Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Telepon Rahasia


__ADS_3

Maura sudah sampai di kediaman barunya, di sebuah desa terpencil yang jauh dari keramaian kota, halaman yang luas dan ada sebuah pohon rindang di halamannya, begitu nyaman dan asri.


Barang-barang Maura, keperluan sehari-hari pun sudah dipenuhi oleh Pak Irlangga, semua perkakas rumah pun sudah siap di rumah itu, semuanya sudah beres dan lemari baju dan juga peralatan lainnya pun sudah lengkap.


"Selamat datang Nona muda," ucap seorang wanita tua yang sangat ramah terima kasih Mbok," ucap Maura.


"Nduk ..., Silakan masuk," ucap Mbo itu.


Maura pun masuk diiringi oleh Mbak Alin. rumah yang begitu indah dan sangat nyaman, Maura pun masuk dan dibawa ke kamarnya, untuk beristirahat karena mereka baru saja melewati perjalanan jauh, sekitar 2 jam dari pusat Kota.


"Nyonya muda, ini kamar Anda, silakan beristirahat dengan nyaman," ucap Alin


"Terima kasih, Mbak Alin, Maura pun masuk ke kamar itu, kemudian merebahkan dirinya di atas ranjang Kingnya. kasur yang negitu empuk dan nyaman.


"Apakah Nyonya muda ingin sesuatu?" tanya Alin.


"Mungkin aku perlu air putih yang banyak,, mbak, karena rasanya akhir-akhir ini Aku merasa kehausan," titahnya.


"Baiklah, Nyonya muda, aku akan membawakan tempat minum yang besar ke kamar Anda, agar anda bisa mengambilnya kapan saja anda mau," ucap Alin.


Mbok pun sudah pergi, karena dia hanya mengantarkan saja, sebagai pemilik rumah yang di sewa oleh Irlangga.


Maura pun merebahkan diri dan menutup matanya, untuk menghilangkan penat.


Tiba-tiba...


"Assalamualaikum ...," ucap seorang wanita.


Maura pun terpaksa bangun dan melongo keluar.


"Mbak..., boleh kami berkunjung?" ucap seseorang di depan pintu.


"Waalaikumsalam, iya Bu, boleh, Ada apa ya? tanya Maura, saat melihat ada dua orang ibu di depan rumahnya.


" Kalian berdua orang baru di sini ya? baru pindahan ya?" tanya ibu itu.


"Iya Bu, kami baru pindah hari ini, kami dari kota" sahut Maura.


Sementara Alin Hanya berdiam di belakang Maura. Dan mengawasi ke arah dua orang inj yang tdelihat kumuh itu.


"Oh..., kalian cuma berdua? suami kalian mana?"tanya ibu itu.


"Maaf, Bu, suami saya kerja di kota, jadi tidak bisa kemari, kemarin saya sakit terkena virus, kandungan saya pun bermasalah, jadi saya harus tinggal di tempat yang sejuk seperti ini," ucap Maura.


Maura sudah mempersiapkan jawaban itu jauh hari sebelum dia sampai ke desa ini.


"Oh ..., begitu ya nona? siapa namanya?" tanya ibu itu.


"Nama saya Maura, dan ini teman saya Alin.

__ADS_1


"Kalian sama-sama cantik," puji ibu itu.


"Silakan duduk!"


Maura pun menjamu kedua ibu itu. Ke dua ibu itu masuk dan duduk di sofa mewah yang di kirim dari kota oleh Irlangga.


"Kenapa kalian diam di rumah sebesar ini, kalau cuma berdua?" tanya ibu itu.


"Ini mertua saya yang carikan Bu, saya juga tidak tahu, baru pertama kali ini kemari," sahut Maura.


"Oh, pasti mertuanya sangat sayang kan? beruntung sekali kamu, Rumah ini sangat besar dan mewah," ucapnya.


"Kalau Nona butuh pekerja, mungkin membersihkan halaman atau mencabuti rumput, kami bisa kok," ucap ibu itu.


Oh ternyata mereka mencari pekerjaan tooo.


"Benarkah? Kebetulan sekali, mungkin halaman itu perlu di bersihkan," sahut Maura.


ibu itu oun tampak tersenyum.


"Iya Nyonya, kami bisa, memasak atau pun mencuci juga kami bisa," ucapnya.


"Oke, mulai jari ini kalian bekerja di sini," titah Maura.


