Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Bertemu Sekilas


__ADS_3

Mira masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut sahabatnya itu. Maura yang terlihat sangat sopan ternyata memendam misteri dalam kehidupannya.


"Terus... orang tuamu ke mana?" tanya Mira kemudian.


"Sejak kecil aku tidak mempunyai orang tua, kata pengasuhku, aku ditemukan di depan Panti saat itu, aku masih bayi saat ditemukan oleh mereka, hingga aku besar, aku juga membantu mengasuh adik-adikku yang lain di pantai asuhan tersebut...."


Maura terdiam sejenak.


"Dan... hingga akhirnya aku merasa bosan. Aku pun memutuskan untuk keluar, namun aku tidak menyangka ternyata perjalanan hidupku ini sangat buruk,, hingga aku terjerumus sedemikian dalam," ucapnya merasa sedih.


"Tapi aku sangat mendukungmu, kalau kau memberitahukan kehamilan mu ini pada lelaki itu, siapa namanya? Aufan 'kan, ya Aufan. Sebaiknya kau katakan saja padanya,' ucap Mira .


Maura menunduk sejenak, Dia pun menghela nafas dalam.


"Tapi aku takut, aku tidak ingin menyakiti pasangannya itu, dan menghancurkan hubungan mereka," ucapnya.


"Tapi anak ini juga punya hak atas ayahnya," ucap Mira lagi.


"Iya, tapi aku tidak berdaya untuk itu, Aku tidak bisa memikirkannya sampai sejauh itu, belum lagi hal-hal buruknya akan menimpa aku dan anakku kelak. Bagaimana kalau kami malah dikucilkan, dimusuhi, atau mungkin di celakai oleh istrinya itu, yang membuat aku sangat takut seperti di film-film biasanya 'kan, istri selingkuhan atau istri muda selalu dianiaya dan dia teror, Aku takut itu terjadi."


"Tapi kau harus janji, kau harus menjaga bayi itu baik-baik, dan kau juga harus berubah, aku hanya bisa memberi dukungan padamu, aku juga tidak bisa membantu banyak," ucap Mira.


"Terima kasih, Mbak, Kau adalah Mbak yang sangat baik bagiku, Aku sangat beruntung bisa mengenal Mbak," ucap Maura.


"Baiklah sekarang sebaiknya kau istirahat dulu, biar aku yang menyelesaikan semuanya," ucap Mira.


Maura pun akhirnya masuk ke ruangan istirahatnya, dan membiarkan Mbak Mira yang mengerjakan tugasnya.


"Ya Allah, aku tidak menyangka ada orang sekuat Maura," lirih Mira.


***


Tampak di kediaman Aufan pagi ini, Aufan dan Vena tampak baru saja menyelesaikan ritual mandi bersama, di kamar mandinya.


Mereka pun keluar bergandengan tangan dan menuju dapur untuk sarapan bersama.


"Sayang... kalian sudah bangun?" tanya Maminya Aufan.


"Iya Mi, Hari ini aku akan ikut Aufan ke kantor, minggu depan kami akan liburan ke Luar Negeri, aku memilih Jepang untuk bulan madu kami," ucap Vena.


"Benarkah? Selamat ya... mudahan kalian cepat mendapatkan momongan," ucap maminya sambil pergi meninggalkan dapur.


"Terima kasih Mi," balas Vena sambil duduk di kursi meja makan.

__ADS_1


Vena dan Aufan menatap hidangan yang ada di atas meja, berbagai menu makanan di sana .


Kembali ingatan Aufan tertuju pada Maura.


"Maura, kau sudah sarapan atau belum? Bagaimana dengan anakku, apakah dia mendapatkan gizi yang cukup?" ucapnya dalam hati.


"Bi... Tolong ambilkan sendok!" ucap Vena.


Bibi pun mengambilkan beberapa buah sendok untuk mereka. Mereka sangat menikmati makan pagi ini.


"Sayang... sebenarnya kamu pengen punya berapa anak?" tanya Aufan pada Vena.


"Untuk saat ini, aku belum memikirkannya dulu fan, Aku ingin kita menjalani pernikahan ini dulu, Aku ingin menikmatinya bersama kamu berdua, untuk masalah anak, kita tunda dulu ya! lagian selama ini aku juga sudah KB kok," ucap Vena, membuat Aufan terkejut.


"Benarkah? Jadi selama ini kau sudah suntik KB?" tanya Aufan.


"Iya... emangnya kenapa? Seandainya aku tidak suntik KB, tentu saja sudah dari dulu aku hamil, ya ?kan?" tanya Vena pada Aufan sedikit berbisik.


