
Maura pun pergi ke rumah sakit untuk menemui Aufan yang sedang pingsan. Dia pun Meng inbox lelaki yang membagikan berita Aufan rumah sakit.
Tak berapa lama, lelaki itu pun membalas inbox Maura, dan memberikan alamat Aufan.
Maura pun pergi dengan menaiki go-jek dan pergi menuju rumah sakit. Setelah 20 menit lebih, Maura pun terlihat sudah sampai di depan rumah sakit yang dimaksud.
Maura tergesa-gesa dengan berlari kecil menuju IGD tempat Aufan dirawat.
"Maaf, aku ingin menemui lelaki yang baru saja di bawa ke mari, dengan kondisi pendarahan di pinggangnya," tanya Maura.
Kemudian Maura pun dibawa masuk oleh perawat ke dalam di ruangan yang hanya bersekat tirai tirai.
"Ini Nona, apakah yang anda maksud tuan ini?" tanya perawat.
"Itu... ya benar," ucap Maura.
Maura pun mendekati Aufan dan terlihat ada seorang laki-laki yang duduk di sampingnya.
"Apakah Nona yang menghubungi saya tadi?" tanya lelaki itu.
"Ya Tuan, saya yang menghubungi Anda," jawab Maura.
"Oh ya, kalau begitu, karena keluarganya sudah ada di sini, saya permisi Nona. Karena saya ada pekerjaan mendesak," ucap lelaki itu.
"Oh ya, silahkan, terima kasih Tuan, Anda telah membawa dia ke mari," ucap Maura.
"Iya sama sama, tapi... Sepertinya suami Anda mengalami pendarahan dan masalah di kepalanya, Anda bisa langsung menanyakan ke perawat," ucap lelaki itu.
"Ya Tuan, terima kasih banyak atas bantuan Anda," ucap Maura sekali lagi.
Lelaki itu pun permisi pergi meninggalkan rumah sakit. Maura duduk di sisi Aufan, Maura menatap wajah tampan yang ada di hadapannya itu.
"Aufan, benarkah kau tulus menyayangiku dan anak ini? atau kau hanya mementingkan dirimu sendiri, untuk mendapatkan anak ini?" lirih hati Maura.
Dia terus menatap wajah Aufan yang terlihat sangat manis.
"Nona... apakah Anda istri tuan ini?" tanya perawat.
"Oh tidak, oh iya, aku istri Tuan ini," ucap Maura gugup.
"Aku ingin memberitahukan berita tentang pemeriksaan suami Anda," ucap perawat.
"Iya, baiklah, katakan saja Mas," ucap Maura.
"Begini Nona, suami Anda mengalami benturan yang lumayan keras, sehingga saraf-saraf kepala suami Anda mungkin akan mengalami sedikit gangguan," ucap perawat itu.
"Jadi apa yang harus aku lakukan?" tanya Maura.
"Dia akan mengingat seseorang yang ada di Lubuk hatinya paling dalam," sahut Perawat.
"Hanya itu?" tanya Maura.
"Ya, dia akan mengingat seseorang sangat dia ingat dan perlukan," ucap perawat lagi.
"Oooh begitu kah?"
"Ya, jadi seseorang yang selalu dia panggil, maka orang itu harus bersamanya setiap saat, karena akan membantu pemulihan saraf saraf nya kembali,",ucap perawat.
"Baiklah Mas, terima kasih," sahut Maura.
"Kalau anda sudah paham, aku permisi," ucap perawat.
__ADS_1
Perawat itu pun pergi meninggalkan ruangan Aufan. Sedang Maura kembali menatap Aufan yang tampak tertidur dengan wajah polos nya.
"Aufan... sekarang mungkin aku akan tahu, siapa sebenarnya orang yang benar-benar tulus, yang ada di lubuk hatimu yang paling dalam," lirih Maura.
"Maura... "
Aufan memanggil Maura, namun sepertinya Maura tidak menyadarinya.
"Maura... " panggil Aufan lagi.
"Ha? Apa dia memanggilku?" tanya Maura heran.
Karena Maura tidak terlalu mendengar, karena sibuk dengan lamunan nya sendiri.
"Maura... Sayang..m ke mari lah," panggil Aufan lagi.
"Apa kau manggil ku?" tanya Maura.
Tiba-tiba dia mendengar seseorang mencari nama Aufan.
"Maaf Mas, yang mana pasien yang bernama Aufan, yang tadi pagi pingsan dan ditemukan di jalanan," tanya seseorang di luar ruangan Aufan karena Aufan belum pindah ke kamar.
"Oh, Nona salahkan ikut saya!" ucap seseorang yang jaga.
