Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Merasa Jijik


__ADS_3

Pak Irlangga tampak sudah berada di rumahnya sendiri, dia pun segera menuju kamar Maura.


Ceklek


Pak Irlangga memasuki kamar Maura, namun kamar itu sudah terlihat bersih dari noda merah atau apapun.


"Ternyata Bibi sangat cepat dalam bekerja, begitu juga Alin, aku akan memberi mereka hadiah," ucap Irlangga, karena merasa sangat berterima kasih.


Pak Irlangga pun kemudian mendatangi dapur, dapur yang sudah rusak amburadul gosong Itu tampak jelek terlihat, kemudian dia pun menelpon para tukang untuk memperbaiki dapurnya, setelah urusan dapurnya selesai, Pa Irlangga pun mendatangi kamar Vena.


Saat Pak Irlangga berdiri di depan kamar Vena, dan ingin mengetuk pintu, ternyata pak Irlangga dikejutkan oleh suara Vena yang terdengar sedang menelpon seseorang. Seseorang yang membuat telinga Pak Irlangga merasa jijik mendengarnya.


"Sayang ..., sabar ya, hari ini mungkin aku tidak bisa ketemu sama kamu, karena aku lagi sibuk, dapur kami juga baru kebakaran, dan sekarang mertua aku sedang di rumah sakit karena luka bakar, nanti kalau semua ini sudah selesai, aku pasti menemui kamu lagi," ucap Vena.


(...) suara di sebrang telepon tidak,terdengar.


"Iya sayang ..., pasti kita akan ke Villa itu lagi, tapi mungkin nanti kita berdua saja, tidak usah ajak-ajak mereka," ucap Vena lagi. Karena suara di sebrang sana tidak terdengar.


Rupanya Vena sedang berteleponan dengan lelaki yang waktu itu bersama teman-temannya, lelaki yang dibawakan oleh temannya itulah yang sekarang menelepon Vena.


Pak Irlangga pun mengurungkan niatnya untuk menemui Vena, rasanya Dia sangat mual karena membayangkan Vena saat itu, tidur dengan lelaki di,Villa.


Pak Irlangga pun kembali menuruni anak tangga dan mencari bibi. Karena kamar Bibi di dapur yang sedang gosong, terpaksa memanggilnya dari luar saja.


"Bibi ..., apa kau di dalam?" teriak Pa Irlangga.


Tak berapa lama, pintu Bibi yang juga gosong pun dibuka. Bibi berjalan pelan melewati dapur yang penuh oleh reruntuhan.


"Ya Tuan ..., Ada apa Tuan? Tuan sudah pulang?" tanya Bibi.


"Iya, terima kasih, kau sudah merapikan kamar Maura, Apa kau juga sudah mengatakan pada Paman satpam, bahwa kita akan menyusun rencana dan tidak boleh ada yang tahu, kalau Maura sekarang ada di rumah sakit," ucap Irlangga.


"Iya Tuan," sahutnya.


"Sekarang, tolong rapikan baju-baju Maura, Aku ingin Maura terlihat seperti kabur dari rumah ini. Aku ingin menyembunyikan Maura jauh dari rumah ini, ingat! hanya kau, aku, Alin dan juga paman satpam yang mengetahui semua ini, maupun istriku! aku tidak akan memberitahunya. Karena sekarang Aku sudah tidak percaya dengan orang-orang di rumah ini, kecuali kalian, Ingat! kalian aku gaji besar untuk merahasiakan semua ini."


"Iya Tuan," sahut Bibi


"Cepat Bi, rapikan baju Maura! Tidak usah di bawa semua, cukup satu ransel kecil, agar tidak di curigai."


"Baik Tuan Bos, saya mengerti, baiklah saya akan segera ke kamar Maura, dan menyiapkan pakaian yang Tuan maksud," ucapnya.


Bibi pun segera masuk ke kamar Maura. Bibi memasukkan baju Maura beberapa lembar ke dalam tas kecil. dan menyerahkannya pada Irlangga.


Merska menyusun siasat, agar ini benar benar seperti Maura sedang melarikan diri dari rumah itu.

__ADS_1


"Bibi, ingat! tidak ada yang boleh tahu! aku akan memindahkan Maura dari rumah sakit itu dan membawanya ke rumah sakit yang lebih jauh, di sana setelah Maura sehat, Aku akan menyembunyikannya di suatu tempat, sampai Maura melahirkan," ucap Irlangga


"Baik Tuan, Percayalah, saya akan menyembunyikan rahasia besar ini, karena saya sungguh kasihan sama Nona Maura, dia selalu ditekan oleh Nona Vena dan juga Tuan Aufan."


"Terima kasih, Bi, kalau begitu, cepatlah!"


Akhirnya Bibi pun menyelesaikan merapikan pakaian Maura Kemudian menyerahkannya pada Irlangga


Dengan tergesa-gesa Irlangga pun meninggalkan rumahnya, kemudian menelpon Alin.


