
Maura terus mengikuti langkah kaki pria tua menuju Lift, Hatinya benar benar dah dig dug door di buatnya, ini kali pertama Maura melayani orang asing, karena selama ini Dia hanya melayani Aufan orang yang telah merenggut kegadisannya.
"Hei, kau takut? Kenapa kau tampak berkeringat begitu? Tanganmu juga terasa dingin," ucap lelaki tua itu.
"Mmmm___, anu, aku belum pernah cek in di Hotel," sahutnya gugup dan sangat pelan.
"Benarkah? Lalu biasanya kau main di mana?" tanya lelaki itu lagi menatap wajah Maura dekat, seakan ingin memangsanya hidup hidup, wajah maura yang imut dan cantik lah yang membuat lelaki itu seakan ngiler dan tak sabaran.
"Di kafe Mami Lin," sahutnya sambil berjalan dan menunduk, pintu Lift sudah terbuka lebar, orang-orang pun mulai keluar, setelah kosong, lelaki itu menarik tangan Maura tergesak-gesak. Pintu Lift menutup.
Setttt
Tiba tiba sebuah kaki menyangga pintu yang menutup itu, hingga pintu kembali terbuka. Lelaki dengan pakaian kemeja ketat dan berwajah tampan.
"Tu___tuan?" Tentu saja Maura kaget bukan kepalang, kini Lelaki itu menatap tajam ke arah Maura.
Hap
Menangkap tangannya kasar dan membawanya pergi dari sisi lelaki itu.
"Hey, tunggu! Siapa kau berani membawa wanitaku?" ucap Pria Tua sambil menyusul keluar lift.
"Dia wanitaku, kalau kau ingin memilikinya, kau harus menebusnya 100 juta sekarang!" bentak Aufan terlihat marah, apakah Dia cemburu?
"Ha? Apa benar itu heh?" bentak Lelaki tua itu pada Maura.
"..." Maura hanya terdiam.
"Dasar wanita jala**g,"
Plak
Tamparan mendarat sempurna di pelipis Lelaki tua itu.
"Dia istriku, kami sedang bertengkar, jadi jaga bicaramu," ucap Aufan lagi.
"Istri? Kurang ajar kau!" lelaki tua itu pun ingin ingin membalas. Namun tiba-tiba Dia meraba dadanya yang terasa sakit kemudian ambruk ke lantai. Panik doong Maura dan Aufan.
"Security, tolong Lelaki itu, mungkin dia kena serangan jantung," ucap Aufan, pintar juga dia.
Beberapa security pun datang dan menolong pak Tua itu, sementara Aufan menarik tangan Maura, hingga Maura terseok seok mengikuti langkah Aufan. Aufan melambai ke sebuah taksi.
__ADS_1
"Tolong antarkan Dia ke kafe Mamy Lin... Maura! Ingat, aku akan segera datang, tunggu aku! Aku ada urusan sebentar," bentaknya kejam.
Maura yang gemetar hanya terdiam dan mengangguk. Taxi pun berjalan menuju tempat yang di maksud.
"Mengapa Dia sangat marah? Bagaimana dengan lelaki itu? Apakah Dia meninggal?" lirihnya.
Maura sangat ketakutan, dia terus menggosok gosok kedua telapak tangannya karena merasa takut. Tak berapa lama Dia pun sampai di tempat tujuan.
***
"Vena, maaf, aku akan mengantarkan mu pulang, aku ada urusan mendadak," ucap Aufan.
"Mendadak? Tadi kamu ngapain berlari lari ke Hotel itu? Emang ada apa di sana?" tanya Vena heran, ternyata Vena tidak melihat Aufan menarik Maura, karena memang sengaja jalan yang terlindung dari mobil Aufan, Aufan melihat Maura bergandengan tangan dengan lelaki itu sejak Aufan masih di sebrang jalan.
"Aku menemui orang yang selama ini ku cari, Dia berhutang banyak padaku, makanya aku mengejarnya," ucapnya santai.
"Oooh, baiklah, ganti dengan malam besok saja ya," bujuk Vena sambil merangkul tangan Aufan.
"Hmmm, kita lihat besok saja," sahutnya dingin, seakan ada beban yang kini bersarang di pikirannya.
