
Maura pun mengambil beberapa bunga dan membawanya ke sepedanya, namun setelah beberapa waktu, Aufan kaget saat menengok spion, dia melihat Maura sedang mengayuh sepedanya, berlawanan arah dengannya.
"Maura..." spontan tanpa sengaja.
Vena pun kaget dan menoleh ke arah Aufan.
"Aufan, kau memanggil siapa? "tanya Vena.
"Maaf, tidak... Maksudku, Aura Bunga ini sangat indah," Gagap Aufan mengalihkan pembicaraan.
"Ooh.. oh iya, aku boleh tanya sesuatu?" tanya Vena.
"Tanya sesuatu? silahkan," ucap Aufan.
Sebenarnya Aufan tidak terlalu memperhatikan perkataan Vena, dia terus saja mengintip spion, padahal Maura sudah menghilang di sana.
"Kemarin... waktu di rumah sakit, kau terus saja memanggil Maura, memangnya siapa Maura itu?" tanya Vena sambil menatap wajah tampan suaminya.
Namun Aufan tidak merespon.
"Sebenarnya... apa yang dia pikirkan? mengapa dia tampak melamun? tidak mungkin aku salah dengar. Pasti tadi dia sedang memanggil Maura," ucap Vena dalam hati.
"Apa kau mendengar ku?" tanya Vena.
"Yah? ada apa?" tanya Aufan kaget, saat bahunya dicolek oleh Vena.
"Kok kamu melamun? sebenarnya, apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Vena.
"Tidak apa-apa, beberapa hari ini aku hanya merasa lelah, oleh urusan pekerjaan di kantor," ucap Aufan.
Namun Vena tidak mudah percaya begitu saja, dia yakin seseorang telah mengganggu pikirannya, tentu saja Vena mengira orang yang bernama Maura lah yang telah mempermainkan pikiran suaminya itu.
"Fan, apa kau mengenal seseorang yang bernama Maura?" tanya Vena tiba-tiba.
Aufan pun kaget,"Dari mana dia tahu nama itu?" lirih hati Aufan.
"Fan?" panggil Vena lagi.
"Maura? Siapa itu Maura?" tanya Aufan.
"Fan... aku ingin kita saling jujur, kita sudah menikah. Kemarin waktu kau demam tinggi, kau terus saja memanggil nama Maura, kau bahkan berteriak-teriak memanggil namanya seharian semalaman, hanya nama itu yang kau panggil, Tak sedikitpun kau memanggil namaku fan," ucap Vena.
Aufan pun terdiam."Ternyata kemarin aku mengigau, Apakah aku sangat terobsesi oleh Maura?" pikir Aufan.
"Vena mungkin nama itu adalah nama seseorang yang pernah aku kenal. Tapi aku tidak tahu siapa dia," ucap Aufan berbohong.
"Kau jangan bohong, selama sakit kau terus memanggilnya, tidak mungkin kau tidak mengetahui siapa Maura itu sebenarnya,"
__ADS_1
"Vena mungkin itu adalah masa laluku, dan aku tidak ingin nama itu merusak pernikahan kita, sekarang, Mari kita tatap masa depan kita," ucap Aufan.
Vena pun tampak cemberut, karena merasa kecewa dengan jawaban Aufan.
Akhirnya mereka pun melaju menuju perkantoran Aufan. Sesampainya di kantor Aufan, memarkirkan mobilnya dan menggandeng istrinya memasuki lift Aufan, juga tidak lupa membawa mawar pembelian istrinya, dan membawanya ke ruangan pribadinya.
Aufan meletakkan bunga mawar itu di dalam gelas yang diisi air.
"Cantik, seperti yang membeli," Puji Aufan.
Vena yang Mendengar pun tersenyum manis, walau di dalam hatinya masih bertanya siapakah Maura itu sebenarnya.
"Sehabis dari Luar Negeri, kita cari villa yuk! Aku ingin membeli sebuah villa untuk kita, jadi kita bisa berlibur saat weekend," ucap Vena.
"Baiklah, aku akan memberikan sebuah Villa untukmu, sebagai kado pernikahan kita," ucap Aufan.
"Benarkah? apa kau juga akan memberikan Vila itu atas Namaku?" tanya Vena.
"Tentu saja, aku pasti akan memberikanmu sebuah Villa atas namamu sendiri," ucap Aufan lagi.
-Apakah aku boleh membawa teman-temanku ke villa itu?"tanya Vena.
"Tentu saja boleh, asal perempuan, itu 'kan punyamu, nantilah kita cari yang di daerah pegunungan, biar terasa sejuk, agar kau bisa betah saat berada di sana bersama teman-temanmu," ucap Aufan lagi.
