Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Takjub


__ADS_3

Pak Irlangga sudah meninggalkan gedung hotel yang didiami Maura. Sementara Aufan dan Dito tampak menatap kepergian Pak Irlangga dari jarak yang jauh. Mereka tidak mengetahui kalau sebenarnya sekarang Maura dan si kembar sudah pergi meninggalkan gedung tersebut, lewat Pintu belakang.


"Paman, sepertinya Maura masih di tempat ini, mungkin nanti kita akan bisa kemari lagi. Tapi sebaiknya kita meletakkan mata-mata di sini, siapa tahu nanti Maura pergi dari gedung ini," ucap Aufan.


"Benar juga Fan, saat ini saja dia tidak mau menemui kita, lalu mungkin saja dia minggat kembali ke suatu tempat, untuk menghindari kita."


"Iya paman, aku akan meletakkan mata-mata di depan gedung ini, tapi bagaimana ini Paman? tentu aku tidak bisa berlama-lama menjauh dari Putra kembar ku, mereka sangat imut Paman, aku pasti sangat merindukan mereka."


Aufan merasa sedih, dia benar-benar sangat menyesal, dengan apa yang telah dia lakukan pada Maura saat itu. Bahkan dia dengan sengaja mencaci maki Maura, karena di kompori oleh Vena.


"Aku juga, aku baru saja bertemu dengan anakku dan juga cucuku, tapi aku malah tidak bisa menjamah mereka, karena Maura marah padaku, memang kelakuan paman dan ponakan ini sama-sama bej*at, benar yang Maura katakan itu, kita sama-sama bej*at."


"Paman, aku itu berguru padamu, berarti yang salah itu Paman, kenapa aku di salahkan juga?" protes Aufan.


"Hei! Sejak kapan kau berguru padaku? bahkan kita saja jarang bertemu? aku juga baru kembali dulu dari Luar Negeri," ucap Dito.


"Tentu saja, walaupun kita jarang bertemu, tapi darahmu dan darahku itu sama, makanya tanpa sengaja kita sama sama-sama punya sifat yang sama," ucap Aufan lagi merasa kesal.


"Sudah-sudah, itu sudah takdir kita, kita memang sama-sama be*jat, tapi kan kita sudah bertobat.


"Tobat sambal," ketus Aufan marah dan mengejek Pamannya.


"Tapi bagaimana sekarang?" tanya Dito.


"Aku juga sudah minta maaf padanya. Kenapa dia menolak?" ucap Aufan.


"Oh iya, apa kamu melihat perubahan pada Maura?" tanya Dito.


"Lerubahan apa?" tanya Aufan.


"Sekarang dia menggunakan baju syar'i 'kan? Dia sangat cantik, pasti Winar dulu kalau dia tidak jadi pembantu, pasti secantik Maura," puji Dito.


"Baiklah, kalau begitu, ayo kita pulang saja!" ajak Aufan.


Akhirnya Aufan pun menelpon seseorang untuk memata-matai di halaman gedung hotel tersebut. Setelah berhasil menghubungi suruhan Aufan, mereka pun pergi meninggalkan parkiran Hitwl.


Sementara Maura dan Alin sudah meluncur menuju Luar Kota, menuju sebuah desa yang sangat jauh, sebuah panti asuhan di pinggir kota yang pernah di tinggali Maura dulu. tak berapa lama mereka pun sudah sampai di Panti Asuhan tersebut.


"Kakak ..., kakak Maura datang! Ibu!" teriak seorang gadis kecil yang histeris bahagia melihat kedatangan Maura yang menggunakan syar'i. Walaupun menggunakan syar'i, namun anak itu mengenal dengan jelas pada wajah Maura.


"Maura? di mana Maura?" ucap ibu yang baru keluar dari sebuah rumah kecil, yang ada di dalam bangunan panti tersebut.


"Ibu siti, ini aku Maura Bu," sapa Maura.

__ADS_1


"Maura? Masyaa Allah," ibu panti langsung menyambut Maura dan memwluknya.


"Bu, kenalkan ini Alin dan baby sitter," ucap Maura.


"Ayo masuk duku!" ajak bu Siti.


"Teman-teman yang lain di mana, aku bawa oleh-oleh yang banyak nih!" ucap Maura pada gadis kecil yang bernama Norma.


"Ayo masuk! Oh iya, kenapa kau bawa bayi? Apakah dua bayi ini mau kau titipkan di sini juga?" tanya ibu Siti.


"Tidak Bu, biar aku jelaskan nanti," ucap Maura.


Akhirnya mereka pun masuk ke sebuah rumah yang ada di dalam gerbang panti tersebut.


"Norma, tolong kau panggilkan teman-temanmu yang lain ya!" ucap Ibu Siti.


"Baik bu."