"Helllo Alin, Aku ingin kau menyelesaikan administrasi, dan membawa Maura pergi dari rumah sakit itu, Aku tidak ingin Aufan tahu kalau Maura ada di situ," titah Irlangga.


"Baik Tuan, segera laksanakan," sahut Alin.


Pak Irlangga pun menutup teleponnya. Dan kembali menghubungi nomor lain.


"Sekarang aku harus menelpon Aman, Aman harus menyuruh orang untuk mengawasi Villa itu," gumamnya.


"Hello, Aman, tolong kau perintahkan anak buah mu mengawasi Villa, karena sepertinya Vena akan ke sana!" titahnya.


"Baik Bos," sahut Aman.


"Oke, sekarang aku ada urusan," ucap Irlangga seraya menutup telepon.


Irlangga pun Kembali menuju rumah sakit yang lebih jauh dari tempat itu, kemudian memesan kamar VIP untuk Maura.


"Alin? kau juga di sini?" sapa Aufan.


Dor


Alin pun kaget, saat tiba-tiba Aufan berada di belakangnya, dia tidak bisa mengelak dan terpaksa berpura pura.


"Aufan? Kebetulan sekali, aku sedang mencari,mu, katanya Mami ada di rumah sakit ini, aku mau menjenguknya," ucap Alin.


Untung saja Alin bisa menebak, karena tadi Pa Irlangga bilang Mami ada di rumah sakit.


"Kebetulan sekali kau di sini, aku mau keluar sebentar, tolong jaga Mami," titah Aufan.


Kemudian Aufan pun mengatakan kamar Mami dan Alin pun mau tidak mau, dengan sangat terpaksa, dia pun mendatangi kamar Mami.


"Alin ..., Alin..., kau ke mana Alin saat dapur itu kebakaran? kau sedang di mana? Lihat aku! Aku terbakar," ucsp Mami pelan.


"Aku minta maaf Nyonya, aku sedang di luar, karena sedang mencari buah-buahan untuk Nona Maura, dan sekarang baru sempat menjenguk," sahutnya.


"Alin ..., Lihatlah wajahku ini, aku sekarang cacat Alin, aku takut Pak Irlangga akan meninggalkanku," ucapnya lagi.

__ADS_1


"Nyonya besar, jangan berpikiran seperti itu, Tuan Bos itu sangat baik, tidak mungkin dia meninggalkan Nyonya, hanya karena wajah Nyonya yang cacat. Lagian zaman sekarang kan zaman yang serba canggih, pasti semuanya cepat diselesaikan dan kembali seperti semula. Pak Irlangga itu sangat kaya, uangnya pun sangat banyak, jadi sangat mudah untuknya memberikan Nyonya besar uang untuk operasi ke Luar Negeri," bujuk Alin.


Tak berapa lama, telepon Alin berdering kembali, ternyata dari Tuan Irlangga.


"Maaf Nyonya, Aku harus menerima telepon sebentar," ucap Alin, dia pun kelua.


"Tuan, Ada apa?" sapa Alin.


"Bagaimana denganmu? kau sekarang ada di mana?" tanya Irlangga.


"Maaf tuan, aku akan terlambat untuk memindahkan Nona Maura. Karena sekarang Aku terjebak di kamar Mami."


"Hah? Kenapa kau di sana?" kaget Irlangga.


"Aku tak sengaja bertdmu Aufan tadi saat di administrasi."


"Baiklah, aku akan menelpon Mami, agar membiarkanmu pergi, berikan teleponnya."


Alin pun masuk keruanhan.


"Nyonya, Tuan mau bicara.


" Ada apa Pa?"


"Ami, sekarang di rumah sedang gawat, Maura tidak ada di rumah, aku memerlukan Alin untuk mencarinya," ucap Irlangga.


"Apa? Maura tidak ada di rumah? ke mana dia pergi? dia itu sudah diberi kehidupan yang nyaman, kenapa dia harus pergi?" tanya Mami.


"Aku juga tidak tahu, sekarang Aku ingin Alin pulang ke rumah, sebentar lagi Aman pasti sampai ke sana," titah Irlangga.


"Apa kau sangat mementingkan Maura? dari pada istrimu ini, aku takut sendirian," ucap Mami.


"Sebentar lagi Aman juga datang kok, lagian di sana kan juga banyak orang, masa kamu takut?"


"Iya baiklah," sahut Mami.


Irlangga pun menutup teleponnya, sementara Alin, karena Pak Irlangga yang menyuruhnya pergi, terpaksa Alin pun meninggalkan kamar Ani malam itu juga.


Akhirnya Alin berhasil memindahkan Maura dari rumah sakit tersebut, ke rumah sakit yang jauh dari rumah sakit sebelumnya.


Kasih Vote


Bunga


Dan komen ya🥰

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2