Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Terharu Kaget


__ADS_3

Pa Irlangga menatap Dito yang terus menatap Agung tajam. Sementara Agung tampak menunduk dan sesekali menatap ke arah lain tanpa membalas tatapan Dito.


"Hey, Dito! Kenapa kau melamun?" Panggil Irlangga, saat melihat adiknya itu melamun sambil menatap wajah Agung.


Sangat tampak, kalau Agung tidak berani membalas tatapan Dito. Agung terus menunduk. sama sekali tidak berani menatap Dito.


"Iya Mas, sepertinya aku mengenal lelaki ini," ucap Dito.


"Di mana kau mengenalnya?" tanya Irlangga.


"Saat itu, dia masuk ke kamar kakak ipar, saat kakak ipar melahirkan, namun aku tidak tahu apa yang dia lakukan, aku hanya melihat ada sesuatu di tangannya, lalu dia keluar dari kamar itu dengan tergesak gesak," ucap Dito.


"Benarkah? Apakah kau kenal adikku?" tanya Irlangga pada Agung.


"Maaf Tuan ..., tapi aku belum pernah bertemu dengannya sebelum ini, mungkin aku mirip dengan seseorang," ucapnya.


"Benarkah? tapi aku sangat familiar dengan wajahmu ini, aku bahkan masih ingat wajahmu saat itu, saat wajahmu sama seperti saat ini, terlihat pucat," ucap Dito lagi.


Mami yang masih di teras pin mendekat, dan ikut mendengar apa yang di katakan Dito.


"Maat To, mungkin kau salah orang, dia sudah sangat lama di luar Negeri, tidak mungkin kau pernah bertemu dengannya," ucap Mami.


"Iya Tuan, maaf Tuan, itu benar, aku tidak pernah bertemu dengan Anda," ucap Agung lagi.


"Dito, sudahlah. Mungkin kau salah orang, Oh ya, ayo sekarang kau ikut kami!" ajak Irlangga.


"Mau ke mana Kak?" tanya Dito.


"Menjemput Maura, membawanya ke rumah kita kembali," ucap Irlangga.


"Maura? Apakah kau sudah menemukan Maura?- tanya Dito girang.


" Bukan menemukannya, tapi aku lah yang telah menyembunyikannya dari Aufan dan Vena," ucap Irlangga lagi.


"Benarkah? Ya Tuhan ..., Baiklah, aku mau ikut, ada sesuatu yang ingin aku buktikan dengannya," ucapnya.


"Membuktikan? Membuktikan apa?" tanya Irlangga.


"Sudahlah, sekarang kita ayo berangkat saja ke sana, nanti aku akan menceritakannya," ucap Dito bersemangat.


"Kau bersemangat sekali, emangnya ada apa?" tanya Irlangga penasaran.


"Ada deeeh, Oh ya, Aufan mana?" tanya Dito.


"Ada di atas," sahut Irlangga.


Mereka pun sudah sampai di dekat mobil.


"Kak, ini anak siapa?" tanya Dito saat melihat bayi di gendongan Irlangga.


"Ini anak Maura, yang dibawa kabur oleh Aufan...."

__ADS_1


"Maura? Benarkah ini anak Maura? sini! biar aku yang gendong," ucap Dito.


"Jangan! aku takut nanti dia terjatuh," ucap Irlangga.


"Tidak mungkin, aku bisa kok menggendong bayi," Dito memaksa untuk mengambil bayi itu dari pelukan Irlangga.


Terpaksa Irlangg pun melepaskan bayi mungil itu, di gendong oleh Dito.


"Hati-hati, kalau sampai terjatuh, akan ku ulek kepalamu jadi mangsa harimau," ketus Irlangga.


"Iya..., aku pasti menjaganya, dia kan cucuku," ucap Dito.


"Tentu saja dia cucumu, karena dia adalah cucuku," ucap Irlangga.


"Bukan gitu, tapi apakah Aufan tidak memberitahumu sesuatu?" tanya Dito.


"Memberitahukan apa?" tanya Irlangga.


"Kalau sebenarnya Maura itu ..., kemungkinan adalah anakku, anak dari Winar yang dulu pernah tinggal di rumah kita, dan kau tahu kan kalau Winar dulu mengandung anakku?"


"Siapa yang mengatakannya begitu? Lelucon macam apa itu? mengapa bisa demikian? Tidak mungkin," ucap Irlangga.


"Sudahlah, sekarang kita temui saja Maura, aku akan memastikan sesuatu, karena aku punya kok tanda lahir yang pernah aku lihat, saat dia masih bayi," ucapnya.