Akhirnya anak perempuan yang bernama norma itu pun pergi untuk memanggil teman-temannya.


Sementara Alin menitipkan bayinya pada Ibu Siti, dan kemudian kembali ke mobil taksi untuk membawa barang makanan yang sudah dibelinya di jalan tadi bersama Maura.


"Maura ..., sebenarnya siapa dua anak ini? Oh iya, sepertinya mereka kembar, Apa benar begitu?" tanya Bu Siti.


"Iya Bu, Alhamdulillah, anak ini adalah anak Maura Bu," ucapnya.


Dia pun menimang bayi yang diserahkan Alin tadi padanya.


"Ceritanya sangat panjang Bu, saat Maura keluar dari Panti ini, 1 tahun yang lalu, aku terjebak Bu, aku terjebak di dunia malam.-


"Astagfirullah Nduk! kok bisa begitu sih? Kenapa juga saat itu kamu harus keluar dari Panti ini? kita semua kan bisa makan seadanya di sini, tapi kenapa kamu memilih keluar saat itu?" ucap Bu Siti.


"Iya Bu, aku sungguh sangat menyesal saat itu, namun untuk kembali ke mari, aku merasa malu, karena aku bertekad akan mendapatkan pekerjaan yang bagus," jawabnya.


"Terus? Bagaimana kejadiannya? maksudnya ..., apa kau tidak mempunyai suami?" tanya Bu Siti penasaran.


"Punya Bu, aku punya suami, tapi sebenarnya laki-laki itulah yang telah membuatku hamil sebelum sah,, sebelum kami menikah. Sekarang kami sudah menikah, tapi aku merasa tidak bisa menerimanya. Karena saat kejadian itu, dia telah memakai aku dengan paksa dan membius ku," ucap Maura.


"Jadi kedua anak ini adalah anakmu?"


"Iya Bu, Mereka berdua adalah anakku," sahutnya.


"Ya Allah, mudahan kamu sabar ya Nduk, Oh iya terus sekarang apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya Bu Siti.

__ADS_1


"Untuk beberapa saat, bolehkah aku diam di sini kembali, bersama kedua anakku ini?" pinta Maura.


"Tentu saja boleh, tapi kau tahu sendiri kan, di sini semua makanan serba terbatas, kalau kamu mau hidup seperti dulu lagi, silakan, pintu ini slalu terbuka untukmu," ucap Bu Siti.


"Tidak begitu Bu, semua keperluan panti nanti, Ayah Mertuaku lah yang akan memenuhinya, karena beliau adalah seorang pengusaha kaya, aku dan Ayah Mertuaku kami sangat berbaikan, karena beliau sangat sayang kepada cucunya ini, Namun aku belum bisa menerima anaknya yang telah melakukan perbuatan tercela itu kepadaku," ucap Maura.


"Masya Allah ..., jadi kau mempunyai ayah mertua yang sangat baik? tapi mengapa kau mau hidup menderita di Panti Asuhan yang sederhana ini?" tanya Bu Siti.


"Itu demi ketenangan jiwaku Bu, bahkan yang tidak habis pikir adalah, ternyata Paman dari Suamiku itu dia adalah Ayahku sendiri, Bu, dan dia juga dulu waktu aku belum ada, dialah yang telah memperkosa Ibuku, sehingga Ibuku bisa melahirkan aku."


"Astagfirullah, kok memang betul-betul ya, dunia ini kayak daun kelor aja "


"Iya Bh."


"Paman dan ponakan sama-sama bej*atnya," ucap Bibi.


"Iya Bu, maka dari itu, aku sangat sakit hati, aku belum bisa menerima mereka Bu, Oh ya Bu, boleh kan aku pakai kamar yang di ujung sana! yang kemarin kosong itu," tanya Maura.


"Tapi itu sudah peot Ndu, atapnya aja ada yang bolong."


"Tidak apa-apa Bu, nanti biar aku perbaiki, agar kami bisa tinggal di sana. Soalnya aku mau Mbak Alin dan juga baby sitter ku bisa ikut untuk membantuku," ucap Maura.


"Oh baguslah, kalau begitu, ya silakan."


"Assalamualaikum, Bu," ucap sesorang mengucap salam.


"Sebentar, Aku ada janji hari ini, sebentar ya!"


"Waalaikumsalam, kamu sudah datang nak? Ayo silakan masuk?"


Seorang laki-laki sederhana memakai baju kaos dan celana kain biasa, masuk ke dalam ruangan itu, saat dia berdiri di depan pintu, alangkah kagetnya Maura.


"Kau?" ucap Maura kaget.


"Maura? Apakah itu kau?"ucap lelaki itu juga kaget dan takjub.


Bersambung...


Promo punya temen nih, pasti seru


Yuk mampir


Judul : Talak Aku

__ADS_1


Napen : Arion Alfattah



__ADS_2