
Aman tergesa-gesek menuju rumah sakit untuk menjemput Maura dan Aufan, sementara Aufan membantu Maura membereskan barang di rumah sakit dan membayar administrasi Maura.
Maura terlihat sudah membaik, demamnya juga sudah turun tiba-tiba ...
"Assalamualaikum."
Ternyata Ibrahim yang datang.
"Tuan Ibrahim?" siapa Maura.
"Maaf Maura... aku baru bisa menjenguk mu sekarang," ucap Ibrahim.
Sementara Aufan tampak menatap wajah lelaki itu dengan tatapan sangat tajam.
"Tidak apa-apa Tuan, aku sudah sehat kok," ucap Maura.
"Maura... Ayo pergi!" ajak Aufan terlihat tidak suka dengan kedatangan Ibrahim.
"Sebentar tuan," ucap Maura pada Aufan.
Aufan pun menatap wajah Maura, terlihat wajahnya kini sangat dingin dan kecut untuk di pandang, sepertinya, dia tidak suka di panggil Tuan.
"Eh kenapa kau memanggilku Tuan? aku ini calon suamimu tahu!" ucap Aufan sengaja seperti memanas-manasi Ibrahim.
"Maura... benarkah dia calon suamimu?" tanya Ibrahim pada Maura.
"Ti...."
"Tentu saja... aku calon suaminya, bayi yang dia kandung itu adalah bayiku, jadi sudah jelas dong aku ini calon suaminya," ucap Aufan memotong pembicaraan Maura.
Maura pun menatap Aufan sambil mendelik, namun Aufan tidak menghiraukannya.
"Maaf Tuan, kami akan pulang, terima kasih Tuan telah menjenguk Maura kemari," lanjut Aufan.
"Oh baiklah," sahut singkat Ibrahim.
"Oh iya, Tuan ini siapa?" tanya Aufan.
"Dia adalah bosku, aku bekerja di toko bunga milik Tuan Ibrahim," sahut Maura merasa tidak enak dengan Ibrahim yang di acuhkan Aufan.
Sementara Ibrahim hanya terdiam. Ada sisi hatinya yang terasa sakit, kini wanita yang selama ini dikaguminya telah bertemu dengan ayah dari bayi yang dia kandung.
"Oh... jadi Anda bosnya Maura? kalau begitu aku ucapkan terima kasih banyak, Tuan, karena kau telah menampung calon istriku beberapa minggu ini, dia ini memang bandel, suka menghilang-hilang, aku sudah mencarinya ke sana kemari, namun aku tidak menemukannya, sekali lagi terima kasih banyak," ucap Aifan.
"Jadi Maura kau akan ke mana sekarang?" tanya Ibrahim.
"Dia akan ikut denganku? kami akan segera menikah," ucap Aufan lagi. Aufan tidak membiarkan Maura untuk menjawab pertanyaan Ibrahim.
"Baiklah Maura, nanti tolong hubungi aku ya! mungkin aku akan berkunjung bersama Mira, atau pun teman-teman yang lainnya," ucap Ibrahim.
"Tidak usah Tuan, karena kami akan pergi jauh, dia tidak akan bisa bertemu kalian lagi, terima kasih atas perhatian kalian selama ini, Ayo Maira!" ajak Aufan twrgwsak gesak.
Aufan pun menggandeng tangan Maura dan membawanya berjalan menuju pintu.
"Maura, tunggu! Ucap Ibrahim lagi.
__ADS_1
"Kenapa kau meninggalkan dia? itu adalah bosku," gwrutu Maura pelan.
"Tapi kau calon istriku, Ayo!" ucap Aufan lagi.
"Calon istri, istri dari Hongkong?" gerutu Maura.
"Baiklah Maura, untuk gaji bulan ini, aku akan mentransfernya ke rekening mu Nanti kau kasih tahu nomor rekening mu ya!" ucap Ibrahim.
"Oh, tidak usah Tuan, tidak usah, semua keperluan Maura akan aku cukupi, jadi gaji yang kemarin itu kasihkan saja kepada teman-teman Maura. Atau orang lain sebagai tanda perpisahan, salam Maura kepada mereka," sahut Aufan.
"Apaan sih?" merasa kesal karena selalu di sahut oleh Aufan.
"Oh baiklah, kalau begitu sini biar aku bawakan tasnya," ucap Ibrahim pada Maura yang sedang memegang tas kecilnya.
"Oh tidak usah Tuan, Biar aku saja," lagi-lagi Aufan mendahului, kemudian Aufan pun mengambil tas kecil itu dan memasangnya di bahunya.
"Laki-laki aneh," gerutu Maura sangat pelan.
Kemudian Maura dan Aufn pun berjalan diiringi oleh Ibrahim.
"Maura, ternyata kau sudah menemukan lelaki itu, mungkin harapanku akan sia-sia, karena semua ini akan aku kubur seperti mimpi," lirih Ibrahim.