Maura pun panik dan kemudian dia berjalan ke sebelah tirai yang ada di samping Aufan. Sebelah tirai juga ada pasien seorang perempuan yang terlihat habis kecelakaan.
"Maaf Nona, aku ikut sembunyi sebentar di sini, please!" mohon Maura pada perempuan itu.
Perempuan itu pun mengerti dan mengangguk.
"Apa yang terjadi padamu? kenapa kau pergi dari rumah tanpa memberi kabar? kemudian ada seseorang yang memasang fotomu di facebook dan menemukanmu tergeletak di jalan," ucap Vena berpura pura panik.
"Mungkin benar, kali ini kau benar benar akan mati Fan," lirih hatinya sambil sedikit tersenyum licik. Karena melihat darah di baju Aufan begitu banyak, dia kira Aufan pendarahan dan tidak bisa di hentikan.
"Apa maksudmu Mi, Aufan mengejar penjual bunga?" kaget Vena.
"Iya sayang, dia berlari mengejar si penjual bunga, yang pagi tadi ke rumah kita ," sahut Mami.
"Siapa sebenarnya penjual bunga itu?" tanya Vena.
Maura yang berada di sebelah ruangan Aufan mendengarkan dengan perasaan tak karuan.
Sedang Vena teringat bahwa saat itu Aufan menyuruhnya membeli sebuah buket bunga mawar, dan Aufan juga Memanggil nama seseorang 'Maura'
"Maura..." panggil Aufan tiba tiba.
Sepertinya dia akan terbangun. Vena dan Maminya yang ada di samping Aufan pun kaget, saat tiba-tiba Aufan memanggil nama Maura lagi.
"Maura? Maura lagi? Siapa Maura?" tanya Vena tampak terlihat kesal.
"Mungkin Dia sedang bermimpi saja Vena, kamu sabar duku," ucap sang Mami.
"Aku harus mencari tahu, aku akan memaksa Aman mengatakan sesuatu, Dia pasti tau siapa Maura," ucap Vena.
Vena pun menghubungi Aman. Telepon tersambung, namun belum ada yang mengangkat. Beberapa kali mencoba, barulah ada jawaban.
"Hello Nona, ada apa?" sahut Aman.
"Kau ke mana saja sih? Sekarang kau ke rumah sakit bla bla, aku ingin bicara penting!"
Klok.
__ADS_1
Vena langsung mematikan telepon tanpa menunggu jawaban Aman.
"Bagaimana?" tanya Mami.
"Sudah, sebentar lagi Dia pasti datang," ucap Vena.
Maura pun berjalan pelan ingin keluar dari ruangan itu. Setelah menengok kiri kana, dia lun berjalan meninggalkan ruangan tersebut. Namun saat dia berada di pintu IGD.
"Nona Maura? Kau?" Aman kaget saat melihat Maura ada di sana.
"Aman?"
Maura juga kaget, namun dengan cepat dia berjalan meninggalkan Aman.
"Nona Maura, tunggu!"
Tring
Telepon Aman berbunyi.
"Aaaaah, sial***" umpet Aman, saat melihat Vena meneleponnya kembali.
Aman terpaksa membiarkan Maura pergi begitu saja.
"Nyonya Besar? Apa yang terjadi?" tanya Aman.
"Heeeeh kau ini," ucap Mami.
Plung plung plung
Mami memu*kul kepala Aman pelan karena merasa sangat greget dengan Aman yang selalu tidak tau dengan masalah yang menimpa Aufan majikannya.
"Bu Bos, ada apa? Kenapa kau memu*kuliku?" tanya Aman heran.
"Lihat! Kau ke mana saja? tiap kali Aufan kena musibah, kau selalu tidak ada, kau itu bagai penghalang musibah baginya, kau itu seperti penolak bala di tubuh Aufan," ucap Mami, membuat Aman heran tidak mengerti.
"Aku ingin tanya, siapa Maura sebenarnya? Jawab!" desak Vena.
"Maura? Kenapa nama itu lagi Nona?" tanya Aman.
"Karena Aufan terus memanggil nama itu, kali ini kau harus jawab dengan jujur," desak Vena.
Vena pun menarik kerah baju Aman.
"Katakan, siapa Maura?" tanya Vena lagi.
Aman tercekik, tubuh kurusnya pun berjingkit karena merasa sesak.
"Sakit, Nona, aku tidak tau," ucap Aman terbata.
"Kau bohong! Kau pasti tau!" bentak Vena marah.
"Aman, katakan saja," ucap Mami.
"Maura... Aman... Maura...," lirih Aufan lagi.
Aman pun tersentak kaget, saat Bosnya itu menyebut namanya bergantian dengan nama Maura.
Vena menatap tajam ke arah Aman.
"Maura... Dia... "
__ADS_1
Bersambung...