
Maura pun berniat menemui Ibrahim, teman yang pernah di temuinya malam itu. Ibrahim mengirimkan alamat untuk mereka ketemuan. Sepanjang jalan Maura tampak melamun dan sesekali mengelus perutnya.
"Sayang, aku akan menjagamu, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ke dua ini untuk memperbaiki kesalahanku di masa lalu, kau harus menjadi orang baik, jangan seperti mama Sayang," lirihnya.
Tak terasa sampailah ia di sebuah warung makan yang terlihat sejuk karena berada di bawah pohon besar, walau hanya warung kecil biasa. Namun tempat makan tersebut terlihat bersih.
"Hey, Rara... Kau sudah datang? ayo kita makan dulu," ajak Ibrahim.
"Iya," Rara pun membawa koper besarnya dengan terseok-seok.
"Sini, ku bawakan," ucap Ibrahim seraya mengambil koper besar itu.
Mereka pun masuk ke dalam dan duduk di lesehan pojokan warung itu. Ibrahim yang di temuinya malam itu sangat berbeda dengan hari ini, kalau malam itu Ibrahim tampak seperti pemuda kebanyakan, namun hari ini Dia tampak rapi dan mengenakan baju koko lengan pendek celana kain biasa.
"Ra, kamu mau makan apa?" tanyanya.
"Sembarang Mas," jawabnya.
"Kok sembarang, mana tau aku selera mu, di sini ada bakaran, soto, atau gado-gado," ucapnya.
Mendengar gado-gado liurnya terasa mau netes. Dia bahkan sampai menelannya berulang-ulang.
"Gado-gado saja Mas," ucapnya.
Ibrahim pun memanggil pelayan yang ada di situ, mencatat pesanan dan memesan beberapa cemilan ringan.
"Ra, sebenarnya pekerjaan yang seperti apa yang kamu ingini?" tanya Ibrahim.
"Sembarang saja Mas, asal halal," sahutnya.
"Gajihnya bagaiman?" tanya Ibrahim lagi.
"Asal cukup untuk makan," ucap Maura.
"Kalau di warung makan ini mau? Tapi di sini agak cape Ra, karena banyak pelanggan, tapi gajinya lumayan 2 juta satu bulan, makan di jamin 3 kali sehari," ucapnya lagi.
"Benarkah, aku mau, iya nggak papa, aku mau," ucapnya.
__ADS_1
"Baiklah, ini makan dulu, nanti aku antar ke rumah khusus para pekerja di sini," ucap Ibrahim.
Mereka pun makan. Maura tampak lahap memakan Gado-gadonya. Ibrahim yang melihat pesona Maura kagum pada wanita yang ada di depannya.
***
Kediaman keluarga Aufan. Mereka tampak sibuk berbenah rumah dan membersihkan gudang. Mami Aufan yang sebagai mandor pun tampak cerewet menyuruh pekerjanya. Karena keluarga besar Irlangga akan menginap di rumah ini. Irlangga adalah Ayah Aufan, dan saudara Irlangga semuanya irang sukses, namun bermoral sama dengan Aufan ke cassanovaan gitu deh.
"Semuanya harus rapi dan bersih. Jangan sampai aku kena semprot oleh keluarga Irlangga," ucap Mami Aufan.
"Iya Nyonya," sahut mereka.
"Mami aku mau mencari sesuatu dulu ke depan, kalau Vena datang, bilang tungguin saja ya Mi," ucap Aufan yang menuruni anak tangga sambil tergesak-gesak.
"Baiklah Sayang, jangan suka keluyuran, calon Manten biasanya suka di sapa orang sebelah," teriak Maminya, karena Aufan sudah berada di teras rumah.
"Iya mi," sahutnya.
Mami terus memantau kegiatan bersih-bersih. Gudang yang dulu di pakai sebagai kamar pembantu oun kini di bongkar, ranjang yang ada di kamar itu akan di buang dan di ganti dengan yang baru.
"Eh lihat, ada foto bayi, foto siapa ini?" tanya pembantu muda.
"Nyonya, ada foto bayi, ini Nya, foto siapa?" tanya Bibi.
"Sini... (wajah Mami langsung kaget)Kalian bekerja saja sana!" titahnya.
Mami pun berniat membakar foto itu, ketika suara Vena mengagetkannya dari arah pintu depan.
"Mami... " teriak Vena girang.
Mami yang saat itu sedang memegang foto bayi itu pun grogi, Dia segera meletakkan foto itu di bawah taplak meja yang di atasnya ada Vas bunga yang sangat cantik.
"Eh Sayang, udah datang? Aufan lagi ke luar sebentar, kau di suruh menunggu di kamarnya," ucap Mami.
Mami tampak mesra dan menggandeng calon menantunya itu sambil membawanya masuk.
"Baik Mi, aku ke atas dulu," ucapnya.
__ADS_1
Vena pun berlari kecil menaiki anak tangga dan masuk ke kamar Aufan. Vena melepas jaketnya dan tampaklah ia hanya menggunakan kemban ukir cantik. Tubuh mulusnya tampak mempesona. Dia pun berbaring di ranjang Aufan dambil memainkan Hpnya.
Ceklek
Aufan datang. Vena pun pura-pura tidur, entah apa yang Dia rencanakan. Vena sangat menggoda siapa pun yang melihatnya.
"Sayang, kau sudah datang, hemmm seksi sekali kamu Sayang," ucapnya.
Kreek
Aufan menutup pintu. Dalam hati Vena lun tersenyum, karena Dia sudah tau apa yang bekal Aufan lakuin hari ini.
"Kamu tidur atau pura-pura tidur heh?" tanya Aufan Seraya membelai pipi mulus Vena.
Vena hanya diam.
"Kau menantang ku?"
Aufan pun mulai bergarilya menyusuri tubuh indah itu dengan tangannya. Sambil menatap wajah Vena, Vena yang mulai...... Kini wajahnya seperti meringis menahan entahlah😃
"Apa kau suka?" tanya Aufan.
"Ho'oh" sahutnya pelan.
"Sebentar lagi kau akan jadi milikku heh?," ucap Aufan.
Cut cut cut
Vena dan Aufan tampak berbaring setelah melewati puncak indahnya dunia. Vena memeluk erat tubuh Aufan dari samping sambil terus mengelus si dada bidang itu.
"Sebenarnya untuk apa pernikahan ini? Kalau kita bisa bebas melakukan ini," tanya Aufan.
"Ya untuk mengikat kita lah, biar lebih afdhol saja," sahut Vena.
"Ayo mandi! kita akan Shoping 'kan?" ajak Aufan.
Mereka pun masuk kamar mandi berdua. Mereka memang sering melakukan ini berdua, bahkan orang tua Aufan tidak perduli, karena Aufan di anggap sudah dewasa dan bertanggung jawab.
__ADS_1
BERSAMBUNG...