Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Aufan Penasaran


__ADS_3

Semua penghuni yang ada di situ pun kaget dan berhamburan menyusul Bela menuju kamar Maura.


"Maura... Maura... Kamu kenapa, ambilkan air! Cepat!" Mamy Lin selaku penanggung jawab di situ pun panik.


"Ini Mi," ucap seorang lainnya, dan memberikan segelas air.


"Emang Dia kenapa? Tadi baik-baik aja kok, kok bisa gini sih?" tanya Mami.


"Aku juga tidak tau, tadi malam pun kami nggak jadi jalan jalan, karena tanpa sengaja kami bertemu Pelanggan setia Maura," ucap Bela.


"Tadi malam mereka tidur berdua 'kan? Kok Maura jadi prustasi gini sih?" ucap yang lainnya.


Maura terus di olesi minyak kayu putih, dan di siram siram air.


"Uuuuuh... Sakiiit... " rintih Maura sambil memegangi lehernya bekas ikatan.


"Maura! Apa yang kau lakukan? apakah kau ingin mengakhiri hidupmu heh?" bentak Mamy Lin marah.


"Mami, aku sudah tidak sanggup Mi, aku sangat kotor dan hina, aku slalu di rendahkan," ucapnya dengan nada pelan dan pales.


"Alaaaah kau ini ada ada saja, kita ini memang kotor, gitu aja kesel, sudah ah, ganggu tidurku saja," ucap teman lainnya.


"Iya nih, heh," bentak yang lainnya juga.


Mereka semua pergi kecuali Mamy dan Bela.


"Kamu ada masalah apa heh? Sampai segitunya, kalau kamu mati, ya langsung kecebur ke neraka laaah, kudu tobat dulu, gini gini Mami juga ada niatan tobat kok, nggak selamanya Mami ini mau jadi mucik***ri," ucap Lin.


"Aku sangat kesal dengan Tuan itu Mi, aku di bilang sering dengan lelaki lain, padahal aku baru tadi mau nyoba," ucap Maura keceplosan.


"Tadi mau mencoba? Emang kamu ke mana kemaren?" Mami panik doong, 'kan dia tanggung jawab Mami Lin.


"Itu, aku mau nyari uang yang banyak Mi, aku mau hidup bebas, dan hidup di luaran sana dengan usaha kecil-kecilan," ucap Maura akhirnya jujur.


"Hidup kamu di sini udah di jamin sama Aufan, kamu nggak boleh ngelayanin orang lain, kamu masih dapat gajih cukup di sini 'kan?" bujuk Mami Lin.


"Tapi aku ingin menebus diriku dari bandit V Tu!" ucapnya lagi.


"Bandit V? Apaan itu?"tanya Ummi bingung.


"Ya itu tu, yang Aufan ke mari klo dia butuh penyaluran," ucap Maura lagi.


"Aaah, kamu ini berpribahasa semaunya sendiri," ucap Mami kemudian, sambil menepuk pundak Maura.


"Aku lapar, mau makan," ucap Maura berdiri.


"Ingat! Kamu jangan bersikap bodoh lagi, apa kamu nggak bisa bujuk Tuan Tajir itu untuk menikahi kamu heh? Siapa tau dia mau, walau hanya istri simpanan," ucap Mami Lin.


"Mana mau orang se kaya itu sama aku Mi, Dia hanya bermain main saja kok," ucap Maura lagi.


Maura dan Mami pun mengakhiri perbincangan, Maura menuju dapur dengan membawa mie untuk di makan.

__ADS_1


***


"Aaaaaah, menyebalkan, Aman!" teriak Aufan memanggil Asestennya.


"Ada apa Bos?" Aman datang tergopoh-gopoh mendatangi Bos Casanovanya.


"Bawa aku ke suatu tempat," ucap Aufan.


"Iya Bos," jawabnya.


"Bagaimana kabar istri dan anakmu heh?" tanyanya basa basi.


"Alhamdulillah baik Bos."


Mereka pun pergi ke suatu tempat yang terlihat sepi, seperti pemakaman umum gitu.


Aufan tampak duduk dan mengadu.


"Ibu... Andai kau masih ada, mungkin aku tidak akan menjadi seperti ini, egois, pasti didikan mu sangat lebih baik di banding wanita yang ada di rumah itu," ucapnya.


Apakah Aufan punya dua Mama?


20 tahun silam


"Ibu... Hiks hiks..." Aufan terjatuh dan berdarah.


"Kenapa sayang? Kamu jatuh? Sini ibu obatin," Rum pun memberi obat merah di luka Aufan.