"Pintar juga kamu, ku kira selama ini karena belum jidoh aja punya momongan, karena belum diberi, tapi ternyata kamu tidak pernah hamil karwna pakai KB ya?" ucapnya.


"Ya iyalah, pakai KB, kalau nggak pakai, aku sudah hamil dari duku dong," ucap Vena.


"Kenapa kau ingin menundanya? padahal kan Mami ingin segera memiliki cucu?" ucap Aufan.


"Tapi 'kan kalau orang menikah itu pasti ingin punya anak?" ucap Aufan lagi.


"Iya juga sih, tapi nanti lah, kita kan juga masih muda, masih banyak waktu, jadi kita tunggu dulu ya, ya..m boleh ya!" bujuk Vena manja..


"Terserah kau lah, aku hanya menuruti saja," ucap Aufan .


Mereka pun menyelesaikan makan mereka. Entah mengapa pikirannya tertuju pada Maura


"Maura... di mana kau sekaran? bagaimana kabar anakku yang kau kandung? aku masih mencari mu Maura, aku mohon pertemukan aku dengannya sekali saja."


Aufan tampak melamun. Entah mengapa hatinya merasa sedih kalau ingat Maura. sedangkan Vena tidak ingin memiliki anak secepatnya.


"Fan... kenapa kau bengong?" tanya Vena pada Aufan.


"Oh tidak. Ayo! aku sudah selesai makan. Sekarang kita berangkat," ucap Aufan.


Akhirnya mereka pun pergi meninggalkan rumah tersebut, menuju kantor Aufan. Dan kali ini Aifan sengaja melewati toko bunga yang dimaksud Aman waktu itu.


"Vena... Bolehkah aku minta sesuatu,"ucapnya.

__ADS_1


"Ada apa? Jangan bilang kau minta jatah di tengah jalan gini ya?" canda Vena.


"Eh Gi la Loe yee...Tolong kau bel-in bunga di depan itu ya! entah mengapa aku merasa ingin bunga, ingin sebuah bunga ada di dalam kantorku," ucap Aufan.


"Kenapa tidak kau pilih sendiri?" tanya Vrna.


"Aku males turun dari mobil ini, kau pilih saja sembarang yang kau suka, nanti anggaplah Itu hadiah untukmu, nanti kita letakkan di dalam kantorku ya!" ucap Aufan lagi.


"Baiklah... tunggu sebentar," ucap Vena.


Aufan pun menepikan mobilnya lumayan dekat dengan toko bunga itu. Ven pun membeli bunga yang indah, sedang Aufan mencoba mencari sesuatu di toko itu namun tidak menemukan Maura.


"Nona mau bunga yang mana?" tanya karyawan toko.


"Bunga mawar yang berwarna-warni Ya, terserah, semua warna Aku mau, merah,putih, hijau, biru, ungu, atau apalah," ucap Vena.


"Baik Nona, mari ikut saya Nona lihat sensiri!" ajak karyawan.


Vena pun mengambil beberapa bunga, kemudian menyerahkannya pada Karyawan. Vena pun membayar semua bunga dengan harga yang lumayan fantastis, yaitu seharga Rp700.000 hanya untuk beberapa bunga mawar yang indah, yang belum mekar.


"Terima kasih," ucap Vena.


Dia kembali ke mobil.


Kini terlihat wajah Aufan Murung.


"Kau kenapa? Apakah bunga ini kurang cantik?" tanya Vena pada Aufan.


"Tidak, ini sangat cantik kok," ucapnya.


Kemudian mereka pun pergi meninggalkan toko tersebut, tak Berapa lama Maura datang dengan mengayuh sepedanya ke toko tersebut ,ternyata mereka mereka berpapasan di jalan, namun Maura maupun Aufan tidak menyadarinya.


"Maura kau sudah datang? mana bunga yang ingin kau bawa hari ini?" ucap karyawan toko


"Iya nih... aku mau mengambil barang yang akan ku bawa ke toko kami."


Ternyata toko itu bukanlah toko Maura, atau Ibrahim melainkanan toko rekan bisnisnya yang lain.


Maura pun mengambil beberapa bunga dan membawanya ke sepedanya, namun setelah beberapa waktu, Aufan kaget saat menengok spion, dia melihat Maura sedang mengayuh sepedanya, berlawanan arah dengannya.


"Maura..." spontan tanpa sengaja.


Vena pun kaget dan menoleh ke arah Aufan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2