
5 bulan telah berlalu, kini tampak Maura sibuk memasak di dapur untuk sarapan sang suami. Hari-hari Maura memang tidak mengenakkan, di bawah tekanan sang Mertua yang julid super cerewet. Namun Kiara sangat sabar bahkan seperti apapun mertuanya memperlakukannya, dia tidak pernah mengadu kepada Ibrahim.
Bibi yang merasa kasihan kepada Maura seringkali mengatakan pada Maura, agar bisa pindah rumah saja dari rumah itu, agar Maura bisa tenang bersama suaminya dan anak-anaknya, sementara Ibu Ibrahim bisa dicarikan pembantu untuk merawatnya, namun tentu saja Maura yang baik hati itu menolak.
"Nona tidak usah memasak, biar Bibi saja," ucap Bibi.
"Pagi ini tidak apa-apa Bi, aku juga harus terbiasa menyiapkan makanan untuk suami, biar aku juga mendapat pahala lebih Bi," ucap Maura.
"Ell_leh pahala ..., kamu itu kebanyakan dibantu oleh pembantu, Maura, coba lihat, merawat anak saja pakai 2 baby sitter. kamu juga dilayani pakai pembantu, belum lagi yang lainnya, kamu itu terlalu boros Maur," ucap Ibu Ibrahim.
"Bu, tapi baby sister dan membantu Mbak Alin itu pemberian dari Papa Mertuaku yang terdahulu, jadi sama sekali aku tidak mengeluarkan uang untuk mereka," ucap Maura.
"Kamu itu ya ..., membangkang terus. Coba kalau kamu semuanya kerjakan sendiri, uang pemberian mertuamu itu kan bisa buat beli keperluan mu, popok, sabun, pakaian untuk anak-anak, masa semuanya ditanggung oleh anakku Ibrahim, berarti, kerjanya banting tulang hanya untuk mencarikan uang untuk kalian," ketus mertuanya.
"Maaf Bu, tapi ...."
"Kamu ini kalau dinasehatin, pasti nyahut terus, inilah! itulah! sudah, sekarang panggil suamimu. Aku sudah lapar, aku mau makan bersama anakku," ucap mertuanya.
Maura pun diam, tidak meneruskan kata-katanya. kalau sudah disuruh diam ya benar-benar diam.
__ADS_1
Dia ingin memperbaiki dirinya di masa lalu. Dan patuh pada suami dan mertuanya. Sebenarnya dia ingin hidup tenang bersama suaminya namun mertuanya kadang selalu membuat masalah dengan Maura. Walaupun dia benar namun di mata mertuanya dia tetap saja salah, kalau menjawab tambah salah. Padahal semua kebutuhan Rayyan dan Raihan diberikan oleh mertuanya Maura. Maura juga punya perusahaan kecil yang diberikan oleh Papa mertuanya.
Maura pun pergi meninggalkan dapur untuk memanggil suaminya.
"Nyonya. Kenapa Nyonya begitu kejam pada Maura? dia itu anak yang baik."
"Kamu itu sudah memihak padanya ya? kamu itu pembantuku sudah sejak lama, kamu bekerja padaku, kok tiba-tiba kamu berubah membela dia sih?" ucap ibu Ibrahim.
"Tapi benar Nyonya, Maura itu sangat baik," ucap Bibi.
"Dari mana dia? juga tidak tahu asal-usulnya, menikah dengan kakak sepupu sendiri, apa itu? emangnya dunia ini tidak ada laki-laki lain?" ucap sang mertua.
"Hello, aku ingin bertemu denganmu siang ini, jam 11.00 di warung biasa," ucapnya.
"Ya Ibu."
Telepon pun di putus. Ibu Ibrahim mendekati makanan karena merasa tidak sabar.
"Nyonya, Mau apa bertemu dengan orang itu lagi? Kalau tuhan Ibrahim tahu, dia pasti marah."
__ADS_1
"Jangan sampai dia tahu, sudah ah kamu jangan ikut campur, urus aja urusanmu sendiri," ketusnya.
Tak berapa lama, Ibrahim pun datang, mereka makan bersama di dapur.
"Ibrahim, kamu kan sudah menikah sudah 5 bulan loh, kok belum ada tanda-tandanya istri kamu hamil sih? jangan-jangan dia pakai KB tanpa sepengetahuan kamu?" ucap ibu Ibrahim menyindir Maura.
Sedang Maura hanya diam saja, takut kalau menjawab salah.
"Bu, mungkin belum diberi, kita tunggu saja nanti," sahut Ibrajim.
"Oh iya Mas, aku sudah 2 bulan ini tidak pernah datang bulan lagi, tapi aku merasa tidak ada perubahan," ucap Maira.
"Nyonya muda, jangan-jangan kau sedang hamil? coba Tuan Ibrahim kau belikan saja di tes kehamilan!" ucap bibi.
"Mana mungkin hamil, kalau orang hamil itu kan pasti mual-mual. Mungkin dia hanya stress aja, karena terlalu memikirkan anak-anak yang kadang sering nangis tanpa sebab itu," ketus Ibu Ibrahim Ibrahim.
Maura hanya terdiam, Ibrahim juga tahu sekarang Ibunya sering sensitif padanya, mungkin karena ibunya sekarang merasa cemburu lada Maura yang sering dimanjakan oleh Ibrahim tanpa dia sadar, ketika ibunya sering melihat Ibrahim sering curi-curi cium untuk istrinya itu. Maklum penganten baru.
Bersambung...
__ADS_1