"Aduh, sakit Bu," Aufan meringis.


Rum adalah pembantu di rumah keluarga Anggara sejak Aufan belum lahir dan Rum saat itu masih gadis.


"Bu, kenapa perut ibu besar? Apa ada adik bayi di sana?" tanya Aufan yang masih berusia 5 tahun saat itu, Aufan sudah menganggap Bibi Rum adalah ibunya sendiri.


"Eh, Mmm, tidak Fan... Bibi cuma kembung, nah ini sudah beres ya, sudah nggak ada darah," ucap Bibi.


Aufan pun berdiri dan memeluk Bini Rum.


"Aufan! Masuk!"


Ketika bentakan itu membuat Aufan kaget dan segera berlari mendatangi ayahnya yang berdiri di depan pintu rumah.


"Rum... Ingat! saat anak itu lahir, kau harus pergi dari rumah ini, dan jangan pernah meninggalkan jejak...."


"Iya Tuan,"


Tuan besar itu pun masuk ke dalam, sementara Aufan hanya melihat dari kejauhan Ibu asuhnya sedang kena marah.


***


"Bos, ayo pulang! Ini tampak mendung," ajak Aman.

__ADS_1


Aufan pun kaget dan terhenti mengingat kenangan masa lalunya.


Mereka pun berjalan meninggalkan pemakaman itu. Di dalam mobil.


"Aman, apakah kalau perut wanita itu besar, berarti Dia sedang hamil?" tanya Aufan tiba tiba.


"Kenapa Bos tanya itu?" Aman heran.


"Istrimu 'kan pernah hamil, jadi kau tentu tau 'kan?" sahutnya.


"Nggak selalu begitu siiih, ada juga yang emang gendut perutnya kayak Author kita nih, kebanyakan lemak, terlalu banyak makan bakso dan makanan yang berkuah😃," ucap Aman.


"Masa? Jangan suka nyinyirin Author, entar Loe di tendang jadi pemeran di sini," balas Aufan.


"Hi hi cuma becanda, Author lagi gabut,"


Tak terasa mereka sampai di rumah mewahnya Aufan. Aufan lun masuk tanpa mengucap salam, karena emang di rumah itu nggak ada tata kramanya.


"Aufan, kau sudah datang?" tanya seorang lelaki yang terlihat masih gagah.


"Hai, paman Angga? Lama tak ke mari, Paman ke mana saja?" tanya Aufan seraya mendekati adik papanya itu.


"Jalan-jalan biasa," sahutnya.


"Ellleh, pasti jiwa Casanova nya itu yang membuatnya berjalan jalan keliling dunia, untuk menikmati setiap wanita yang ada di belahan bumi ini," ucap mama Aufan.


"Ah Kak ipar bisa aja, kalau lagi banyak duit sesekali 'kan boleh keliling dunia," ucapnya.


"Sekalian belah duren, entah berapa anak yang telah kau dapat, dan kau buang sia sia, dan suatu saat anakmu yang satu dengan anakmu yang satu saling menikah satu sama lainnya, tanpa mereka tau siapa Bapaknya," ucap Mama Aufan lagi.


"Nggak mungkin Kak, nggak ada yang hamil kok, saat ku tinggalkan, kecuali si Rum, tapi sayang Dia telah meninggal, dan anaknya pun aku tak tau ke mana,l?" ucapnya terlihat sedih.


"Apa, ibu Rum punya bayi? Berarti benar saat itu Dia sedang hamil heh?" tanya Aufan penasaran.


"Kamu masih sangat kecil, mana kamu paham sih Fan," ucap Angga.


"Aku pernah lihat saat itu, perut Ibu Fum besar, terus aku tanya, perut Ibu kenapa besar, katanya kembung, saat itu ya aku diam aja?"


"Ngapain sih bahas orang yang sudah meninggal, Fan, besok urus perusahaan yang ada di luar kota ya, aku kurang enak badan," ucsap sang Papa yang baru datang.


"Kok aku Pa? Aku ,kan nggak bisa urus perusahaan besar, aku juga nggak bisa ngomong banyak," ucap Aufan.


"Rayu wanita aja kamu bisa, nanti kamu telepon aku kalau tidak paham," ucapnya lagi.


Aufsn pun dengan wajah cemberut meninggalkan ruangan itu.


Bruk


Menutup kamar dengan kakinya.


"Ibu punya anak? Tapi di mana anaknya?"

__ADS_1


Pertanyaan besar kini sedang menyelimuti kepala Aufan.


BERSAMBUNG...


__ADS_2