tersebut dengan perasaan sakit. Karena dia terus berharap, agar Maura bisa bersatu dengan Aufan.
Irlangga sudah meluncur menuju rumahnya. Walau pun hatinya kini semakin tidak karuan, akhirnya Maura benar-benar menjauh dari anaknya, dan tidak bisa di persatu kan lagi, namun dia harus menwrimanya dengan ikhlas.
Tak berapa lama, Pa Irlangga pun sudah sampai di rumahnya, niat hatinya untuk menyampaikan apa yang dikatakan Maura tadi kepada Aufan, namun saat dia turun dari mobil, dia terkejut, saat mendengar suara berisik dari dalam rumah.ae Boz
^^^E^^^
"Agung, tolong hentikan! hentikan ini, Agung! baiklah! aku akan memberikanmu uang, tapi setelah ini aku harap kau pergi dari kehidupanku! Berapa yang kau minta? satu juta? seratus juta? 1 miliar!" teriak Mami kesal, hingga dia tidak menyadari kalau ternyata Irlangga sudah tegak berdiri di balik pintu utama.
"Ha ha ha ha ..., akhirnya kau mau menuruti semua permintaan ku," balas Agung denga tertawa terbahak-bahak.
Saat ini Agung sangat mabuk berat dan membuat keributan di rumah Mami. Bibi pun menyaksikan semua itu hanya mampu berdiri di depan dapur, berjaga-jaga sambil memegang pisau, karena takut Agung akan melakukan sesuatu yang tidak terduga kepada majikannya.
"Kau harus membayar ku, paling tidak kamu bayar ku 200 juta, satu nyawa 100 juta, kau ingatkan apa yang kau lakukan kepada Mamah Aufan? dan juga Winar? pembantu mereka itu? dan juga anak Winar atau anak Angga adik ipar mu, yang telah aku buang jauh dari rumah ini, aku menyimpan banyak rahasia tentang kau, jadi kau harus menebus nya dengan harga mahal!" ucapnya.
Pa Irlangga seakan lumpuh mendadak. Kakinya gemetar. Jantungnya berdetak kencang seakan mau meledak.
Bersambung...
Yuk mampir di karya temen aku pasti seru
Judul : Gadis Desa Kesayangan Tuan Muda
__ADS_1
Author : Bunga Alika