"Terima kasih fan," ucapnya seraya memeluk Aufan dan menciumi lelaki itu. Hingga hasrat casanova Aufan bangkit terjadilah perang panas di ruangan yang sejuk itu.
***
Wajah Maura terlihat sangat pucat. Sudah dua hari ini Maura sakit, kepalanya pusing, tubuhnya terasa melayang-layang, dia juga sudah berobat namun hasilnya tetap sama.
Mungkin ini karena dia sedang mengidam, tensinya pun turun drastis. Mira merasa kasihan melihat kondisi Maura.
Diam-diam dia pun mencari nama seseorang di Hp Maura. Dan tidak ada nama yang spesial di sana.
"Bagaimana aku mencari tahu tentang ayah dari bayi yang dia kandung? Sepertinya dia ini butuh perhatian, kasihan sekali dia, pasti anaknya mengharapkan belaian sang ayah," gumam Mira.
Dia terus mencari nama yang mungkin dia curigai adalah seseorang, kemudian dia pun mencari panggilan keluar atau masuk di HP itu, namun tak ada satupun nomor yang pernah Maura hubungi.
"Begitu misteri sekali wanita ini? bagaimana aku bisa menolongnya," gumam Mira.
Mira pun menutup telepon Maura, kemudian dia mendekat dan menatap Maura. Mira pun menyentuh jidat Maura. ternyata Maura terkena demam tinggi, dia bingung apa yang harus dia lakukan.
"Maura, kau demam Maura, Ayo kita ke rumah sakit!" ajak Mira.
"Mbak Bella," lirih Maura.
Namun Mira tidak mendengarnya. Maura seperti menggigil. Dia pun mengigau berulang ulang.
__ADS_1
"Mbak Bella," lirihnya.
"Bella?" tanya Mira.
Kemudian Mira pun mencari nomor kontak yang bernama Bella, dan benar saja, di sana ada kontak yang bernama Bella. Mira pun menghubungi nomor tersebut.
"Hello... apakah ini Mbak Bella?" tanya Mira.
"Iya... Ini dengan siapa ya?" tanyanya.
Rupanya Maura belum pernah menghubungi nomor itu sejak dia simpan nomornya, dan berganti nomor.
"Maaf... apakah Mbak kenal dengan yang bernama Maura?" tanya Mira.
"Maura? Ini dari siapa ya?" tanya bila lagi bingung, mu gkin dia agak lupa.
"Aku Mira temannya Maura, Maura sekarang sedang sakit, dan dia mengigau badannya panas sekali dia juga sedang hamil," ucap Mira.
"Maura? Benarkah ini Maura temanku?" pekik Bella terdengar kaget.
"Iya Mbak," sahut Mira.
"Dimana Dia, sekarang aku akan ke sana," ucap Bella girang, setelah mendengar nama Maura disebut.
"Baiklah... aku akan mengirimkan alamatnya, Oh iya kita janjian di rumah sakit saja ya, karena sekarang dia sangat demam, nanti akan aku kabari lagi," ucap Mira.
"Baik-baik... jangan lupa kabari aku, terima kasih banyak," ucap Bela antusias.
Kemudian Mira pun meminta tolong kepada karyawan lain, untuk membopong tubuh Maura masuk ke dalam mobil. Mereka pun meluncur menuju rumah sakit
"Maura... Kau sangat keras kepala, aku akan menolongmu, kau harus bertemu dengan lelaki yang bernama Aufan itu, lelaki itu harus tahu, apapun hasilnya, aku akan membelamu, aku akan pasang badan kalau lelaki itu menyakitimu," lirih hati Mira.
Tak Berapa lama, mereka pun sudah sampai di rumah sakit, seperti janjinya Mira, dia pun menghubungi Bella yang dipanggil Maura dalam igauannya tadi.
Tak Berapa lama, Bella pun sampai, Bela terlihat sangat bahagia, ketika bertemu dengan Maura, dia terus mencium tangan Maura, dan sangat berterima kasih kepada Mira.
"Mbak... Mbak Bella, apakah Mak Bella tahu siapa Ayah dari bayi yang dia kandung?" tanya Mira.
"Iya... aku tahu," jawabnya.
"Mbak Bella, apa sebaiknya kita beritahukan lelaki itu, apakah lelaki itu tidak pernah mencarinya?" tanya Mira.
"Lelaki itu selalu mencarinya, Bahkan dia pernah mengamuk di klub kami, saat mencari Maura, yang sudah pindah bekerja," ucapnya.
"Kalau begitu, cepat hubungi lelaki itu sekarang, mungkin Maura perlu dampingan dari lelaki itu, saat dia sedang hamil ini," ucap Mira.
Bella pun kemudian mencari nomor Aufan.
__ADS_1
Tring tring tring...
BERSAMBUNG...