Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Maura Terluka


__ADS_3

Maura terduduk di pojokan kamar saat sang suami memarahinya, dia hanya bisa menangis. Pertengkaran yang sepele itu seakan membuat hati Maura sangat sakit.


"Perempuan macam apa kau ini? Kau hanya mengincar hartaku 'kan? Dasar perempuan mu rahaan," ketus Aufan lagi.


"Hiks hiks hiks." Hanya tangisan yang terdengar jelas .


"Aufan, apa salahku? kenapa kau begitu membenciku?" ucap Maura, sambil terus menangis.


"Alaaaaa___"


Bruk


Aufan pun keluar dan menutup pintu kamar kasar.


Kesalahannya hanya sepele, ketika Aufan bangun dan berjalan ke kamar mandi dengan masih males membuka mata, hingga Aufan menginjak air minum Maura yang di letakkan nya di lantai, hingga tumpah, dan membuat Aufan terpeleset.


"Sayang, maafkan mama, mama tidak bisa lagi bertahan hiks hiks hiks." Maura mengelus perutnya lembut.


Kemudian Maura pun mengemasi barang-barangnya ke dalam tas. Dia sudah bertekat bulat, bahwa hari ini dia harus pergi dari kehidupan Aufan.


Tok tok tok


"Nona..." panggil Pembantu khusus Maura yang memang tiap pagi menyediakan susu untuk Maura.


"Masuk!" perintah Maura.


"Ini Nona, susunya di minum, mumpung masih hangat," ucap Mbak Alin.


"Terimakasih Mbak, letakin saja di sana," ucap Maura.


"Lho, kenapa Nona beres beres? Memang mau ke mana Nona?" tanya Mbak Alin.


"Aku tidak bisa bertahan di keluarga seperti ini Mbak, bisa bisa aku gi la dan stresss," ucap Maura.


"Tapi,Tuan besar harus tau, dia tidak akan mengizinkan Nona pergi," ucap Mbak Alin.


Bruk


Pintu di dorong kasar dari luar.


"Alin, keluar kau," ketus Aufan.


Alin pun kaget dan segera keluar, Aufan segera menutup pintu dan menguncinya.


Aufan kemudian menarik tubuh Maura dan mendorong kasar ke atas ranja ngnya.


"Aufan, ada apa? Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Maura panik.


"Kau itu istriku, jadi aku berhak meminta jatahku padamu kan?" ketus Aufan seraya menarik baju Maura kasar.


"Tuan, jangan begini, perutku sakit," rintih Maura yang di tin dih Aufan namun masih berpakaian lengkap.

__ADS_1


"Heh, kau suka 'kan sama lelaki tampan dan kaya raya seperti aku ini? Mengapa kau hadir dalam hidupku, mengapa kau datang dan menghancurkan pernikahanku dengan Vena heh," bentak Aufan.


Entah apa yang terjadi tadi di kamar atas, hingga membuat Aufan sangat marah begini. Aufan terus mencabik cabik baju Maura hingga tersisa pakaian dalam.


"Ha ha ha... Ternyata begini ya, isi dari tubuh wanita mu rahan," ketus Aufan lagi, sambil menjauh dari tubuh Maura, dan menatapnya dari jarak 1 meter.


Maura pun menutupi area da danya yang hanya tertutup pakaian da lamnya.


Bruk...


Tiba tiba pintu di dobrak dari dalam, Maura pun jadi kaget dan spontan mengambil selimut dan melilitkannya di tubuhnya.


"Aufan! Apa yang kau lakukan, apakah kau ingin menyakiti Menantuku?"


Ternyata Pa Irlangga yang datang karena laporan Mbak Alin narusan.


"Papa? Kenapa masuk tanpa permisi, kami baru saja mau...."


Plak plak plak


"Sedikit saja kau menyakitinya, maka kau akan berhadapan denganku Aufan!" bentak Irlangga.


"Tapi aku tidak menyakitinya, kami bahkan mau nganu...."


Plak


Kembali tamparan mendarat di pipi Aufan. Kali ini sangat pedes, hingga maninggalkan tanda merah di sana.


"Tidak pa, aku tidak..."