"Terima kasih Nona, oh iya kami ini kakak beradik Non, ini adik saya bu Min dan saya adalah kakaknya, bu Nur."


"Oh ..., begitu ya, kalian punya keluarga? anak atau suaminya gitu?" tanya Alin.


"Kalau begitu, kalian tinggal di sini saja, bagaimana?" ucap Maura.


"Apakah tidak masalah?"


"Tentu saja tidak masalah, di sini kan banyak kamar, kalian bisa menggunakan kamar belakang," ucap Maura.


"Oh ya Allah, terima kasih banyak Non, Terima kasih banyak, syukurlah, akhirnya kami punya tempat tinggal yang layak," lirih ibu Nur


Sementara Bu Min hanya diam.


"Oh iya, Bu Min Kenapa diam sejak tadi?" tanya Alin oenasaran.


"Maaf Non, adik saya ini bisu jadi dia tidak bisa ngomong, tapi kalau saya yang memerintahkan untuk bekerja, dia bisa kok membantu," ucapnya.


"Oooh, baiklah, nanti biar Mbak Alin yang akan mengatakan tugas apa saja yang akan kalian kerjakan di sini, silakan kalian bawa pakaian kalian kemudian kalian pindah ke kamar belakang, aku mau istirahat siang dulu," ucap Maura.


"Baiklah Non, terima kasih," ucapnya.


Mereka pun meninggalkan rumah Maura, untuk mengambil pakaiannya, sebenarnya tidak ada pakaian yang bisa mereka bawa, karena hanya pakaian-pakaian baju-baju yang sudah sobek di mana-mana, karena memang mereka adalah orang yang sangat tidak berkecukupan.


Sebenarnya, rumah mereka berdua hanya rumah kecil berukuran 2x3 itu pun ditutupi dengan beberapa kardus dan juga atap yang ditambal-tambal dengan beberapa daun.

__ADS_1


"Bu Nur silahkan bawa pakaian kalian ke kamar belakang!" titah Alin.


"Iya Non," sahutnya.


"Oh iya, kenapa cuma satu tas? Apa kalian cuma punya segitu?" tanya Alin heran.


"Kami cuma ada empat atau lima lembar baju, maaf Nona, Kami memang tidak punya apa-apa, bahkan kami pun tinggal di sebuah gubuk kecil yang hanya berukuran kecil."


"Jadi kalian tidak punya tempat tinggal?"


"Iya."


"Oh iya, kalau kita mau ke pasar residisional, di mana ya?" tanya Alin.


"Kalau dari sini, cukup jauh Nona, memakan waktu sekitar 1 jam, di sanalah pasar tradisional."


"Baiklah."


Alin pun pergi meninggalkan mereka, menuju kamar Maura. Alin mengetuk pontu kamar Maura.


"Masuk!"


"Nona, sepertinya dua ibu itu sangat kesulitan, dan kesusahan, aku melihat mereka hanya membawa beberapa pakaian saja, dan coba kamu perhatikan, tadi kan baju mereka juga banyak sobek."


"Benarkah? kalau begitu aku akan membelikannya dengan uang yang diberikan papa, kita punya banyak uang kan? sebaiknya kita ke pasar, tapi di mana pasarnya?"


"Kata mereka ke pasar dari sini memakan waktu 1 jam."


"Kamu nisa nyetir kan?"


"Ya bisa lah, kan kita dikasih mertua non mobil," sahut Alin.


"Kalau begitu, ayo kita berangkat!" ajak Maura.


Akhirnya Maura dan juga Alin dan ke dua Bibi itu lun lergi berbelanja ke pasar, keperluan dapur, dan juga membeli baju Bu Nur dan Bu Min.


Mereka sangat senang karena sekarang mereka mempunyai kehidupan yang layak kaya orang kebanyakan.


***


5 bulan telah berlalu. kehidupan Aufan kini kembali seperti dahulu. Penyakit Amnesia karena kerusakan syaraf pun telah sembuh total, karena Pa Irlangga membawanya berobat ke luar Negeri.


"Bi... Mama mana?" tanya Aufan.


"Nggak tau Tuan Muda, mungkin di balkon," ucap Bibi.


Aufan pun berlari ke balkon untuk menanyakan sesuatu, namun, kakinya terhenti ketika mendengar Maminya itu memohon pada seseorang yang berada di dalam telepon.


"Aku mohon, jangan kau bongkar masa lalu ku, aku akan membayar berapa pun kau mau," ucap Mami.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2