Maura dan Ibrahim pun berpisah Di halaman parkir. Maura dan Aufan telah dijemput oleh Aman.
"Bos kok kembali? Kapan kau kembali?" tanya Aman heran.
Setahu dia Aufan sedang di Jepang baru kemarin sore.
"Tadi malam aku kembali ke mari," jawabnya singkat.
"Aku cape, ayo berangkat nyetir saja yang benar," ketus Aufan.
Aufan tidak ingin Aman membicarakan masalah Vena di hadapan Maura, karena Aufan ingin menjaga perasaan Maura.
Aufan dan Maura masuk ke dalam mobil. diiringi Aman. Sementara Aman menyetir di depan.
"Kita mau ke mana Tuan Bos?" tanya Aman.
"Kita ke Apartemen 17," ucap Aufan.
"Ke sana? terus bagaimana dengan Mami," tanya Aufan.
"Mami jangan sampai tahu, pokoknya Apartemen itu hanya untuk Maura dan aku yang tahu, cuma kita bertiga," ucap Aufan.
"Baiklah Tuan Bos," sahut Aman.
Mereka pun meluncur menuju apartemen. Setelah beberapa waktu, akhirnya mereka pun sampai ke apartemen yang dimaksud Aufan.
"Aman, Tolong Kau bawa tas ini ke atas!" ucap Aufan sambil menyerahkan tasM aura pada Aman.
"Baik bos," ucap Aman.
Sementara Aufan tampak menggandeng Maura.
"Aku bisa jalan sendiri kok," ketus Maura.
__ADS_1
Namun Aufan tidak mau menggobresnya. Dia terus merangkul Maura dan berjalan menuju lift, di dalam lift, Maura pun menepis tangan Aufan karena di dalam tampak sapi, Aufan pun mengalah.
"Kamu kenapa sih Ra? aku kan cuma ingin menjagamu," ucap Aufan terdengar kesal.
"Aku sudah sehat kok, aku bisa jalan sendiri," sahut Maura.
"Baiklah," Aufan mengalah.
Setelah itu tak berapa lama, mereka pun sampai di atas. Aman membukakan pintu, Aufan masuk begitu juga Maura.
" Wah mewah sekali ruangan ini," lirih hati Maura.
Kemudian Maura duduk di atas kasur yang lumayan tertata rapi, karena Aufan sering menyendiri di sini.
"Kau akan diam di sini sampai kau melahirkan! Aku akan mengirimkan pembantu untukmu, dia akan datang kalau siang, namun dia akan pulang ketika malam hari, kamu berani kan tidur sendiri?" tanya Aufan.
"Nos, apa nggak kebalik?" tanya Aman.
"Iya Tuan, aku itu butuh teman malam, bukan teman siang, kalau siang aku bisa sendiri kok," sahut Maura.
"Bagaimana kalau aku yang menemani di malam hari," ucap aufan sambil tersenyum licik.
"Bagaimana dengan istrimu, Vena?" tanya Maura.
Aufan terdiam.
"Sudahlah, nanti kita bicarakan lagi. Sekarang kamu istirahat, Aku akan belanja dengan Aman, untuk membeli berbagai macam makanan yang akan kamu makan, selama di sini," ucap Aufan.
"Aku bisa belanja sendiri kok. Lagian belum tentu kalian tahu apa yang aku inginkan," ucap Maura.
"Kamu kan baru saja sakit, jadi untuk beberapa hari ini, kamu hanya boleh tinggal di sini," ucap Aufan.
"Sudah kubilang, aku sudah sehat kok," ucap Maura bandel.
"Baiklah, aku ada urusan. Jadi kau akan ditemeni Aman untuk belanja," ucap Aufan
Kemudian Aufan pun mendekat dan mengelus perut datar Maura.
"Sayang kamu baik-baik ya di sana," ucap Aufan tulus, Aufan juga mengelus kepala Maura.
Wajah Maura terlihat cemberut, namun tidak melawan Aufan saat membelai dirinya.
Aufan pun berjalan keluar diikuti Aman.
"Kau pasti akan ke Jepang lagi kan?"tanya Maura.
Aufan kaget dengan pertanyaan Maura. Dia terhenti sejenak, kemudian berbalik menatap Maura.
"Aku ingin kau tidak memikirkan masalah itu! Dan... tidak... aku tidak akan ke sana, aku sedikit ada pekerjaan, aku sudah mengutus seseorang untuk menjemput Dia di Jepang," ucap Aufan.
Entah mengapa Maura merasa lega saat mendengar jawaban Aufan. Aufan dan aman menutup pintu. Maura pun tersenyum bahagia.
Mengapa dia tersenyum? mungkin karena Aufan tidak ke Jepang menemui Vena. Ada getar getar cinta yang mulai terasa di lubuk hati Maura.
Beraambung.
__ADS_1