"Keluar! Keluar kamu, kamu tidak boleh lagi tidur di sini!" ketus Irlangga pada Aufan.


Aufan pun berjalan meninggalkan kamar Maura dengan hati yang kesal. Dia berjalan pelan memasuki kamarnya. Dan menatap Vena yang tampak sudah duduk di kursi meja riasnya.


"Apa berhasil?" tanya Vena tiba tiba.


"Ya, aku berhasil mempermalukannya, bahkan dia hampir telanj ang bulet, namun sayang tiba tiba Papa datang."


"Papa? Kenapa dia masuk tanpa permisi?" tanya Vena heran.


"Karena Mbak Alin melaporkannya, sekarang kau memaafkan ku 'kan?" tanya Aufan.


"Aku mau shoping hari ini, tolong beri aku uang," pinta Vena.


"Sama siapa?" tanya Aufan.


"Ya sama teman teman lah, sekalian mau ke Villa bersama mereka."


"Aku ikut ya!" ucapnya.


"Jangan! Kami cewe semua, " ucap Vena menolak.

__ADS_1


"Yaaa, baiklah, tapi nggak nginep 'kan?" tanya Aufan.


"Ya lihat aja nanti, aku merasa jenuh di sini, kepalaku puying memikirkan kalian dan anak itu," ucap Vena.


"Jangan gitu dong sayang," rengek Aufan.


Sejak Aufan terus meminum obat itu, Aufan seakan tidak jenius lagi, dia bahkan kadang seperti anak kecil, dan selalu menuruti kemauan Vena.


"Sudah ah, malam ini, kamu tidur lagi aja sama Maura!" titah Vena.


"Eh kok kamu,gitu sih? Kemaren kamu nggak izinin, sekarang kok nyuruh?" heran Aufan.


Aufan pun mendekati istrinya dan memeluknya dari belakang.


"Awas ah jangan pegang pegang," ketus Vena, sambil menepis tangan Aufan. Hingga tangan itu pun terhempas begitu saja.


"Tapi kamu jangan lama lama ya ke Villanya!" pinta Aufan manja, Aufan pun berbaring di ranjang dan tak berapa lama dia pun terlelap.


"Heh, dasar lelaki tak berguna, ternyata obat itu sangat, mempan, tak lama lagi, perusahaan mu pasti akan menjadi milikku," ucap Vena licik.


Vena sudah selesai berdandan dan mulai meninggalkan kamar, setelah mengambil black card milik Aufan.


"Mau ke mana?" tanya Irlangga saat bertemu,di depan tangga.


"Mau jalan Pa, sama temen, aku bosen di rumah," ucap Vena santai.


"Sendirian?" tanya Irlangga.


"Iya Pa, Aufan males dan dia hanya tidur tiduran saja tuh, udah ya Pa, udah janjian sama temen SMP nih" ucapnya berbohong.


Irlangga hanya menatap kepergian Vena tanpa berkomentar lagi. Kemudian Dia pun mengambil Hpnya dan menelpon seseorang.


"Hello, Aman, tolong kau ikuti Vena, dia memakai mobil Aufan yang lrange, dan kau sudah tau kan GPS nya kan?"


"Baik Tuan," sahut Aman.


Ternyata sekarang Aman bekerja dengan Bos besarnya, karena Aufan sudah tidak terlalu mengenalnya lagi.


***


Vena dan teman-temannya tampak sudah berada di dalam mobil menuju Villa yang ada di bandung. Villa yang kemaren baru di beli oleh Aufan untuk Vena.


"Di mana Mereka? Kok belum ada di belakang ya?" tanya temen temennya.


"Siapa? Emang kalian bawa siapa?" tanya Vena penasaran.


"Masa ke Villa sehebat itu cuma kita berempat, ya bawa pasangan lah," sahut temannya.


"Eh anak Lu dulu, Lu buang ke mana? Kok nggak pernah ada di kampung sih? Orang tua Lu juga tampak melarat sekarang, kenapa nggak kau kirimin uang?" tanya sahabatnya yang lain.


"Ah jangan mengungkit masa laluku, bagiku orang tua sudah tidak ada setelah mereka mengusirku dulu, anak? Heh, apa lagi itu, jangan pernah mengungkitnya," ucap Vena.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2