
Pagi ini, rumah keluarga Irlangga pun gempar, karena telah dikabarkan bahwa, Maura sejak pagi tadi tidak ada di rumahnya, Bibi pun pura-pura sibuk mencari ke sana kemari, begitu juga Ali. Tiba-tiba Vena turun dari tangga nya, dan mendengar keributan di bawah.
"Ada apa sih, pagi-pagi sudah ribut begini? Bi ..., kenapa berisik sekali?"Tanya Vena.
Jam sudah menunjukkan jam 09.00 pagi.
"Nona Maura tidak ada di kamarnya Nyonya Muda, biasanya kalau jam segini, dia sudah ada di dapur, tapi pagi ini dia tidak ada di mana-mana, Nyonya muda," ucap bibi kepada Vena.
"Benarkah? apakah dia tidak di ada di kamar mandi atau mungkin di taman belakang?" ucap Vena.
"Tidak ada Nyonya, kami sidah mencarinya, ke seluruh rumah ini, kami juga sudah mencarinya ke taman, kamarnya pun tampak berantakan."
"Tampak baju bajunya Maura pun berantakan, sepertinya dia sudah pergi di rumah ini," ucap Alin menimpali.
"Bagaimana mungkin? apa benae dia pergi?" gumam Vena.
Karena merasa penasaran, Vena pun turun dari tangga dan menuju kamar tamu, kamar yang ditinggali oleh Maura selama imi.
Vena membuka kamar itu, membuka kamar mandi, dan juga membuka lemari.
"Apa mungkin dia kabur ya? sepertinya dia sudah membawa baju beberapa buah? apa saat kebakaran kemaren saat orang-orang banyak di sini, dia melarikan diri?" gumamnya.
"Tapi bagus juga kalau dia pergi, dari sini," ucapnya lagi. Vena tersenyum menyeringai.
Dia pun kembali keluar. Dan menaiki tangga menuju kamarnya. kemudian dia mengambil Hp dan menelepon seseorang.
Ternyata dia menghubungi lelaki selingkuhannya yang di Villa kemaren.
"Hello Sayang ..., sepertinya hari ini aku akan ke villa, kita janjian di sana saja ya! orang-orang di rumah sedang sibuk mencari wanita mura**han itu, jadi aku akan mengambil kesempatan ini untuk berlibur, karena merasa pusing dengan urusan rumah," ucap Vena.
"Benarkah Sayang? Waaah, aku tunggu ya, pasti sangat menyenangkan kalau hanya kita berdua, Sayang," ucap lelaki itu.
"Ya sayang, jangan lupa bawa makanan yang banyak, biar kita tidam kelaparan di sana," ucap Vena lagi.
"Oke Sayang ..., sudah ya, aku lagi kerja nih, biar cepat kelar," ucap lelaki itu.
Akhirnya, telepon ditutup, kemudian vena segera mandi dan berganti baju, tak berapa lama, dia pun pergi meninggalkan rumah, saat di teras rumah.
"Vena! kamu mau kemana? tanya Pa Irlangga.
Ternyata pa Irlangga sudah datang dari rumah sakit. Mungkin dia akan ngantor pagi ini.
"Aku akan menjenguk Mami hari ini," ucapnya.
__ADS_1
"Oh, baiklah, tolong kau bawa makanan untuknya, mungkin saja dia merasa lapar," titah Mertuanya.
"Baik pah," sahut Vena.
Akhirnya Vena pun meninggalkan rumah dan meluncur ke ke rumah sakit, ke rumah sakit itu hanya alasan saja, karena sebenarnya dia akan pergi keluar kota dan menuju villa di bandunf.
sementara di rumah sakit yang jauh, tampak Maura sudah bangun pagi ini, ia pun tampak makan bubur yang disediakan oleh rumah sakit.
"Mbak Alin, apa yang terjadi? kenapa aku merasa lemas?" tanya Maura.
Maura tampak memijet mijet kepalanya. Dan menutuo buka matanya yang terasa sakit.
"Kau kekurangan darah, syukurlah kau sudah bisa melewati masa-masa itu," ucap Alin.
"Benarkah? oh iya, aku kan kemarin pendarahan, bagaimana dengan bayiku?" tanya Maura.
"bayinya baik-baik saja, Maura, kau jangan khawatir. untung saja kami tidak terlambat membawamu ke rumah sakit, sehingga bayimu bisa diselamatkan," ucap Alin.
"Syyukurlah, terima kasih, Mbak, aku sekarang ini ada dimana?" tanya Maur.
"Kita berada di rumah sakit, yang jauh dari rumah kita, oh ya aku ingin mengabarkan kepadamu tentang rencana kami, sepertinya kemaren kau sedang diracuni," ucap Alin..
