
2 hari sejak Vena dan Aufan merencanakan untuk mencelakai Maura, namun belum juga terlaksana, karena belum ada kesempatan. Vena ternyata tak kehabisan akal. Kemudian dia ke dapur dan membuat rujak sendiri.
"Nyonya Muda sedang apa? Kenapa membuat rujak sendiri?" tanya Bibi yang heran melihat Vena mengupas buahnya sendiri.
"Aku merasa pengen makan rujak pagi ini Bi, aku tidak sabaran menunggu Bibi datang, makanya aku bikin sendiri, Oh ya Bi, Ini sudah aku bagi dua, siapa tau Maura mau, ambil saja yang di dalam kulkas, karena aku membuat lebih, sementara yang milikku akan aku bawa ke kamar," ucapnya.
Vena oun kemudian membawa rujaknya menuju kamarnya.
"Terima kasi,h, Nyonya muda," ucap bibi.
"Ya," balasnya.
Vena tersenyum sambil melangkahkan kaki meninggalkan dapur' mudahan kali ini berhasil' gumamnya.
Bibi sudah selesai membersihkan dapur dan sekarang waktunya untuk mengolah sayur-mayur, untuk makan siang, tak berapa lama, yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang. Maura tampak dengan wajah segarnya sehabis mandi, dia senang menemani Bibi di dapur, karena jam-jam seperti ini, biasanya memang Maura ke dapur, dengan sedikit membantu bibi dan makan cemilan.
"Non," sapa Bini.
"Ya Bi," sahutnya.
Jam seperti ini Maura sering merasa lapar, sering dia juga menitip cemilan sama bibi yang ke pasar pagi.
"Nona, tadi Nyonya muda sudah mengupas buah, dan dia membuka buah yang banyak, juga membikin sambal rujak yang banyak, Katanya dia menyisihkan untukmu, tuh di dalam kulkas," ucap Bibi.
"Begitukah? Aneh, kenapa hari ini dia tampak baik? apakah dia menyesal?" tanda tanya Maura sama Vena.
Akhirnya Maura pun membuka kulkas dan mengambil sambal rujak yang terlihat sangat enak. Dia juga mengambil buah yang sudah di kupas Vena.
"Diiiih , enak banget ini kayaknya nih, Aku mau coba dulu ah, Maura pun mengambil buah-buahan yang sudah dikupas oleh Vena, dan mencelupkannya ke sambal rujak yang terbuat dari petis itu.
"Pedesnya... Tapi enak sekali Bi, Ini mau? ayo! jangan sungkan, Ayo kita makan bersama, nanti, aku bantu Bibi buat lauk pauk."
"Iya Non, Bibi juga mau ah."
__ADS_1
Bibi pun duduk mendekati Maura. tak berapa lama Mbak Alin pun juga datang.
"Hai... asik sekali kalian, sedang ngapain? Waaah makan apaan tuh?" tanya Mbak Alin.
"Rujak mbak, rujak bikinan Vena, enak sekali rasanya, cobalah," ucap Bini.
"Kok tumben baik," ucap Mbak Alin.
"Katanya tadi bikin kebanyakan, makanya dia bagi dua," ucap Bibi lagi.
"Oh begitu ya, cobain ah, kelihatannya seger banget ini buah," ucap Mbak Alin.
Alin pun bergabung memakan buah-buahan itu, hingga tersisa sedikit. Barulah mereka sadar, telah makan banyak.
"Eh aku lupa, kalau memang orang yang sedang hamil itu suka rujak, aku malah ikut makan banyak, habiskan saja itu Maura, aku sudah cukup," ucap Alin.
"Iya juga ya, bibi juga lupa hi hi," Bibi cengengesan karena merasa malu.
Bibi dan Alin pun berhenti memakan rujak, dan membiarkan Maura menikmatinya sendiri , Maura yang sangat keenakan terus saja memakan rujak sampai habis. Karena sebenarnya bumbu rujak itu bukan Vena yang bikin, dia minta bikinkan tukang rujak dan dia bawa ke rumah, lalu, dia ulek-ulek lagi karena mencampurkan obat penggugur kandungan untuk Maura makan.
"Maura kalau kesukaan kamu sebenarnya apa sih?" tanya bibi.
"Aku mau makan segala Bi, aku tidak pilih-pilih kalau makanan."