"Baiklah, Ayo Agung! Kau yang nyetir!"


Mereka sudah masuk ke mobil, dan akhirnya Agung pun melajukan kendaraan perlahan.


Agung yang mendengar mereka berbicara berdua pun heran, "apa benar Maura adalah anak yang pernah dia buang ke panti asuhan dulu" batinnya.


Setelah perjalanan 1.5 jam. Mereka pun sudah sudah sampai di hotel yang di diami Maura. Saat mendengat ketukan, Alin segera membukakan pintu, karena Alin sudah tau kalau Irlangga Tuannya sudah dalam perjalanan ke hotel.


"Mana Maura?" tanya Dito saat pintu terbuka.


"Maaf Tuan, Nona sedang mandi," sahut Alin.


Alin pun mengambil Bayi mungil itu dari tangan Dito. Dan membawanya ke Box. Karena bayi itu kini sudah tertidur pulas.


Dito dan Irlangga pun masuk, sementara Agung di suruh untuk hanya menunggu di bawah parkiran saja.


"Lho! Ini bayi siapa?" tanya Dito juga saat melihat ada satu bayi lagi yang sedang tertidur pulas.


"Itu kembarannya Tuan, anak Nona Maura kembar," sahut Alin.


"Kembar? Cucuku kembar? Ya Tuhan, ya Tuhan...."


Dito pun mengangkat bayi mungil satunya. Dan menciuminya, hingga bayi itu terbangun dan mulai menangis.


"Maaf Tuan, apakah Tuan sudah cuci tangan? Tuan kan dari luar," ucap Alin.


"Kayak aku Virus saja," ucap Dito terdengar kesal.

__ADS_1


"Iya benar, lepaskan cucuku!" ucap Irlangga.


Irlangga lun mengambil si kembar dari tangan Dito.


"Kakak, aku hanya ingin menggendongnya sebentar," ucap Dito.


"Tapi kau baru datang dari mana tadi? Kau elim cuci tangan, Alin, tolong ganti baju mereka berdua, kalau perlu, mandikan mereka," ucap Irlangga.


"Iya Tuan..., Mona... Tolong bawa bayi ini, dan lap wajahnya dengan air hangat, juga ganti bajunya," titah Alin kepada baby sitter.


"Iya Nona," sahut Mona.


Tak berapa lama, Maura pun keluar dari kamar mandi, namun dia kaget saat melihat paman Aufan ada di sana, Maura pun kembali masuk.


"Mbak Alin, tolong ambilkan kerudungku ya!" titahnya.


"Kenapa Dia? Kayak sok alim saja," ketus Dito.


"Hey, ngomong apa kau Dito?" ketus Irlangga yang tak suka dengan ucapan Dito.


"Kenapa Maura masuk lagi? Emangnya aku orang asing?" tanya Dito.


"Jangan mengganggunya, jangan mengomentari gaya berpakaiannya sekarang, kau diam! atau kau ku usir dari kamar ini," ketus Irlangga lagi.


"Ih kenapa kau sekarang sangat sensitif begitu dengan menantu mu? Kau tidak sedang ehem...," ucap Dito.


"Jangan asal kalau bicara! dia adalah ibu dari ahli waris perusahaan ku, tau!" sahut Irlangga.


"Pah, syukurlah, si kembar bisa di bawa ke mari lagi. Tadi Rayyan sangat rewel, mungkin karena merasa jauh dari kembarannya. Ini dia baru saja tidur , barulah aku bisa mandi," ucap Maura.


"Maura, aku ingin menanyakan sesuatu," ucap Dito.


Bruk


Tiba-tiba pintu di dorong kuat, hingga menimbulkan suara benturan belakang pintu ke dinding kamar.


"Aufan?" lirih Maura seketika khawatir saat melihat laki itu kembali datang.


Maura pun mengambil Rayyan dan Menyerahkannya pada Alin, lalu dia mengambil Raihan dalam gendongannya.


"Mau apa kau ke mari?" tanya Irlangga marah.


"Maura, apa ini milikmu?"


Aufan memperlihatkan sebuah liontin yang pagi yadi dia lupa memperlihatkan nya pada Maura.


"Iya, mungkin itu milikku yang hilang di kamar tamu, dari mana kau mendapatkannya?" tanya Maura.


Aufan terpana, air matanya kini jatuh di pipinya. Tubuhnya bergetar hebat menahan haru yang luar biasa. Sementara Irlangga hanya diam dan tak mengerti.


Brug

__ADS_1


Tiba-tiba, Dito dan Aufan berdiri dan memeluk erat Maura bersamaan.


Bersambung...


__ADS_2