"Di racuni?" Maura kaget.
"Benarkah? terima kasih, telah menolongku, tapi mengapa kau yakin? Ini lerbuatan Vena?" tanya Maura.
"Kemarin dokter yang bilang, bahwa ada makanan yang mengandung obat menggugurkan kandungan," ucap Alin.
"Tega sekali dia," ucap Maura.
"Sekarang kau akan kami sembunyikan, sampaikan melahirkan, kami sudah menyusun rencana."
"Kami maksud mbak Alin?" bkngung Maura.
"Aku dan papa mertuamu, kami akan membawamu pergi dari sini, Aufan tidak akan mengetahuinya. Ayo habiskan buburmu!"
"Papa mertua ku memperhatikan aku?"tanya Maura.
"Iya, bahkan semua rencana ini dia yang mengaturnya, beruntung sekali kau Maura, mendapatkan mertua yang tajir dan baik hati," puji Alin.
"Terima kasih mbak, tapi aku tak seberuntung mereka, yang memiliki suami yang percaya padanya," ucap Maura.
"Asal 'kan mertua sayang, suami nanti bisa di urus, ayo habiskan bubur mu, biar kau istirahat yang cukup, agar kita segera pergi dari sini," ucap Alin.
__ADS_1
***
Vena tampak sudah berada di Villa bersama lelaki itu, mereka pun memasuki Villa tersebut. Sementara anak buah Aman sudah berada di lokasi, tentu saja mereka akan menunggu aba-aba dari tuan Bos Irlangga.
"Sayang ..., Aku tidak menyangka kita bisa bertemu secepat ini kembali," ucap pemuda itu.
"Iya Sayang," sahut Vena sambil bergelayut manja di bahu pemuda itu.
"Aku juga sangat merindukanmu, Aku sangat takut kalau aku tidak bisa lagi bertemu denganmu, malam itu malam yang sungguh indah aku rasakan," rayu sang Pemuda.
"Ih ..., kamu na*kal," ucap Vena sambil mencolek pinggang pemuda itu.
"Benar Sayang, aku nggak bohong, kamu memang aduhai," pujinya lagi.
"Tapi ..., kamu tidak punya pacar 'kan?" tanya Vena.
"Tentu saja aku belum punya pacar, aku pernah punya pacar, tapi karena kami tidak sejalan, akhirnya aku pun memutuskan untuk berpisah dengannya," ucapnya.
"Bagaimana mantan pacarmu? Apakah dia cantik?" tanya Vena lenasaean.
"Enggak lah, biasa saja, jauhan cantikkan kamu kok," godanya.
"ih, gombal," ucap Vena.
"Kamu ini sangat cantik dan seksi, juga sangat menggoda," Puji Pemuda lag.
"Ah bisa aja kamu, membuatku semakin pengen," ucap Vena seraya menggigit bibir bawahnya menggoda.
"Ayo kita masuk!" ajak pemuda.
Akhirnya Vina dan pemuda itu pun masuk ke dalam rumah. Sementara Pak Irlangga sudah di perjalanan menuju Bandung, untuk mendatangi Villa Vena, dia pun tergesa-gesek meninggalkan perkantorannya, dan mematikan handphonenya, agar tidak ada yang mengganggunya.
Dalam perjalanan tersebut, Pa Irlangga hanya diam dan terlihat tegang. Tak berapa lama, Pa Irlangga pun sudah sampai di Bandung, bersama Aman dan beberapa anak buah Aman, yang sudah diutusnya untuk menjaga Villa tersebut.
CCTV pun yang juga sudah terpasang di dalam villa tersebut, akan memudahkan mereka memantau dari jarak jauh.
CCTV yang sudah disambung sebuah kabel yang ada di rumah penduduk sangat tersembunyi. Pa Irlangga pun di bawa ke sebuah ruangan kecil untuk melihat CCTV.
Ketika layar TV dibuka, Pak Irlangga tidak mau ada orang lain melihat menantunya ini, sehingga hanya Pak Irlanggalah yang ada di ruangan tersebut.
Ternyata benar, semua adegan yang di layar itupun membuat Irlangga jijik dan ingin muntah. Bahkan Pak Ilangga Mengapal-ngepalkan tangannya dan memukul-mukul meja saat melihat Vena melakukan hubungan itu dengan lelaki lain, padahal Vena statusnya adalah menantunya, istri dari Aufan anaknya.
"Pa IRangga pun memidio dengan handphonenya, adegan demi adegan yang ada di layar monitor tersebut, sekarang Vena akan mampus, dan video ini mungkin akan diperlihatkan Pak Irlangga kepada Aufan biar Aufn tahu bagaimana tingkat istrinya itu sebenarnya.
__ADS_1
Bersambung..m