
Aufan berdiri dan memegangi handle pintu kemudian kembali ke mejanya. Sesaat kemudian dia kembali ke pintu dan berbalik lagi.
"Aaaaaakh," teriak Aufan kesal.
"Ada apa Bos?" tanya Aman yang kaget dan segera masuk menemui Bosnya.
"Ayo! Bawa aku menemui Maura," ucap Aufan.
"Ha? Maura? Sebentar lagi akan meeting Bos, mana sempat ke sana," ucap Aman.
"Aduuuh, aku bingung ini, oh iya, siapa yang mengirim sekretaris itu ke mari? Dia sekretaris baru 'kan?" tanya Aufan.
"Papa Bos yang mengirim Dia, katanya agar Bos betah di kantor, Papa Bos tau kok selera Bos ha ha ha," tawa kecil Aman.
"Brak, keterlaluan Papa, apa maksudnya coba?" ucap Aufan kesal.
"Tenangkan dulu diri Bos, emang apa yang di lakukan sekretaris itu pada Anda Bos?" tanya Aman heran, Aufan marah-marah tanpa sebab.
"Dia berani menggodaku, sangat keterlaluan!" bentaknya.
"Menggoda Bos? Menggoda bagaimana Bos?" tanya Aman penasaran.
"Dia mendatangiku dengan berpakaian seksi seperti itu, membuat senjataku terbangun," ucapnya dengan nada kesal.
"Ah masa Bos? ngapain dia ke mari?" tanya Aman lagi.
"Mengantarkan berkas Meeting siang ini," jawabnya.
"Kok senjata Bks bisa bangun? 'kan cuma ngantar berkas Bos," ucap Aman bawel.
"Aaaakh, telepon Maura cepat!" titahnya.
Aman lun mengambil teleponnya dan menelepon Maura berulang-ulang, namun tidak ada yabg angkat.
"Ada apa?" tanya Aman penasaran.
"Tidak ada jawaban Bos," ucap aman.
"Apa tidak aktif?" tanya Aufan.
"Hanya berbunyi tut tut Bos," ucap Aman
"Masa? Apa dia ganti kartu?" tanya Aufan lagi.
__ADS_1
"Tidak tahu Bos, bagaimana ini?" tanya aman.
"Menyebalkan! coba lagi!" titah Aufan.
Aman pun kembali menelepon Maura, namun tetap sama, Maura benar-benar tidak bisa dihubungi alias tidak aktif, dan hanya berbunyi tut tut.
"Tidak ada jawaban Bos, sebentar lagi meeting bos, ayo siap-siap Bos!" ucap Aman.
Aman pun membereskan berkas yang akan dibawa Aufan ke ruang rapat, sementara Aufan tampak galau dan mondar-mandir di ruang kerjanya.
"Aaaah, benar-benar kurang. Apa Maura membloker nomor kita berdua? Berani sekali Dia," maki Aufan sambil memukul mejanya keras.
"Bos, sudahlah, ayo! Senjata nya sudah turun 'kan?" tanya Aman.
Aufan yang di tanyai semakin marah dan membuka pintu kasar.
"Bos mau ke mana?" teriak aman
Aufan tidak peduli, dia terus berjalan menuju lift turun ke lobi menuju mobil, masuk ke dalam mobil menghidupkan mesinnya dan meluncur meninggalkan gedung perusahaannya.
"Bos... Tunggu... Kau mau ke mana? Bagaimana dengan rapatnya heh? Bos!" Aman terus berteriak memanggil Aufan, namun Aufan sudah menghilang di balik pagar halaman perusahaan.
Jam meeting sudah sampai. Aman tampak bingung dan gugup. Masa iya Aman yang menghandle meeting tersebut? Hari ini ada klien penting yang datang langsung dari luar daerah. Aman pun masuk ke ruang Meeting dengan beberapa kali menarik napas sebelum masuk.
Beberapa Klien tampak menatap Aman yang kurus jangkung itu dengan mata sedikit meremehkan. Namun ada juga yang menatapnya biasa.
"Tidak apa-apa, nama Anda siapa?" tanya seorang Klien yang tampak sopan dan berwibawa.
"Oh iya, perkenalkan nama Saya Aman jagat, biasa di panggil Aman," balasnya.
Meeting pun di mulai, walau dengan perasaan galau dan khawatir, akhirnya Aman yang memang sudah sering mendampingi Aufan Meeting akhirnya berhasil. Klien merasa puas dan mendukung trik yang di susun Aman. Aman pun menutup Meeting dengan kembali mengucapkan permohonan maaf.
Plak
"Hei, cepat! Meeting di mulai, mana Bos?" ucap seseorang membuyarkan lamunan Aman.
"Ya Allah, aku mengHalu? Hanya Halu?" pekiknya kaget.
"Halu apaan sih? Ayo panggil Bos! Tamu udah pada nungguin tuh" ucap karyawan yang yadi merapikan ruang Meeting.
"Ha? Bagaimana ini? Apakah aku harus menggantikannya seperti lamunanku tadi?" ucap Aman lagi galau.
"Kamu ngomong ala sih? ayo cepat!" ucap karyawan.
__ADS_1
Aman pun bergegas bangun dan menyambar berkas yang ada di meja Aufan. Dia pun menarik napas berulang-ulang menuju ruang Meeting.
"Masa iya aku yang akan memandu Meeting ini? apakah akan sempurna seperti Haluku tadi? Atau aku malah di gebuki oleh klien? heeee ngeri amat hidupku begini, payah casanova ini mah," gumamnya kesal.
Aman sudah berada di ruang Meteng dan bsru meletakkan berkas Aufan.
"Mana Bos mu? cepat sedikit, kami tidak punya waktu untuk menunggu," bentak seorang klien yang berdasi dan tampak lebih tua dari Aufan.
"Tunggu sebentar Pa," jawab Aman.
Aman pun tidak jadi duduk dan berdiri mengambil Hpnya. Menelepon Aufan, namun tidak di angkat.
Tiba-tiba seseorang berdiri di depan Meja Aufan dan memimpin rapat, ruangan menjadi hening seketika. Pria itu pun membuka Meeting siang ini, semua orang tampak segan dan memperhatikan setiap kata yang orang itu ucapkan.
Aufan ke mana ya?
***
Aufan sudah sampai di kafe Momi Lin. Dia pun memarkirkan mobilnya asal-asalan. Mengambil kunci dsn berlari masuk ke dalam.
"Fan...!" teriak seseorang dari pojokan ruangan Momy Lin.
"Bela! Mana Maura? Aku ingin bertemu dengannya cepat!" ucap Aufan dengan terus berjalan memasuki Kafe dan terus ke dalam menuju kamar Maura.
"Tunggu!" Sanggah Bela.
Namun Aufan terus berjalan dan...
Bruk
Mendorong pintu Maura hingga pintu itu terbuka lebar. Betapa kagetnya Aufan saat seorang lelaki bugil tampak berada di atas tubuh wanita yang Aufan mengira Maura.
"Kurang ajar kau!" ucap Aufan.
Bruk bugh bugh
Di tarik dan di tendangnya lelaki yang terlihat kebingungan itu kuat. Hingga Dia meringis.
"Aufan tunggu! Tunggu! Dia bukan Maura, lihat!" ucap Bela, sambil menarik tangan Aufan.
Wanita itu tampak menutupi bagian kewanitaannya dengan selimut.
BERSAMBUNG...
__ADS_1