Aufan pun mempercepat laju mobilnya, hingga sampailah Vena di halaman rumahnya, rumah yang sederhana tak terlalu mewah.
"Nanti ku kabari,"
Cup
Mereka pun berpisah dengan satu kali kecupan manis di bi**rnya.
Aufan segera berbelok dan melajukan mobilnya menuju kediaman Maura.
"Apa yang kau lakukan Maura? Apakah kau sudah sering melakukan ini heh? Kurang ajar kau Maura," gumamnya. Aufan benar benar merasa marah. Tak berapa lama, Dia pun sampai di tempat Mami Lin.
Bruk
Aufan mendorong pintu itu kasar, hingga Maura yang baru membersihkan wajah dan berganti baju pun kaget.
"Tuan?"
Bruk
Aufan mendorong pintu dan menguncinya dari dalam, wajahnya benar benar sedang marah.
__ADS_1
"Berapa kali kau tidur dengan laki laki lain? Jawab!" bentaknya dengan penuh amarah.
"Aku tidak melakukan itu, setidaknya belum pernah, kecuali dengan Kau!" sahut Maura sambil menunjuk wajah Aufan,l.
Maura pun juga marah dan benci, bila dia ingat, lelaki itulah yang telah membelinya dari Lira, sehingga kini dia bukan lagi gadis.
"Jangan bohong! Tidak mungkin tadi itu pertama kali kau mencoba pergi dengan lelaki lain, apakah kau sangat kekurangan uang?" tanya Aufan semakin emosi.
"Ya, aku sangat kekurangan uang, bahkan aku ingin mencari tambahan uang dengan bekerja di luar sana, agar aku bisa menebus diriku dari kalian yang telah membuatku terjerumus, kalian jahat, kalian jahat, huaaa," tiba tiba Maura menangis dan terduduk di lantai.
"Dasar wanita murahan, baiklah, kau layani aku malam ini, aku akan memberikan berapa pun kau mau," ucap Aufan sambil berjalan dan menarik tubuh Maura, menghempaskan nya ke ranjang yang ada di kamar itu, Maura berontak, namun, Maura yang hanya seorang wanita mungil tak mampu melawan. Akhirnya dia pun pasrah dan menyerah.
"Tuan, penga**nnya," hanya itu yang bisa Maura ucapkan di bawah soko***n Aufan. Namun tak sedikitpun Aufan perduli itu. Dan jadilah pergulatan tanpa penga**n.
***
Pagi menjelang, Maura tampak masih tertidur, Aufan tampak menggeliat dan terbangun. Saat Aufan melihat wajah Maura, terbayang kembali wajah lelaki itu. Seakan Dia melihat Maura sedang bermain dengan orang itu. Emosinya kembali membara.
"Bangun! Hey wanita mu****n, bangun!" bentaknya berulang ulang.
"Tuan," sahut Maura seraya berdiri dan memunguti pakaiannya yang tadi malam di lempar oleh Aufan.
"Ini... ingat! jangan sekali kali kau berani seperti tadi malam, aku sudah bilang, aku tidak suka lobang semut!" bentaknya lagi, seraya melempar uang ke tubuh Maura, uang itu tadi malam di sediakan Aufan untuk shoping bersama Vena. Sangat banyak.
Bruk
Aufan pergi dari kamar Maura sambil membanting pintu kasar.
"Nyonya Lin! Jangan pernah biarkan Maura keluar dari sini, ingat itu!" Teriaknya hingga suara itu sampai ke kamar Maura.
"Dasar Posesif, siapa aku ini? Aku bukan siapa siapa dia, aku hanya Wanita satu malamnya saja, kau jahat, jahat!"
Maura kembali menangis dan memeluk dirinya.
"Apa aku harus bun**h diri saja? Aku sudah bosan hidup begini, aku sangat hina," Dia terus menangis. Dan tiba tiba dia bangun dan mencari sesuatu, dia menemukan tali dan memandang langit langit kamar.
***
"Maura... Mami... Maura Mami...," teriakan Bela di pagi ini membuat penghuni kafe panik dan berlarian menuju arah suara
BERSAMBUNG...
__ADS_1