"Ooh, bagus itu Ndu," puji Bini.
"Oh ya Bi... Kalau Aufan itu kesukaannya apa ya?" tanya Maura ke Bibi.
"Kalau dia itu Opor ayam, soalnya dia akan alergi kalau makan bersifat udang udangan, ikan tongkol, dan yang bersangkutan dengan ikan laut gitu, Dia juga sering alergi sama keliting, jadi dia bisanya cuma makanan ikan seperti Nila, daging, Ya seperti itulah yang biasa dia makan, tapi makanan favoritnya sih biasanya opor ayam," ucap Bibi.
"Aggak pedes gitu ya Bi," tanya Maura.
"Nona sekarang bagaimana? apakah masih mual-mual?" hanya Bibi.
__ADS_1
"Tidak bi, sekarang sudah jarang mual, cuma kadang-kadang sih, suka pusing, jadi aku banyak berbaring saja di kamar," sahutnya.
"Itu biasa Nona, Kalau lagi hamil mah emang sering begitu," ucal Bibi.
"Oh ya Bi, aku sudah ngantuk nih, Aku mau ke kamar dulu," ucap Maura.
"Ya silakan Nona."
Akhirnya Maura pun pergi meninggalkan dapur, sementara Mbak Alin juga meninggalkan dapur untuk beristirahat ke kamarnya.
Tugas Alin n ialah hanya untuk Maura, menyediakan kebutuhan Maura seperti minuman susu, yang disediakan 3 kali sehari, makanan bergizi yang kadang dia beli dari warung-warung tradisional, dan keperluan lainnya.
Sementara di kamar Aufan. Vena tambah kegirangan karena saat Maura sedang memakan rujak tadi, ternyata Vena sedang mengintip di pintu dapur, dan menyaksikan bahwa Maura makan rujaknya, dengan lahapnya.
"Fan, kayaknya rencana kita kali ini pasti berhasil, mungkin nanti malam dia akan merasakan reaksi obat, yang sudah aku bubuhkan di dalam sambal rujak itu," ucap Maura.
"Benarkah? syukurlah, mudahan saja anak itu benar-benar akan keguguran, dan keadaan rumah tangga kita kembali seperti semula," ucap Aufan.
***
Aman kini sedang berada di Villa Vena di bandung atas perintah Bosnya, Irlangga. Dia pun sudah memasang CCTV yang sangat tersembunyi di dalam rumah itu, dia mendapatkan kunci dari bibi dan menduplikat nya, karena Bibi lah yang bisa masuk saat membersihkan kamar Aufan, tanpa sepengetahuan Aufan, bibi telah mengambil kunci dan menduplikat nya, agar Aman dan Pak Irlangga bisa bebas memasuki Villa itu Kapan saja.
"Hello Bos..m semuanya sudah siap, Vila ini sudah saya pasang CCTV di kamar, di ruang tamu, dan juga di dapur," ucap telepon Aman pada Pak Irlangga.
"Baguslah, dengan begini, kita akan mempunyai bukti perselingkuhan Vena di belakang Auufan," ucap pak Irlangga.
"Iya Pak Bos, sekarang aku akan pulang dulu, dan aku akan menyuruh orang di kampung ini agar bisa memberi kabar kepada kita, kalau Vena datang ke sini, jadi kita akan tahu apa yang mereka lakukan, di dalam rumah ini," ucap Aman.
"Baguslah, kau pintar juga ternyata, pantas saja dulu anakku Aufan itu tidak pernah membuangn mu, walaupun kadang pekerjaanmu itu sering gagal," ucap Irlangga.
"Iya Bos, terima kasih banyak pujiannya," ucap Aman.
Aman pun menutup telepon, sementara di kantor pak Irangga.
__ADS_1
"Vena, kali ini kau akan tahu, siapa yang kau hadapi ini, kau sedang bermain-main dengan anakku, membuat anakku lumpuh syaraf-syarafnya, namun walaupun aku tidak menghiraukannya, tapi aku cukup memantau dari jauh saja, nanti kalau ada bukti dan tentang kejahatan mu ini, aku membasmi mu sampai habis. Dan aku akan mengembalikan Aufan ke kedudukannya sebelumnya, tentu saja bersama Maura dan cucuku," gumam Pak Irlangga.
Bersambung.